Menggoda Syaithan

“Sesungguhnya syaithan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh…” (QS Faathir: 6)

“Wahai Guru”, adu seorang murid pada Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali, “Bukankah syaithan akan terusir jika kita berdzikir?”

“Betul Anakku”, jawab Sang Imam.

“Lalu ada apa denganku ini? Aku telah mencoba untuk banyak berdzikir, tapi si terkutuk itu rasanya terus datang dan datang lagi, menggangguku dengan berbagai was-was yang akrab sekali.”

Sang Guru tersenyum.

“Bagaimana pendapatmu Anakku”, ujar beliau, “Tentang seorang yang berulang kali menghalau anjing buduk dari tempatnya duduk, tapi di situ dia selalu menyanding tulang, jeroan, dan daging yang amat disukai si anjing?”

“Pasti anjing itu selalu kembali”, si murid menanggapi, “Meski diusir berulang kali. Karena di sisi orang itu, masih tersaji hal yang mengundang minatnya.”

“Begitu pula dzikir kita”, urai Imam Al Ghazali, “Adalah hal yang ditakuti syaithan. Ia lari terbirit tiap kali lisan dan hati melantunkan wirid. Tapi ia akan selalu kembali selama di dalam dada ini kita menyuguhkan hal-hal yang menjadi kegemarannya.”

“Apakah itu Guru?”

“Penyakit hati. Seperti sombong, tamak, dan dengki.”

Maknanya, jangan-jangan bukan syaithan yang tak ingin pergi, melainkan kita yang selalu merayunya agar kembali. Ia terpesona oleh takabbur kita, dan tergoda untuk membesarkannya. Ia terpesona oleh kerakusan kita, dan tergoda untuk meraksasakannya. Ia terpesona oleh hasad kita, dan tergoda untuk meledakkannya.

Maka sungguh kita amat perlu menyucikan jiwa dari kotoran-kotorannya, agar syaithan tak berminat untuk datang kembali di saat kita mengusirnya. Dan lebih dari itu, kita menghajatkan bersihnya hati untuk kemesraan yang paling berharga.

Hati ini adalah yang senantiasa akan dilihat oleh Rabb kita ‘Azza wa Jalla. Jika wajah yang ditatap sesama manusia amat kita perhatikan kecerahannya, kehalusannya, dan kesegarannya, lalu kita rawat dengan pelembab hingga perona; maka hati yang ditatap Pencipta, Raja, dan Sesembahan manusia memerlukan perhatian lebih dalam penjelitaannya.

Benarlah Imam Hasan Al Bashri ketika menyatakan:

داوِ قلبك فإن حاجة الله إلى العباد صلاح قلوبهم

Obati hatimu dari penyakit-penyakitnya. Sungguh hajat Allah kepada hamba-hambaNya adalah kesentausaan hati mereka.

Via gurunda Salim A. Fillah

Note: Sudah sebegitunya kita berdzikir, masih saja mampu mengundang Syaithan, apatah lagi bila tak sedikitpun bibir kita berdzikir.

Menutup Aib

Hal yang sekarang ini, semakin sering ditinggalkan.

Dalam sebuah acara di masjid Sunda Kelapa, Ustadz Salim bercerita tentang Nabi Yusuf a.s….
Di tengah-tengah cerita, beliau bertanya kepada jama’ah, “Siapa nama perempuan yang menggoda Nabi Yusuf..?”
“Zulaikha,” jawab jama’ah kompak….
“Dari mana tahunya bahwa nama perempuan itu Zulaikha? Allah tidak menyebutnya dalam Qur’an.”
Refleks jama’ah menjawab, “Dari hadits.”
Hadits mendukung kisah yang ada dalam Qur’an dengan lebih detil…
“Mengapa Allah tidak menyebut nama Zulaikha dalam Qur’an?”
Semua jama’ah diam. Ustadz Salim melanjutkan penjelasannya…
“Karena perempuan ini MASIH MEMILIKI RASA MALU. Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur’an.”
Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita…
Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain ?…
Apakah benar orang itu baik atau ia tampak baik karena Allah menutup aibnya ?… 
Jika saja mau jujur, sungguh… itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Kalo kita mau jujur, dosa dan kesalahan kita amat banyak. Jauh melebihi dosa dan kesalahan kita yang diketahui orang lain. Orang lain mungkin hanya mengetahui aib kita yang terlihat atau terdengar oleh mereka.
Sadar atau tidak sadar setiap hari banyak diantara kita yang melakukan maksiat diam-diam, mencuri diam-diam, korupsi diam-diam, menggunjing diam-diam. Setiap hari banyak diantara kita yang sadar atau tidak sadar berbohong demi sesuap nasi, mengambil hak orang lain, menyakiti orang lain. Sadar atau tidak sadar kita banyak ‘mencederai’ Allah dan manusia.
Saudaraku, 
Jika saat ini kita tampak hebat dan baik di mata orang, itu hanya karena Allah ta’ala menutupi aib dan keburukan kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. Malu, semalu-malunya. Hina, sehina-hinanya. Seperti tak ada lagi tempat tersedia untuk menerima kita.
Maka janganlah merasa sombong dan mengangap diri selalu baik serta selalu membicarakan dan menggunjing keburukan dan masa lalu orang lain.
Boleh jadi orang yang dibicarakan melakukan satu dosa tapi kita melakukan dosa lain yang bahkan lebih banyak tapi tak terlihat.
Boleh jadi dosa dan kesalahan kita jauh lebih berat dari orang yang kita bicarakan, tetapi Allah tidak membuka aib kita.
Boleh jadi orang tersebut pun mulia di hadapan Allah karena menangisi akan dosa-dosa yg diperbuatnya.
Sedangkan kita menjadi hina di hadapanNya, karena bangga dengan amalan kita, yang mungkin tidak bernilai di hadapanNya.
Jadi marilah berhenti membicarakan aib dan kejelekan orang lain. Mari sibuk mengoreksi dan memperbaiki diri sendiri.
Demi Allah, setiap kita akan kembali padaNya mempertanggungjawabkan setiap hal yang kita lakukan, sekecil apapun.
Allahua’lam.

-repost

Hampir persis dengan taujih/nasihat yg disampaikan oleh guru kami, Ustadz Asep Sobari, Lc di dalam kesempatan silaturahim pasca Idul Fitri 1437H, Senin lalu (18 Juli 2016) kemarin, sangat mendalam. Jaman sekarang ini, sangat-sangat memungkinkan bagi kita – terutama muslim- untuk dengan mudah menjadi peng-ghibah/ membuka aib orang lain yang sebetulnya tidak kita kenal sebelumnya, bahkan mungkin malah baru tahu setelah informasi itu sampai kepadanya, kemudian bangga hati meneruskan info tersebut kepada yang lainnya. 

Bahkan, ikut andil dalam mempertanyakan suatu hal tentang seseorang pun sudah terlibat dalam perbuatan ghibah. 

“Si Anu katanya begini, bener gak sih?” Kalimat ini sudah memancing pembicaraan lainnya yg lebih mendalam. Meskipun keburukan dari orang laain tersebut adalah suatu kebenaran, hukumnya tetaplah sama, ghibah. Dan ghibah tetaplah berdosa. 
Masyaa Allah, saya masih banyak salah, bahkan sering khilafnya. 

Semoga tulisan ini jadi tulisan/bacaan yg mengingatkan si pemilik blog ini (saya pribadi) untuk lebih memperhatikan sikap dan perbuatan saya.

Mendudukkan yang Semestinya

Bismillah..

Begini, di tengah keramaian yang aku masih merasa sepi ini… (lah kok gini?) #abaikan

Sekarang ini (saat saya sedang menuliskan tulisan ini), sedang “ribut” soal pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sangat fenomenal memang, namun di tengah hiruk-pikuk dukungan maupun cibiran untuk Gubernur DKI yang sedang menjabat saat ini, masih banyak dari kita yang “salah” menempatkan segala sesuatu halnya. Baik yang mendukung, maupun yang tidak mendukung.

Bagi yang tidak mendukung, Gubernur DKI yg menjabat saat ini selalu saja salah, apapun yang dilakukannya. Padahal, seharusnya kita lebih fair. Bahwa prestasi Pak Gubernur selama beberapa tahun ini untuk Jakarta cukup baik. Bahwa perbaikan sistem birokrasi di dalam pemerintahan daerah Jakarta saat ini sudah semakin rapi dikarenakan ketegasan seorang Pak Gubernur, patut dihargai, apalagi jika kita bandingkan dengan kinerja pemerintahan daerah di beberapa tahun silam. Perbaikan-perbaikan dan pembangunan yang sedang berlangsung saat ini pun adalah suatu prestasi yang mungkin sulit kita temui jika bukan Pak Gubernur ini yang memimpin, ini pun membuat kita perlu berterima kasih kepada Pak Gubernur.

Sebagai seorang muslim, saya dan seharusnya pun seluruh muslim lainnya, tetap harus menghormati orang lain. Siapapun itu. Orang lain berhak untuk kita hargai dan kita hormati. Dan sebaiknya, bagi kita yang tidak mendukung Pak Gubernur saat ini, janganlah sampai mengeluarkan umpatan atau hinaan yang dengan begitu, kita malah mempertontonkan kehinaan kita sendiri.

Bagaimana dengan kelompok yang mendukung Pak Gubernur?

Mari kita dudukkan lagi. Melihat/menilai segala sesuatunya memang haruslah dengan adil. Definisi adil sendiri adalah meletakkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya. Sedangkan lawan kata adil adalah dzalim. Definisi dzalim adalah meletakkan segala sesuatu tidak sesuai pada tempatnya.

Bagi kita yang mendukung Pak Gubernur, janganlah sampai sombong hati, jumawa dan merasa bangga diri. Setiap kita, pasti, ya, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kalau kata orang-orang, No Body is Perfect. Bahwa banyak hal-hal/perilaku yang tidak patut dicontohkan oleh seorang pemimpin ada pada diri Pak Gubernur, terimalah itu sebagai kekurangan, dan sebagai pendukung beliau, hal terbaik yang paling bisa dilakukan adalah mengingatkan Pak Gubernur untuk tidak memperlihatkan perilaku seperti itu lagi, terlebih di depan umum, syukur-syukur bisa memperbaikinya. Bahwa Pak Gubernur yang saat ini mempunyai kekuasaan berusaha untuk membuatkan lokalisasi untuk para pelacur, bukan malah berusaha untuk memfasilitasi para pelacur untuk bisa hidup “normal” lagi, ini adalah sebuah kemerosotan moral. Bahwa Pak Gubernur ingin melegalkan Minuman Keras, yang dengan tadinya tidak legal saja masih bebas meracuni anak-anak bangsa, apalagi jika dilegalkan dan ini sangat meresahkan kehidupan masyarakat, ini adalah sebuah penyesatan. Bahwa Pak Gubernur tidak melarang perilaku Lesbian dan Gay yang jika dibiarkan, bisa menghancurkan peradaban dunia dan ini adalah sebuah kesesatan pula. Alih-alih melindungi hak asasi para perilaku Lesbian dan Gay, namun hak-hak kehidupan masyarakat Normal malah tidak dilindungi (terabaikan). Mohon, terimalah kekurangannya. Norma-norma masyarakat di Indonesia jangan lagi ditawar-tawar.

Jika mungkin, dari beberapa hal yang saya sebutkan di atas masih ingin sekali dibela. Silakan. Namun mohon tanyakan pada hati kita yang paling dalam, apakah tindakan tersebut sepenuhnya kita dukung dan benar-benar akan mendatangkan kebermanfaatan untuk masyarakat luas? Di sini lah sisi adil dan dzalim diri kita dipertanyakan. Sudahkah kita bersikap adil? Adil bagi seluruh pihak. Ataukah kita sudah berbuat dzalim, dengan mengesampingkan norma-norma masyarakat, terutama norma-norma agama.

Sampai pada pertengahan tulisan ini, rasanya sulit bagi saya untuk tidak menyertakan unsur pandangan Islam atas apa-apa yang saya sebutkan di atas. Baik bagi kelompok yang tidak mendukung Gubernur DKI, maupun bagi kelompok yang mendukung Gubernur DKI.

Sebagai seorang Muslim, saya dituntun untuk menjalankan kehidupan di dunia ini sesuai dengan pedoman hidup saya, yaitu Al-Quran dan Hadits, untuk menuju keselamatan pada hari akhir kelak, yaitu Akhirat. Maka berdasarkan pedoman itulah saya hidup, menjalankan kehidupan. Dan saya percaya, bahwa apa-apa yang diperintahkan dalam kitab suci saya adalah sebuah kebaikan untuk kehidupan saya. Konsekuensi sebagai seorang muslim adalah saya harus menerima Islam secara keseluruhan, bukan setengah-setengah. Bukan dengan pilih-pilih ayat kitab suci sesuai dengan kebutuhan dan keberpihakan atas apa yang saya lakukan. Namun, berusaha menjalankannya secara keseluruhan. Meski mungkin belum seluruhnya saya jalankan, tapi setidaknya saya tidak INGKAR atas apa-apa yang telah diperintahkan dan dilarangkan oleh Tuhan saya yang semuanya tertulis dalam kitab suci saya, Al-Quran.

Maka dari itu, sikap/pilihan saya sesuai dengan perintah Tuhan saya, Allah swt, yang ada di dalam Al-Quran, bahwa saya tidak diperbolehkan untuk memilih pemimpin selain yang seiman dengan saya. Tentunya, panjang sekali penjabarannya jika saya tuliskan di sini. Singkatnya, apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, dan apa-apa yang dilarang oleh Allah adalah pasti selalu mengandung kebaikan dan kemashlahatan. Maka sudah dapat dipastikan, sejak awal dan untuk selanjutnya pun, saya tidak akan memilih pemimpin yang tidak seiman dengan saya.

Apakah sikap saya yang sudah sangat jelas dalil dan landasannya ini merupakan suatu bentuk sikap Intoleran? atau, mereka yang tidak menghargai sikap saya inilah yang telah melakukan tindak Intoleran?
Mari kita dudukkan lagi, definisi dari Toleransi adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri (KBBI). Maka, ketika saya sedang menjalankan perintah Agama saya, apakah dengan begitu saya menjadi Intoleran? Justru yang tidak membiarkan/menghargai sikap saya inilah yang tepat untuk disebut Intoleran. Jadi, jangan terbalik-balik dalam mendudukkan suatu hal. Jangan dzalim.

Tentang berbagai “kebaikan-kebaikan” yang pernah dilakukan oleh Pak Gubernur, terutama yang berkaitan dengan Islam, saya apresiasi, namun hal-hal tersebut tak akan menggugurkan syariat Allah dalam hal memilih pemimpin (ataupun dalam hal lainnya). Sama sekali tidak mempengaruhi, karena hukum yang telah Allah tetapkan, tidak dapat diutak-atik oleh manusia sekalipun. Karena syariat Islam sudah sempurna sejak awalnya.

Ngomong-ngomong, ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya beberapa waktu lalu saat saya menanggapi status seorang teman. Tentang “Pemimpin”, mari kita samakan persepsi bahwa jabatan Gubernur DKI merupakan jabatan Pemimpin. Pemimpin tidak hanya berarti Presiden. Bahkan dalam lingkup kecil seperti keluarga pun, pasti ada pemimpin. Di dalam kelas, di sekolah, di kantor dan kelompok lainnya, pasti selalu ada pemimpin. Bahkan dalam Islam, diri kita sendiri pun adalah seorang pemimpin, pemimpin bagi diri kita sendiri. Jadi, jangan pura-pura bodoh demi melindungi “seseorang” dari pengkategorian “pemimpin” untuk tetap bisa dijadikan alternatif dalam proses pemilihan pemimpin daerah kelak. Ini namanya sikap “ngeles”  dari ayat-ayat suci al-Quran. Sekali lagi, jangan naive, jangan pura-pura tidak paham.

Akhirnya, sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Gubernur (saat ini), dengan kerelaan hati dan ketaatan penuh terhadap perintah Agama saya, saya tidak akan memilih Pak Gubernur untuk menjabat lagi sebagai Gubernur (dan memang sejak awal-pun tidak saya pilih). Meski saya belum tahu pasti siapa pilihannya nanti, yang pasti pilihan saya sesuai dengan tutunan agama saya. Saya berharap, calon-calonnya kelak adalah mereka yang TAKUT kepada Allah. Dengan begitu, mereka mampu menjadi pemimpin yang amanah.

Jadi, bahwa Pak Gubernur saat ini telah banyak memperbaiki birokrasi dan melakukan pembangunan di beberapa titik patut kita apresiasi. Bahwa Pak Gubernur orang yang tegas, ini adalah benar dan saya suka sikap itu. Namun di lain hal, kenyataannya bahwa Pak Gubernur adalah orang yang mudah mengeluarkan kata-kata kotor, inipun benar dan saya tidak suka. Bahwa Pak Gubernur lebih mementingkan ayat-ayat konstitusi dibandingkan ayat-ayat suci, inipun banyak yang menentang. Bahwa Pak Gubernur ingin melegalkan Minuman Keras, Melokalisasi Pelacur dan Membiarkan Perilaku Lesbi dan Homo berkeliaran begitu saja di antara masyarakat, inipun benar dan tak akan pernah saya setujui. Namun saya memohon kepada Allah agar ketidaksukaan saya terhadap sikap/tindakan buruk Pak Gubernur tidak menjadikan saya berlaku tidak adil kepada Pak Gubernur. Saya berusaha berlaku adil, dan semoga kita semua (baik yang tidak mendukung ataupun yang mendukung Pak Gubernur) mampu mendudukan perkara-perkara yang telah disebutkan di atas dengan seadil-adilnya. Namun bahwa bagi muslim, ada ayat-ayat yang melarang kita untuk memilih pemimpin yang kafir pun, jangan kita ingkari. Jangan sekali-kali kita ingkari dan kita cari-cari pembenarannya.
Maka dengan ini saya mengingatkan kembali kepada saudara-i muslim agar mengikuti petunjuk Al-Quran, ikutilah fatwa ulama dan nasihat guru-guru kita sesuai dengan tuntunan Islam. Semoga kita menjadi orang-orang yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

Cukup

Kalau kita terus menerus mencari yang terbaik. Mungkin, kita tidak akan pernah selesai membanding-bandingkan. Kata guruku, segala yang baik itu adalah yang tumbuh ke arah kebaikan. Tidak ada yang benar-benar terbaik, yang ada hanyalah yang bersedia untuk terus memperbaiki dan diperbaiki.

Lalu bagaimana kita bisa menentukan? Kata guruku, dasarnya adalah kecukupan. Manusia bisa jadi memiliki ribuan pakaian, tapi dia hanya bisa memakainya satu. Bisa jadi memiliki ratusan piring makanan dalam satu meja makan, tapi dia hanya akan bisa menghabiskan beberapa saja.

Ambilah secukupnya. Karena yang cukup itulah justru yang bisa memberikan kenyamanan. Bisa memberikan ruang gerak untuk terus tumbuh, untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya memang kita hanya perlu yang cukup.

©kurniawangunadi

#repost

Menghabiskan Ego

Judul tulisan di atas bukanlah judul tulisan saya, melainkan judul tulisan dari seorang penulis yang saat ini sedang digandrungi oleh kebanyakan wanita-wanita yang masih single, yang sudah “berdua” juga banyak sih, dan yang laki-laki pun ada, tapi yang jelas, kenyataanya wanita memang lebih dominan.

Ah, single-single bahagia macam saya ini memang mudah sekali tersentuh oleh tulisan-tulisan yang bijaksana. Meski mungkin, pada kenyataanya, masih banyak hal yang dalam prakteknya belum sebijak tulisan yang kita sukai.

Tulisan-tulisan Kurniawan Gunadi yang terbit di blog pribadinya yaitu tumblr, bukan digandrungi secara tiba-tiba. Ada beberapa hal berbeda yang disajikan dalam tulisan-tulisannya. Meski wanita-wanita ini paham betul bahwa seorang Kurniawan Gunadi adalah seorang laki-laki muda yg masih single (juga) –Ciyee– tapi sepertinya wanita-wanita yang menggandrungi tulisannya ini harus setuju, bahwa tulisan tentang berbagai perasaan, sikap, prinsip, iman dan kehidupan yang disajikannya, layaknya seperti tetesan embun di pagi hari (halah), menyejukkan dan menentramakan. Meski setelah membacanya, masih juga banyak wanita single yang teteup weh galau gak jelas *yang ini bukan curhat lhoh*😀. Pembacanya sama sekali tidak merasa bahwa tulisannya itu menggurui, padahal Kurniawan Gunadi belum menikah. Tulisannya seperti nasihat-nasihat terbaik untuk seorang anak perempuan, padahal dia bukan seorang Ayah. Tulisannya seperti nasihat-nasihat bijak untuk seorang anak laki-laki, padahal dia bukan seorang Ibu. Dan Kurniawan Gunadi, mampu memesona banyak pembaca setianya.

Di antara begitu banyaknya tulisan “epic” (kalo kata saya) yang diciptakan oleh seorang Kurniawan Gunadi. Tulisan inilah yang kini patut saya renungi baik-baik. Tulisan ini dikategorikan dalam halaman SPN alias Sekolah Pra Nikah. Menurut saya unik, karena Kurniawan Gunadi belajar tentang pernikahan dari orang-orang sekitar yang pernah dia temui (meski gak hanya SPN doank).

Meski menurut saya, masa-masa merenungkan ego ini sudah terlewati. Agaknya masih relevan untuk mengingatkan diri lagi. Siapa tahu ada yang terlewati.

 

http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/107842619497/tulisan-menghabiskan-ego

Saya menganggukkan kepala setelah membaca tulisan ini dalam buku Lautan Langit-nya. Kemudian kembali mengingat-ingat. Sudah habiskah ego saya?

Jadi, selamat menghabiskan ego  :)

Salam,

Aniel

Hari Ini, Bukanlah Segalanya. Tapi…

Kata orang kebanyakan,

Hari ini adalah hari Ibu.

Berarti, buatku, hari ini hari Mama.

Kebanyakan orang, hari ini berlomba-lomba,

Bukan untuk jadi pemenang, tapi untuk jadi yang pertama,

Mengungkapkan perasaan yang selama ini sedikit sekali keluar dari lisannya.

 

Aku percaya, bukan karena mereka tidak merasakannya,

Tapi perasaan yang satu itu, begitu sulit diejawantahkan dengan kata-kata.

Bahkan, tak sedikit dari mereka yang hanya bisa menangis seketika,

Urung mengungkapkannya, sebab tercekat kata-kata di tenggorokannya.

 

Mereka menangis…

Menangis karena begitu dalamnya perasaan yang mereka punya,

Menangis karena mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya,

Menangis karena mengingat kenangan ketika mama sedang bersama mereka,

Menangis karena sedikit sekali waktu bersama dengan mama,

Menangis karena itupun, adalah waktu-waktu sisa.

 

Hari ini bukanlah segalanya,

Tapi hari ini mungkin adalah waktu yang tepat,

Waktu yang tepat untuk memperbaiki apa-apa yang mungkin pernah rusak di antara aku dan mama,

Waktu yang tepat untuk memulai lagi, menata, mempersiapkan waktu-waktu terbaik bersama mama,

Waktu yang tepat untuk menjalani hari agar selalu dalam keadaan mengingat dan mendoakan mama,

Karena yang sebenar-benarnya, mama selalu ada di setiap langkahku.

Karena doa-doa yang kau panjatkan kepada-Nya,

Seperti payung yang melindungi  tubuh dari panas maupun hujan,

Aku menyadari itu, tapi seringkali aku melupakannya.

 

Terima kasih, Mama

Untuk segalanya.

Mohon maaf, Mama

Untuk segalanya.

 

Engkau dan laki-laki yang selalu bersamamu saat ini, seharusnya Bahagia!

Semoga Allah mengampuni dosaku, Mama dan Ayah,

Semoga Allah menyayangi Mama dan Ayah,

Sebagaimana Mama dan Ayah menyayangiku,

Sejak aku hadir ke dunia, hingga saat ini aku merasakannya.

 

@gusfaniie | 21-12-2015 | jatiwaringin