Rindu Kota Kelahiran

Hey!!!

Setelah beberapa hari ini gw merasakan kerinduan,,, ya .. kerinduan kepada tempat yang beberapa bulan lalu gw kunjungin, kerinduan kepada tempat dimana gw numpang lahir, kerinduan kepada suasana asri yang dimana gw bangga menjadi bagian dari tempat itu, yap! kerinduan kepada kampung halaman. Hmm… yang gw sadari, bahwa ada magnet yang menarik hati untuk balik lagi kesana. Bahkan gw bisa dengan pasti dan tegas berkata begini ke nyokap : “Ma, Ila pulang kampung sendirian juga gak apa-apa deh” :D, see???!

Tempat yang buat gw PR banget untuk di datengin banyaak #banget, makanya kalo cuma dapet cuti seminggu, masih kurang banget buat ngunjungin semua tempat itu. Dan salah satu yang bikin gw kepikiran terus sama kampung halaman yaitu Bakso 88 yang selalu gw lewatin waktu bolak-balik ke pasar Solok, tapi gw gak pernah mampir… haha… kayak pentiiing banget ya? Bakso doank gitu… hehe :D. Soalnya, gw udah di pengaruhin sama sepupu gw yang kemaren jadi guide dadakan itu :p

Selain Bakso, ada Pantai Aia Manih yang belum di tengok dan banyak lagi deh.. lupa [let me ask him after write this post]—->guide dadakan tea.. haha.

Ada misi lain yang terpikirkan dan masih saja jalan-jalan disekitar otak gw, tapi mungkin belum bisa gw realisasikan dalam waktu dekat ini. Paling nggak udah terpikirkan.

Pengen tahu banyak hal tentang siapa-siapa saja orang-orang terdekat yang harus gw tahu dan pengen tahu lebih banyak tentang tradisi dan adat juga adab masyarakat disana. Bahkan dulu gw sempet berpikir untuk membangun Kota kelahiran, biar bisa lebih dikenal oleh seluruh pelosok negeri #lebay hehe…

Yup… itulah kerinduan yang gak cukup gw ceritain disini tapi masih banyak tersimpan di hati.

Satu hal yang baru gw sadari : Sekali aja pulang ke kampung halaman, bakalan ketagihan terus. YAKIN! Setidaknya untuk gw sendiri deh, btw, nyokap gw juga setuju kok :-p

Gimana dengan kalian-kalian yang juga pernah pulang kampung? Apa merasakan hal yang sama dengan gw? Just share it to me if you want!!!

Thanks!

Advertisements

Tradisi Pernikahan Adat Minang

Rumah Adat Minang

Rumah Gadang

Beberapa hari yang lalu, dapet kiriman link dari Dosen PTIK, Thanks Pak Bambang 😉

Wah, bener banget deh, saya pribadi emang kepengen banget kalau nanti hari bahagia itu tiba, kalau bisa dan terkabul, bener-bener ingin melaksanakannya dengan adat Minang, tanah kelahiran yang saya cinta hehe 😀

Hmm… jadi kepengen hehe 😀

Semoga… Amin, Semoga di waktu yang tepat, dengan orang yang tepat, dan dengan keadaan yang memungkinkan untuk itu semua … amin 🙂 [tapi kalo tidak pun tak apa] yang penting hikmah pernikahannya 🙂 betul tidak?!

Okey, berikut saya cantumkan isi dari link yang di share oleh Dosen saya tadi di atas, mungkin bisa membantu teman-teman yang berencana untuk meminang Gadis Minang ataupun yang akan di pinang oleh Perjaka Minang :D, atau buat yang cuma pengen tahu aja, boleh banget, toh ini kan kebudayaan Bangsa yang beragam yang mesti nya harus tetap kita jaga dan kita lestarikan *hloh* emangnya hutan?! eh, emang yang di lestarikan hutan doank?! hihihi :p

langsung dah! cekibrot kalo kata agan-agan di kaskus 😀

Tradisi perhelatan pernikahan menurut adat Minangkabau lazimnya melalui sejumlah prosesi yang hingga kini masih dijunjung tinggi untuk dilaksanakan serta melibatkan keluarga besar kedua calon mempelai, terutama dari keluarga pihak wanita. Berikut beberapa tradisi dan upacara adat yang biasa dilakukan baik sebelum maupun setelah acara pernikahan:
1. Maresek / Meraba

Meresek merupakan penjajakan pertama sebagai permulaan dari rangkaian tatacara pelaksanaan pernikahan. Sesuai dengan sistem kekerabatan di Minangkabau, pihak keluarga wanita mendatangi pihak keluarga pria. Lazimnya pihak keluarga yang datang membawa buah tangan berupa kue atau buah-buahan sesuai dengan sopan santun budaya timur. Pada awalnya beberapa wanita yang berpengalaman diutus untuk mencari tahu apakah pemuda yang dituju berminat untuk menikah dan cocok dengan si gadis. Prosesi bisa berlangsung beberapa kali perundingan sampai tercapai sebuah kesepakatan dari kedua belah pihak keluarga.

2. Meminang dan Bertukar Tanda

Keluarga calon mempelai wanita mendatangi keluarga calon mempelai pria untuk meminang. Bila tunangan diterima, berlanjut dengan bertukar tanda sebagai simbol pengikat perjanjian dan tidak dapat diputuskan secara sepihak. Acara melibatkan orang tua atau ninik mamak dan para sesepuh dari kedua belah pihak.

Rombongan keluarga calon mempelai wanita datang dengan membawa sirih pinang lengkap disusun dalam carano atau kampla yaitu tas yang terbuat dari daun pandan. Menyuguhkan sirih diawal pertemuan dengan harapan apabila ada kekurangan atau kejanggalan tidak akan menjadi gunjingan. Sebaliknya, hal-hal yang manis dalam pertemuan akan melekat dan diingat selamanya. Selain itu juga disertakan oleh-oleh kue-kue dan buah-buahan. Benda-benda yang dipertukarkan biasanya benda-benda pusaka seperti keris, kain adat atau benda lain yang bernilai sejarah bagi keluarga. Benda-benda ini akan dikembalikan dalam suatu acara resmi setelah berlangsung akad nikah.

Tata caranya diawali dengan juru bicara keluarga wanita yang menyuguhkan sirih lengkap untuk dicicipi oleh keluarga pihak laki-laki sebagai tanda persembahan. Juru bicara menyampaikan lamaran resmi. Jika diterima berlanjut dengan bertukar tanda ikatan masing-masing. Selanjutnya berembug soal tata cara penjemputan calon mempelai pria.

Continue reading