#1 Kumpulan Kataku

~ Semakin hari kuperhatikan kau makin tak berpendirian, apa perlu aku kasihan??!

~ Kepada: mereka yang sedang berusaha bertengger di atas kepalaku, lalu “merasa” bangga, selamat mencoba dan semoga berhasil, sebenarnya kita punya “kepala” masing-masing.

~ Dan saat kalian membutuhkan dia yang sebelumnya tak punya arti apa-apa, nikmatilah rasanya di buru kesepian hati, karna dia sedang berlari bersama manisnya tulus..

~ Tidak untuk mereka seisi nya,,, Batasan itu membuat hati menuruti logika…
Kadang, menjaga komunikasi di saat diperlukan saja itu wajar, karna jika terjadi secara intens, bisa di salah artikan.

~ Memimpikan mu tadi malam, seperti merasakan kelembutan yang terulang, bisakah??!

~ Ah, itu kali pertama aku mempimpikanmu, sendirian ~~ tak lagi dengan siapa-siapa, siapa-siapa dia?

~ Oh, aku tidak bisa tidak ingat dengan Pelangi Indah yang hadir dalam mimpiku semalam 🙂

~ Kekuatan senyuman: menghentikan segala komentar miring tentang orang yang sedang memberikan senyuman kepada kita

~ Oh Allah, I’m thankful that you has created me like this, Cool and Weird! 😀

~ Menatap nanar, aku bahagia, sudah itu berkaca-kaca memikirkan perpisahan yang pasti dengannya, Ibu.

~ Dan benar saja, gadis itu terlihat rapuh dalam kekuatan “prasangka”, kasihan memang.

~ Yakinlah itu keputusan yang tepat, sama halnya saat kau yakin memutuskan nya saat itu

~ Selain Pemalu, dia juga Malu-maluin tapi gak Memalukan sih…

~ Inilah saatnya melangkah menuju hidup yang lebih: baik, indah, serasi, selaras, damai,,,, #semacamPPKN

~ Waktu, cepatlah berlari mengitari kedamaian itu

~ Entah ya, menurut gue sebaik-baiknya cinta itu adalah saat bisa mencintai seseorang dengan tenang. Tanpa paksa, cerca, hina dan tanya. @erdiANaji

Advertisements

Si Kiri jadi tumpuan

Disebuah perjalanan yang tak begitu panjang, meski sedikit terseok, Dia yakin bahwa dia mampu mencapai tempat yang dia tuju. Ya, perjalanan Dia menuju tempat dimana dia harus bekerja demi bertahan hidup dan lalu kembali ke tempat dimana dia bisa beristirahat untuk melanjutkan hidupnya. Kaki nya tak mampu berjalan dengan sempurna, dikarenakan banyak hal. Dan dalam perjalanan itu, terjadi percakapan antara “mereka” yang terseok itu :

 

 

Si Kanan dan Si Kiri

Si Kiri : “Aduh, bagaimana ini Kanan, yang punya kewajiban untuk menopang kan kamu, sekarang aku yang harus menanggungnya”.

Si Kanan : “Tak puaskah kau ku topang selama bertahun-tahun?, Tak sudikah kau menggantikan kewajibanku untuk sementara waktu?, toh ini pun tak akan lama…”.

Si Kiri : “Iya, tapi sampai kapan aku harus menjalankan kewajibanmu ini?, kita kan sama-sama tahu bahwa kemampuan kita sangatlah berbeda, bagaimana kalau aku tak sanggup lagi menopang tubuh orang ini?.

Si Kanan : “Sudahlah Kiri, kau belum sampai pada akhir saja sudah mengeluh, kau akan tahu nanti saat aku sudah sembuh, dan ku rasa tak akan separah yang kau pikirkan”.

Si kiri terdiam dan sedikit mengiyakan apa yang telah di katakan oleh si Kanan.

Berhari-hari si Kiri telah menggantikan kewajiban si Kanan, sampai  tibalah saatnya untuk si Kanan kembali melaksanakan kewajibannya, menopang beban yang berat. Dan si Kanan memang mampu karena memang mempunyai kekuatan untuk itu, sedangkan si Kiri, kini bebas menggantungkan hidupnya dengan si Kanan dan tak lagi merasakan keletihan yang begitu menyiksa, karena memang tak sesuai dengan kemampuannya, tapi setidaknya si Kiri telah mampu menggantikan tugas si Kanan, meski tak lama namun ia mampu, demi kehidupan satu manusia yang mereka topang, dan itu semua tak hanya kerja keras si Kiri maupun si Kanan. Itu semua pun karena teman-teman mereka yang bekerja sama dengan mereka untuk menggerakkan, memberikan semangat, memulihkan dan berusaha. Si Otak mengerahkan agar si hati tergerak untuk berkata kepada si Dia agar semangat untuk kembali sehat dan bisa berjalan seperti semula sehingga teman si Otak dan si Hati tidak lagi merasakan kesusahan.

Ya, itulah kita seharusnya, mencoba sebelum berkata “Aku tak bisa”, memahami bahwa setiap kita telah diberikan kemampuan masing-masing, bisa Lebih di A dan bisa Kurang di B tapi pada dasarnya, kita punya KELEBIHAN dan itu diberikan secara ADIL oleh Allah SWT. Adil bukan berarti A=10 B=10, tapi sesuai kemampuan dan porsi yang harus kita terima. Karna porsi makan setiap kita pun berbeda-beda. Itulah adil. Dan mengerti akan tanggungjawab , dimana seluruh organ kita bekerja sama dan mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, tapi tetap berusaha dan mempunyai satu tujuan, untuk tetap bertahan hidup, begitu juga dalam berteman, bekerja, keluarga dan Negara.

Ada tambahan?! 🙂

Lawan Kata

Kelas yg tdinya ribut, menjadi sunyi-senyap setelah guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti itu telah masuk ke dalam ruang kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.

Murid2: “Selamat pagi, Bu Guru!”

Bu Guru (dengan suara melengking): “Mengapa blg selamat pagi saja, Kalau begitu siang, sore dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat ya?”

Murid2: “Selamat pagi, siang dan sore Bu Guru…”

Bu guru: “Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, kan lebih bagus didengar dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa dan keadaan.”

Murid2: “Selamat sejahtera Bu Guru!”

Bu Guru: “Sama-sama, duduk! Dengar baik-baik!! Hari ini saya mau menguji kalian semua tentang lawan kata atau antonim kata. Kalau saya sebutkan perkataannya, kamu semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya, mengerti?”

Murid2: “Mengerti Bu Guru…”

Guru: “Pandai!”
Murid2: “Bodoh!”

Guru: Tinggi!
Murid2: Rendah!

Guru: Jauh!
Murid2: Dekat!

Guru: Berjaya!
Murid2: Menang!

Guru: Salah itu!
Murid2: Betul ini!

Guru (geram): Bodoh!
Murid2: Pandai!

Guru: Bukan!
Murid2: Ya!

Guru (mulai pusing): Oh Tuhan!
Murid2: Oh Hamba!

Guru: Dengar ini…
Murid2: Dengar itu…

Guru: Diam!!!!!
Murid2: Ribut!!!!!

Guru: Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!
Murid2: Ini adalah jawaban, pandai!!!

Guru: Mati aku!
Murid2: Hidup kami!

Guru: Saya rotan baru tau rasa!!
Murid2: Kamu akar lama tak tau rasa!!

Guru: Malas aku ngajar kalian!
Murid2: Rajin kami belajar bu guru…

Guru: Kalian gila semua!!!
Murid2: Kami waras sebagian!!!

Guru: Cukup! Cukup!
Murid2: Kurang! Kurang!

Guru: Sudah! Sudah!
Murid2: Belum! belum!

Guru: Mengapa kamu semua bodoh sekali?
Murid2: Sebab saya seorang pandai!

Guru: Oh! Melawan, ya??!!
Murid2: Oh! Mengalah, tidak??!!

Guru: Kurang ajar!
Murid2: Cukup ajar!

Guru: Habis aku!
Murid2: Kekal Kamu!

Guru (putus asa): O.K. Pelajaran sudah habis!
Murid2: K.O. Pelajaran belum mulai!

Guru: Sudah, bodoh!
Murid2: Belum, pandai!