Si Kiri jadi tumpuan


Disebuah perjalanan yang tak begitu panjang, meski sedikit terseok, Dia yakin bahwa dia mampu mencapai tempat yang dia tuju. Ya, perjalanan Dia menuju tempat dimana dia harus bekerja demi bertahan hidup dan lalu kembali ke tempat dimana dia bisa beristirahat untuk melanjutkan hidupnya. Kaki nya tak mampu berjalan dengan sempurna, dikarenakan banyak hal. Dan dalam perjalanan itu, terjadi percakapan antara “mereka” yang terseok itu :

 

 

Si Kanan dan Si Kiri

Si Kiri : “Aduh, bagaimana ini Kanan, yang punya kewajiban untuk menopang kan kamu, sekarang aku yang harus menanggungnya”.

Si Kanan : “Tak puaskah kau ku topang selama bertahun-tahun?, Tak sudikah kau menggantikan kewajibanku untuk sementara waktu?, toh ini pun tak akan lama…”.

Si Kiri : “Iya, tapi sampai kapan aku harus menjalankan kewajibanmu ini?, kita kan sama-sama tahu bahwa kemampuan kita sangatlah berbeda, bagaimana kalau aku tak sanggup lagi menopang tubuh orang ini?.

Si Kanan : “Sudahlah Kiri, kau belum sampai pada akhir saja sudah mengeluh, kau akan tahu nanti saat aku sudah sembuh, dan ku rasa tak akan separah yang kau pikirkan”.

Si kiri terdiam dan sedikit mengiyakan apa yang telah di katakan oleh si Kanan.

Berhari-hari si Kiri telah menggantikan kewajiban si Kanan, sampai  tibalah saatnya untuk si Kanan kembali melaksanakan kewajibannya, menopang beban yang berat. Dan si Kanan memang mampu karena memang mempunyai kekuatan untuk itu, sedangkan si Kiri, kini bebas menggantungkan hidupnya dengan si Kanan dan tak lagi merasakan keletihan yang begitu menyiksa, karena memang tak sesuai dengan kemampuannya, tapi setidaknya si Kiri telah mampu menggantikan tugas si Kanan, meski tak lama namun ia mampu, demi kehidupan satu manusia yang mereka topang, dan itu semua tak hanya kerja keras si Kiri maupun si Kanan. Itu semua pun karena teman-teman mereka yang bekerja sama dengan mereka untuk menggerakkan, memberikan semangat, memulihkan dan berusaha. Si Otak mengerahkan agar si hati tergerak untuk berkata kepada si Dia agar semangat untuk kembali sehat dan bisa berjalan seperti semula sehingga teman si Otak dan si Hati tidak lagi merasakan kesusahan.

Ya, itulah kita seharusnya, mencoba sebelum berkata “Aku tak bisa”, memahami bahwa setiap kita telah diberikan kemampuan masing-masing, bisa Lebih di A dan bisa Kurang di B tapi pada dasarnya, kita punya KELEBIHAN dan itu diberikan secara ADIL oleh Allah SWT. Adil bukan berarti A=10 B=10, tapi sesuai kemampuan dan porsi yang harus kita terima. Karna porsi makan setiap kita pun berbeda-beda. Itulah adil. Dan mengerti akan tanggungjawab , dimana seluruh organ kita bekerja sama dan mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, tapi tetap berusaha dan mempunyai satu tujuan, untuk tetap bertahan hidup, begitu juga dalam berteman, bekerja, keluarga dan Negara.

Ada tambahan?! 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Si Kiri jadi tumpuan

  1. Maknyus nih..
    Setuju banget sama konsep optimisme dan kerjasama yang ini.
    Yang penting yakin mampu dan tercapai, maka kita Insya Allah bisa menggapainya.
    Kun fayakun. 🙂

  2. hahaha,,, betul, emang nih, karna awalnya ini blog memang bukan buat umum, jadi ya ga di promo-in,
    tapi sekarang saya jadi tau caranya gmn, yaitu dengan blogwalking yang banyak jg.. hehe

  3. Yoi, sangat betul tuh kalo blogwalking.
    Nambah teman, juga nambah trafik ke blog kita.
    Semangat buat ngeblog pun bertambah karena ada apresiasi dari visitor. 😀

  4. yadi says:

    kayanya gw tau deh foto kaki siapa ma dimana… hehehehee
    lanjutkan Nil…….
    buat blog yang bisa jadi inspirasi buat semua orang………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s