Ayah


Ayah!

Seseorang yang dulu aku panggil, “Apa” (dalam bahasa minang yang berarti Ayah)

Saat pindah ke Ibukota, aku terkena racun, teman-teman sebayaku memanggil Ayah nya dengan sebutan “Papa”. Kupikir, tak jauh berbeda dengan panggilan ku kepada “Apa”. Dikemudian waktu, aku berusaha memanggilnya dengan sebutan “Papa”, dan beliau menjawab “Jangan panggil Papa, karena orang seperti kita, rasanya kurang tepat memanggil dengan sebutan Papa, lagipula aku bukan siapa-siapa”.

Awalnya ku pikir aneh, namun iya jua lah pikirku sejenak kemudian, kami hanya keluarga sederhana. Dan selajutnya aku belajar memanggil “Ayah”, seperti anak bayi belajar berjalan, kadang ku panggil Ayah, kadang ku panggil Papa, kadang kembali ke “Apa” :D.

Ayah?!

Seseorang yang aku tak pernah merasakan kelembutan dari nya, terhitung sejak aku mampu berjalan diatas kaki ku sendiri, mungkin?!

Seseorang yang tak pernah mampu mengungkapkan rasa dengan bicara, tak juga dengan cinta

Jika kalian sering pergi tamasya bersama Ayah, dengan aku tidak begitu

Jika kalian sering diajak bermain meski hanya sesaat sebelum Ayah berangkat bekerja, dengan aku bukan begitu

Jika kalian sering bermanja-manjaan dengan Ayah, dengan aku mungkin bukan tidak begitu

Bukan, tidak begitu?!

Seseorang yang tak peduli dengan semua yang menghancurkannya

Tak peduli dengan semua yang merendahkannya

Tak peduli dengan semua yang membodohinya

Ia terlalu berharga, sangat berharga, kusebut dia-nya Ayah.

Ayah?!

Suatu hari ketika aku masih berumur belasan.

“Ayah, minta uang donk???”, aku mendesak Ayah setelah sebelumnya tidak berhasil meminta uang dari Mama. Lalu Ayah memberikan uang kepadaku, tanpa banyak tanya. Ya, selalu begitu, Ayah selalu bersedia memberi uang untuk aku dan kami. Lain dengan Mama, maklumlah, Mama. Mama-mu juga begitu?! Mungkin.

Ayah?!

Jika ia selalu bersedia memberikan uang.

Tidak dengan kasih lembutnya,

Ia bahkan tak pernah membelai kepala anaknya,

Mengusap dengan penuh cinta,

Ia tak Bisa.

Jika Ayahmu selalu marah saat kau pulang kerumah lebih lama dari jadwalnya,

Tidak dengan aku,

Jika Ayahmu tidak dengan gampangnya memberikan izin untuk mu menginap dirumah teman

Tidak dengan aku.

Meski begitu, Mama lah yang melakukan tugas itu J

Ya,

Ternyata Ayah tak pernah melarang ku, bukan karena tak peduli

Ternyata Ayah tak pernah membelai ku, bukan karena tak mengasihi

Ternyata Ayah tak pernah mengajak ku bermain, bukan karena tak perhatian

Ternyata Ayah tak pernah memanjakan ku, bukan karena tak cinta

Ya… Aku sangat mengerti itu

Ternyata Ayah berani menahan semua hina, demi kecintaannya, Aku.

Hidup dan Bertahan.

Ayah!

Aku bersyukur

Aku bangga

Aku berterima kasih

Aku bahagia

Aku suka cita

Aku cinta

Aku memilikinya

Ayah

09.05.11

Tulisan di atas, saya tulis kemarin malam, saat sedang menunggu kedatangan kk dan adik saya dari Damri – Monas, mereka sedang mengantarkan Mama ke sana untuk beranjak ke Lampung, demi melihat keadaan Peri kecil Mazaya Althafunissa, yang tak lain adalah keponakanku, yang tak bukan adalah cucu dari Ayah dan Mama.

Advertisements

9 thoughts on “Ayah

    • lohh.. bisa begitu yah, tapi iya sih, abang dan kk saya jg panggil nya tetap “apa” *bahasa minang*. mungkin karena bahasanya masih familiar sama bahasa padang :D, kalo saya sudah terkontaminasi sih 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s