Televisi


Hari sudah larut, aku masih saja termenung memandangi potret seorang lelaki. Tampan, bersahaja dan juga bergaya. Bukan siapa-siapa, padahal lelaki itu hanyalah seorang Penyanyi luar negeri. Matanya agak sipit, belum lagi saat ia tersenyum, hampir tak tampak bola matanya.

Kenapa aku begitu bersikeras memasang foto  terbesar Penyanyi itu? Karena aku sangat ingin berjumpa dengan Idolaku itu. Ia kini sedang naik daun, tak sedikit wanita yang berusaha keras untuk mendapatkan tiket berbayar apalagi GRATIS untuk bertemu langsung dengannya. Teman-teman ku contohnya, ia rela menghabiskan waktu berjam-jam didepan komputer, sambil berlomba-lomba me retweetinfo2 dan juga berbagai macam quis yang di adakan oleh beberapa perusahaan media.

Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku pun mempunyai tujuan yang sama dengan mereka?.  Benar, benar sekali. Lalu mengapa aku tak melakukan hal yang sama dengan teman-teman ku?. Ayah berjanji ingin membelikan tiket untukku, meski bukan yang VVIP, tak mengapa, aku akan sabar menunggu janji Ayah.

————————————————————————————————————————-

Besok adalah hari yang ku tunggu-tunggu, Ayah akan pulang dengan membawa sebuat tiket masuk untuk menyaksikan Idolaku bergaya dan bernyanyi di antara ribuan penonton dan penggemarnya. Aku semakin tak sabar, aku sudah membayangkan, bagaimana aku akan berteriak memanggil nama idolaku itu, seraya melambaikan tangan ataupun memotretnya dengan kamera imut ku. Ah… rasanya akan menjadi hari yang sangat berkesan dan tak akan pernah ku lupakan.

Ayah pulang.

Aku menunggu Ayah di kamar, namun tak juga datang Ayah ke dalam kamarku. Penasaran, aku beranjak ke ruang televisi. Ayah terlihat murung  dan tak bersemangat. Firasat ku tak enak. Ada apa ini?.

Ibu berusaha memulai pembicaraan. ”Nak, besok kita lihat Idolamu di Televisi rumah saja yah?”, ibu berkata dan berusaha tersenyum manis menatap mataku.

Aku lari ke kamar.

Dalam hatiku bertanya-tanya, mengapa Ayah tak menepati janjinya, mengapa lelaki selalu takmenepati janji?

Kemudian berfikir. Semua pasti ada hikmahnya. Mungkin sudah sewajarnya aku melihat pertunjukkan Idolaku hanya lewat Televisi rumah saja, karena mungkin, harga tiket itu tak sebanding dengan harga televisi yang dulu Ayah belikan, sudah berdebu,tak pernah ku bersihkan.

Pagi hari, aku bergegas membersihkan televisi yang akan aku tonton nanti sore, supaya melihat Idola dengan hati yang cerah dan menyenangkan, masalah foto, aku bisa titip teman-teman yang sudah berhasil mendapatkan tiket itu. Akhirnya, Ibu dan Ayah ikut menemani aku menonton pertunjukkan Idolaku. Selanjutnya, aku harus sering-sering membersihkan televisi. Tak ada ruginya aku menonton  pertunjukkan Idolaku melalui Televisi rumah. Jarang-jarang Ibu dan Ayah menemaniku menonton.

Terimakasih Ayah, Ibu.

Televisi

Kini jarang sekali aku menyentuhnya

Advertisements

3 thoughts on “Televisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s