Review Film “Cinta Tapi Beda”


Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Selamat pagi, siang, sore, malam, semangat Selasa untuk kita semua.

Lagi rame yak? banyak yang mengulas Film Cinta Tapi Beda karya Hanung Bramantyo ini, suami dari aktris Zaskia A. Mecca ini seakan gak pernah berhenti membuat film-film yang kontroversial, entah karna tidak disengaja atau ada maksud di balik film-filmnya. Filmnya selalu mengangkat isu-isu sensitif.

Saya sudah nonton film ini, tujuannya? Ketika saya pengen komentarin ini film, saya gak asbun :p

Gak banyak yang bisa saya sampaikan, karna jujur, setelah menonton film ini saya menyesal, karena? Tidak ada “pesan” yang dapat saya petik. Bahkan mungkin malah lebih banyak kekhawatiran citra dan dampak atas menonton film ini.

pertama:

BENAR, ini adalah film tentang Cinta beda Agama, bukan NIKAH beda Agama. Dari segi kehidupan dan kenyataan yang terjadi sekarang ini, memang banyak sekali kasus-kasus seperti ini. TAPI sebagai muslim, tidak bisakah sutradara ini membuat film yang solutif? solusi berdasarkan Agama yang dianutnya? memecahkan masalah dari kasus-kasus tersebut? karna dari awal sampai akhir, film itu ngambang, tak ada akhir. Diana dan Cahyo tak bisa menikah, karna begitu sulitnya menyatukan hal yg satu itu, Agama. Kalaupun ada solusi, apa Hanung mau kasih pilihan untuk “melegalkan pernikahan beda agama” seperti yang diusung oleh aktivis feminis yang sedang marak?. Film itu ditonton bukan hanya untuk memperlihatkan suatu keadaan, tapi mampu menggiring atau mengarahkan pemikiran penonton untuk berasumsi dan kemudian mencontoh, karna pikirnya “toh, ada filmnya kok” “ada contohnya kok” “film itu gak ada yang protes kok”. Remaja di Indonesia ini masih belum mampu memfilter budaya luar. Itulah yang terjadi.

Btw, kalau masih ada yg protes ttg tulisan ini karna bawa-bawa Agama, mending diam. *deal* kenapa? yaa… mikir ajalah sendiri hehehe :p

kedua:

Diana, ditokohkan sebagai gadis “Padang” bukan gadis “Minang” (menurut Hanung). Ini adalah statement bantahan dari sang sutradara atas Besarnya Suara warga Minang untuk meminta Hanung meminta maaf kepada orang Minang dan juga menarik film CTB tersebut. Oke, anggaplah BENAR Diana bukanlah gadis Minang, karna hanya keluarganya tinggal di Padang. Katanya lagi “orang Padang belum tentu Muslim, Orang Minang pasti Muslim”. Baiklah, baiklah. Tapi, sekali lagi sutradara ini menggiring, mengarahkan atau mencitrakan “Padang itu tak hanya Muslim”.  Apa ini “maksud” dari film CTB?

“Padang itu pastinya adalah Minang” dan Minang itu pastinya Muslim. Pepatah Minang: Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat bersendi kepada Syariat, Syariat bersendi kepada Kitabullah (Al-Qur’an)). “Islam adalah Agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 98% penduduk Sumatera Barat, yang kebanyakan pemeluknya adalah orang Minangkabau” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat) berdasarkan data ini, buat saya, Hanung terlalu maksa, mencitrakan/mejadikan Diana sebagai seorang Khatolik taat yang berasal dari Padang.

Intinya:

Film ini gak solutif, maksa dan TIDAK PATUT DICONTOH (khususnya untuk Muslim) baik tentang “pacaran”nya maupun “beda agamanya”. Hiduplah sesuai ajaran Islam, sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. InsyaAllah selamat dunia dan Akhirat (kata Ustadz) 😀 Dunia sesaat, akhirat selamanya #tsaah (lagunya @DerrySulaiman + @RayNineball).

Hikmah dari protes Warga Minang:

– Film ini ditarik (dari pihak Hanung),

– Masyarakat harusnya introspeksi juga “kenapa” film ini ditarik? Jangan menutup mata dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi, pasti ada “salah”nya dan yang jelas, pasti ada alasannya.

FYI: Mungkin ada yang belum tahu, saya ini gadis Minang yang lahir di tanah Minang.

Setelah nonton film ini, saya kurang tertarik bikin reviewnya, karna seperti kata saya diatas, jalan ceritanya gak ada yang istimewa. Sama sekali tidak ada yang istimewa. Tapi karna ada protes dari Warga Minang, jadi sebagai “gadih minang” boleh donk saya ikut menyuarakan? 🙂

Tulisan diatas berdasarkan pemikiran saya pribadi, mohon maaf jika ada kesalahan. Mohon diingatkan apabila ada yang dirasa kurang.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh…

 

Advertisements

9 thoughts on “Review Film “Cinta Tapi Beda”

  1. Bener banget, Nil.. Papa ku sampe semangat bgt cerita pas dirumah.. Katanya : “Gak ada keturunan minang asli, yang agamanya diluar Islam.. Dari Gunung Marapi segede telur itik, Keturunan asli Minang itu Muslim semua..” 😀

  2. Pertama, salam kenal dulu but Gadih Minang…. 🙂

    Kedua, Baru komentar…
    Sedari awal saya sangat ingin menonton film ini. Namun, kesempatannya tidak ada. Begitu ada kesempatan, eh sudah ditarik, hehe..
    Terima kasih but reviewnya. Saya jadi dapat gambaran, seperti apa film ini. Menurut saya, isu perbedaan yang diangkat, sebetulnya biasa saja. Hanya saja, yg mengusik adalah menjadikan Padang sebagai latar ceritanya. Agaknya, Hanung alfa akan hal yang satu ini. Coba kalau dibalik, yg perempuan orang Jogja dan yglaki-laki orang Padang, pasti tidak akan seheboh ini.. 🙂

    • Salam kenal juga Bang Vizon… 😀

      Kesan pertama lihat trailernya juga begitu Bang, sama dgn yg Bang Vizon bilang 😀 hohoho

      Terima kasih sudah sudi mampir ke blog saya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s