Kasih Sayang

Saya mau menulis tentang kasih sayang, tapi bukan kasih sayang antar manusia, saya mau menulis tentang kasih sayang Tuhan. Jadi saya minta maaf kalau ada yang terlanjur mikir saya mau nulis tentang kasih sayang yang lain. Kalian bisa skip tulisan ini.

Menurut hemat saya, kasih sayang Tuhan itu secara simpel dan awam bisa dibagi menjadi dua: pertama, yang diterima oleh semua orang, kedua, yang diterima spesifik oleh orang/golongan tertentu.

Jenis yang pertama adalah yang paling mudah dilihat–meski banyak yang tidak mau melihatnya. Kasih sayang Tuhan yang diberikan tanpa pengecualian. Besar, kecil, tua, muda, mau miskin, mau kaya, mau presiden atau pengemis, semua memperolehnya. Misalnya adalah oksigen. Semua orang bisa menghirup oksigen tanpa kecuali. Juga dalam bentuk air bersih, cuaca cerah, kehidupan yang aman, dan berbagai kasih sayang lainnya. Diberikan gratis–meskipun ada juga yang membuatnya jadi bisnis, atau merusaknya malah menjadi bencana.

Jenis yang kedua adalah yang paling sering disalahpahami–meski penjelasannya ada di mana-mana. Kasih sayang Tuhan yang diberikan secara spesifik. Bukankah ada orang yang kaya-raya di sekitar kita, duhai, keran rezekinya melimpah ruah sementara yang lain kadang netes kadang nggak kerannya. Juga ada orang yang ngetop, menjadi selebritis, semua serba mudah baginya, sementara yang lain, tidak ada yang peduli. Atau ada yang berkuasa, semua tunduk atas perintahnya, sebaliknya ada yang teraniaya di bawah. Ini kasih sayang yang spesifik, hanya dimiliki orang2 tertentu. Kenapa ada orang yang jelas-jelas munafik ternyata dia kaya? Kenapa ada orang yang jelas-jelas jahat, korup ternyata jadi penguasa? Kenapa ada orang yang jelas-jelas memberikan dampak buruk, melanggar perintah Tuhan bagi sekitarnya ternyata justeru memperoleh kasih sayang Tuhan? kenapa orang2 ini justeru tidak disambar petir? Nah, itulah kenapa saya sebut, inilah kasih sayang yang sering disalahpahami.

Ada perokok berat, petantang petenteng bilang, “lihat, saya puluhan tahun merokok, sehat2 saja tuh, malah teman2 saya yang tidak merokok sudah mati duluan semua.” Orang ini fatal sekali salah-pahamnya. Karena sungguh, itulah bentuk kasih sayang Tuhan yang spesifik diberikan kepadanya, diberikan kesehatan meski tiap menit yang bersangkutan merusak dirinya sendiri. Atau dalam kasus lain, ada konser gila-gilaan di sebuah lapangan kota, maksiat terjadi di mana2, mendung gelap yang mengungkung kota ternyata tidak jadi hujan. Padahal kalau hujan, bisa bubar itu konser. Kalau ada penonton konser yang PD sekali sesumbar, “Lihat, nggak jadi hujan, kan? Coba lihat kemarin pas pengajian di mesjid agung. Bubar semua gara-gara hujan.” Itu juga fatal salah-pahamnya. Dia keliru memahami kasih sayang Tuhan jenis ini.

Kenapa Tuhan tetap memberikan kasih sayang ke orang2 yg jahat? Ke israel misalnya, negara mereka kuat, berkuasa, berani sendirian (dengan sekutunya juga sih) menghadapi seluruh umat muslim, kenapa Tuhan tidak menghukum mereka? tidak membela warga palestina yang teraniaya? Bukankah mudah saja kalau Tuhan mau, kirim gempa 10 skala richter di Tel Aviv, habis semua. Kenapa tidak terjadi? Karena itulah misteri kasih sayang Tuhan.

Kenapa orang2 jahat di sekitar kita bisa kaya, berkuasa, dan justeru menjadikan kekayaan dan kekuasaan itu untuk zalim ke sekitarnya? Sebalilknya orang2 taat, alim, justeru tidak kaya, dan jadi sasaran penzaliman. Itu lagi-lagi misteri kasih sayang Tuhan. Jenis kasih sayang kedua ini adalah hak mutlak milik Tuhan. Tidak bisa diprotes-protes.

Maka, sebagai orang yang beriman, adalah tugas kita mengambil setiap hikmah yang berserakan. Mengambil pelajaran dari apapun yang tertulis di sekitar kita. Sehingga kita tidak salah paham atas jenis kasih sayang ini dengan prasangka sendiri, penilaian sendiri. Karena ingatlah selalu, apa-apa yang terlihat baik, belum tentu baik bagi kita, dan apa-apa yang terlihat buruk, belum tentu benar buruk bagi kita. Ingatlah selalu, bentuk kasih sayang yang hakiki itu mengambil wujud sejati, jika kita gagal memahaminya di atas dunia ini, kelak di hari penghabisan akan terjelaskan.

Apakah hidup kita saat ini susah? beban pikiran menghimpit? Galau? Banyak pekerjaan tidak selesai? Hutang menumpuk? Masalah muncul di mana2? Pertengkaran? Dikhianati? Disakiti? Jika iya, ayo, pejamkan mata sejenak, dengan segala persoalan tersebut, yakinlah sungguh kasih sayang Tuhan selalu dekat dengan kita. Jika kita tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang. Cobalah meiihatnya dengan mata lain, yang boleh jadi tidak pernah kita gunakan. Lihatlah dengan mata hati kita 

Selamat mencoba.

– Tere Liye

Note: Karena setuju dengan tulisan di atas, karena saya terus belajar memahami dari tulisan di atas, karena suka, saya salin ulang ke blog ini.

Advertisements

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.

—Tere Liye, novel ‘Daun yang jatuh tak pernah membenci angin