Ratu Yang Bersujud

Assalamu’alaikum wr wb…

Mencoba menulis lagi, hhhhhh…

Rasanya tulisan itu hampa tanpa inspirasi. Kemudian inspirasi yang paling kuat itu adalah dengan membaca. Apapun.

Ada tugas membuat resume buku yang telah dibaca dan berbagi di sebuah “grup WhatsApp”, okelah.. ini sudah waktunya buat saya menulis (lagi). Payah sekali rasanya untuk menulis. Pantaslah kualitas diri masih saja berdiam di sini 😥

Beginilah saya menulis kembali Novel yang sudah pernah saya baca. Sedikit-sedikit nyontek ke bukunya sih (lah iya, saking hafalnya di luar kepala) Mhihihi.

Selamat membaca, kawan-kawan.

ratuyangbersujud

Bercerita perjalanan hidup seorang wanita aktivis feminisme. Charllotte gadis keturunan Indonesia – Jerman yang tinggal di Berlin adalah seorang aktivis feminisme yang terbilang aktif dan terkenal di kampusnya. Sampai suatu saat Charllotte bertemu lagi dengan saudara sepupunya yang bernama Lale. Lale datang ke Berlin bersama dengan Ibunya Mawar. Lale ke Jerman untuk mewakili kampusnya yang diundang ke seminar “Pemberdayaan Perempuan di Negara Dunia ke-3” yang ternyata acara tersebut diadakan di kampus Charllotte.

 

Beberapa hari menginap di tempat Charllotte, Lale dan Charllotte banyak sekali bertukar pikiran. Lale adalah seorang muslim. Ibu Lale adalah adik kandung Mamanya Charllotte. Ibunya Lale menjadi muallaf setelah bertemu dengan Ayahnya, Ahmed dari Turki. Tukar pikiran ini terjadi begitu intens, seorang Charllotte yang sangat mendukung feminisme, namun mempunyai ketertarikan untuk bertanya lebih banyak kepada Lale, tentang begitu banyaknya aspek-aspek dalam Islam yang selalu saja merugikan wanita (tentu saja ini berdasarkan sudut pandan para feminisme).

 

Di masa-masa diskusi berhari-hari nya dengan Lale, Charllotte seperti menemukan cahaya, cahaya yang menunjukkan jalan-jalan terang dan tentram. Sehingga akhirnya Charllotte memutuskan untuk mengundurkan diri dari organisasi feminisme di kampusnya. Charllotte adalah anak kesayangan seorang guru besar di kampus Charllotte (Humboldt) bernama Angelica Mekker, seorang pelopor gerakan feminisme yang gigih. Dengan melihat potensi besar yang ada dalam diri Charllotte, tentu tidaklah mudah Angelica Mekker untuk melepaskan Charllotte begitu saja dari organisasi feminisme nya ini. Tetapi Charllotte sudah mantap. Sampai akhirnya Charllotte mengaku muslim (meski secara resmi dia belum menjadi muslim, namun hatinya mantap mendeklarasikan bahwa ia muslim).

Charllotte berkata: “Dengan menjadi Muslim, aku menjadi jujur terhadap diriku sendiri. Menjadi muslim adalah sesuatu yang alamiah bagiku.”

“Baik, itu pilihanmu, aku tidak dapat memaksa. Aku tidak bisa memaksa pula orang untuk menjadi cerdas dan maju. Sekarang silakan keluar dari ruangan ini!” Kalimat Prof. Angelica pelan, namun sesungguhnya penuh dengan cercaan.

“Baik, Profesor. Oh ya, jangan ucapkan nama Tuhan jika kau tidak meyakininya ada,” kata Charllotte sambil tersenyum.

Jleb yah! Continue reading

Advertisements