Kita adalah Mereka; dalam Novel Rindu

Kita adalah Gurutta Ahmad Karaeng dengan segala kegundahan yang menyelinap, meyakinkan diri, bertanya lagi, apakah diri sebenar-benar seperti apa yang telah terlanjur kita tuliskan dan kita nasihatkan?

Kita adalah Daeng Andipati dengan segala kebencian kepada orang yang seharusnya paling dicintai, terpaksa membenci karena kenyataan yang tak sesuai dengan harapan yang terlalu tinggi. Beraharap air pada teko yang tak berisi.

Kita adalah Bonda Upe dengan segala ketakutan masa lalu yang terlalu perih, merasa hina dina bahkan saat tiada satupun manusia mencerca secara terbuka, dalam kesendirian pun terpasung rasa tak berguna, tiada berani menatap pasti meski mungkin, beberapa orang tak terlalu mengerti dengan pahit-pahit di hati. Mungkin juga tak ingin peduli, kecuali diri-diri yang memang terpatri.

Kita adalah Mbah Kakung dengan segala cita-cita menapaki tanah suci yang dimimpi-mimpi semenjak menikah dengan Mbah Putri, tersebut dalam janji suci mengarungi kehidupan dengan hati dan kasih. Kemudian, mengurung diri, enggan sekali menerima kenyataan bahwa sang istri, Mbah Putri yang dikasihi sudah tak lagi di sisi, bahkan sebelum kapal Blitar Holland menjajaki Tanah Suci.

Kita adalah Ambo Uleng dengan segala kepedihan hati, mengubur hasrat untuk memiliki, menenggelamkan benih-benih kasih di dalam hati, mengutuk hari dengan melukai diri. Begitu kuatnya keinginan untuk menjauh pergi dari kenyataan-kenyataan yang tak kuasa untuk dihadapi, sendiri.

Kita adalah Anna; selalu ingin tahu dan tak puas dengan jawaban yang hanya satu kali.

Kita adalah Elsa; selalu mempunyai cara lain untuk mengekspresikan kasih sayang kepada saudari.

Kita adalah Kapten Philips; menghargai dan mencintai sesama, tanpa pandang agama, suku dan juga bangsa dan tentunya tanpa memaksakan orang lain untuk mencampur adukkan ideologi.

Kita mungkin juga Chef Lars, mungkin juga si Boatswain sang kelasi, atau mungkin sekadar dinding-dinding kabin yang tegak berdiri.

Kita adalah mereka. Ya, kita mungkin adalah mereka.

Mereka semua terrangkum dalam sebuah kapal perjalanan haji, Makassar – Tanah Suci – Belanda kemudian kembali ke tanah air lagi.

Mereka semua terrangkum dalam sebuah kapal bernama Blitar Holland.

Mereka semua terrangkum dalam kehidupan harmoni.

Dan aku melihat Islam di dalamnya,

Ya, harmoni.

Mereka semua memiliki cerita hidup yang terendap dalam hati, namun kemudian mereka menyerah kepada keadaan, menyerah pada kenyataan, menatap masa depan dan yang paling penting, mereka berserah diri kepada Illahi, berusaha mengembalikan semua pada tempatnya kembali, kemudian berusaha untuk mengubah nasib diri dengan kedua tangan juga kaki.

Mungkin, kita pun harus mencoba, menjadi seperti mereka.

Karena sejatinya, kita adalah mereka yang berada dalam perjalanan haji.

Karena sejatinya, kita tak pernah benar-benar memiliki, apapun itu.

Review on my goodreads

Senja Teduh

Berdiam,
Menikmati sore berganti malam
Menikmati senja berganti warna
Bermula, langit biru
Kemudian, sendu
Senja hari itu; teduh
Layaknya hati-hati yang berseru,
Mengadu-sedu pada Yang Maha Tahu.
Senja hari itu; berseri-seri
Layaknya hati-hati yang berserah diri,
Meminta hanya pada Sang Illahi.

20150428_175848-okr

28 April 2015 | sekitar pukul 18.00 | di Jalan Raya Kalimalang

Selamat Hari Buku

11053308_10205214742701664_1527146032426706012_n

Untukmu yang selalu berteman dan ditemani buku.

Untukmu yang selalu mampu menemukan sesuatu dengan buku.

Tak Selalu, Tak Selamanya

Tak selamanya ahli biologi mampu menjalankan kehidupannya dengan baik sebagaimana yang ia jabarkan di dalam kelas.

Tak selamanya pula, dokter psikolog mampu mengatasi permasalahan-permasalahan rumit dalam kehidupannya.

Tak selamanya, penulis terkenal dengan predikat buku yang selalu best seller mampu menciptakan perjalanan hidup secantik karya yang telah ia tuliskan.

Tak selamanya, seorang akuntan bisa mengatur keuangan pribadinya dengan baik, padahal untuk suatu perusahaan ia begitu teliti dan jeli mengatur penerimaan dan pengeluaran.

Tak selamanya, yang memberi manfaat itu haruslah yang kaya, haruslah yang pintar, haruslah yang berdasi, haruslah yang bermobil.

Tak selamanya, yang memberi inspirasi itu haruslah menjadi guru, haruslah menjadi ustadz/ustadzah, haruslah menjadi motivator.

Lalu, jika kamu bukanlah bagian dari apa yang tersebutkan di atas, lantas kau tak berbuat apapun untuk memberikan suatu manfaat, barang sedikitpun?

Lantas, kebahagiaan seperti apa yang kamu dapatkan? kalau bukan tersebab oleh senyuman tulus para penerima kasih sayang.

Tak perlu menjadi sesuatu untuk berbuat sesuatu, karena dengan berbuat sesuatulah, kau akan menjadi sesuatu.

Tak perlu menunggu kaya untuk jadi yang dermawan.

Kamu cuma perlu keberanian, berkarya, apapun itu.