Piknik & Butuh Diet


Senin, 21 Mei 2015

“Tikaaaaaaa, buruaaan… nanti kita ketinggalan pesawat niiihhh!” teriakku pada Tika dari ponselku.

“Santai Fan, ini masih jam 8 pagi, lu aja yang kerajinan, gw on the way kok, tunggu aja ya!” jawab Tika santai dari ponselnya.

“Ih, Tika….. yaudah, gw tunggu, bye..”, jawabku manja.

Inilah hari yang ku tunggu-tunggu, setelah 2 bulan lalu kami, aku dan Tika merencanakan untuk mengadakan perjalanan alias liburan ke Belitung. Ah… siapa yang tak mau liburan ke Belitung, yaaa meskipun kali ini perjalananku lagi dan lagi bersama dengan sahabatku itu, tak mengapa, mungkin tahun depan aku sudah bisa liburan dengan suami (eh).

Sepertinya memang aku yang terlalu bersemangat, datang ke bandara Soekarno Hatta 2 jam sebelum jadwal keberangkatan, jadilah Tika merasa aku teralu berlebihan. Ah, biar saja.. aku tak ingin menanggung resiko tertinggal pesawat hanya karena alasan macet, ataupun bangun kesiangan. Kalo begini kan aman.

Setengah jam kemudian, aku dan Tika bertemu dan langsung saja kami check-in dan menuju pesawat. Tepat pukul 10.00 WIB pesawat kami lepas landas.

Pukul 11 lewat 10 menit, pesawat kami mendarat di Bandara Tanjung Pandan. Kemudian bergegas menuju hotel yang telah kami booking sebelumnya. Letaknya tak cukup jauh dari Bandara dan dari Hotel, hanya butuh waktu 20 menit ke tempat wisata. Karena memang Hotel ini dikelilingi oleh berbagai tempat wisata terbaik di tanah Belitung.

Senin, 21 Mei 2015 | Pukul 14.00

Rencana perjalanan kami hari ini adalah menikmati indahnya senja di Pantai Tanjung Tinggi. Aku dan Tika segera menuju ke luar hotel dan menyewa ojeg di sekitaran Hotel. Maklum, kami wisatawan yang modal nekat, jadi mesti irit-irit di negeri orang hehe.

“Bang, antarkan kami ke Pantai Tanjung Tinggi ya..”, Tika mengawali percakapan dengan Tukang Ojeg dan untuk selanjutnya ia menyerahkan tawar-menawar harga kepadaku.

“Oke, deal. 2 ojeg 50 ribu rupiah!”, ucapku mengakhiri kegiatan tawar-menawar di siang hari menjelang sore itu.

Terletak sekitar 30 km dari pusat kota Tanjung Pandan, Pantai Tanjung Tinggi memiliki panorama yang memikat dengan pasir putih dan bebatuan granit. Inilah pantai di Belitung yang paling menawan dan populer, terlebih setelah dijadikan sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi beberapa tahun lalu. Di kanan kiri pantai ini, terdapat banyak bebatuan yang besar, membuat pantai ini semakin seru untuk dinikmati, aku dan Tika bisa bermain layaknya bocah-bocah pemeran film Laskar Pelangi itu, sambil tertawa riang, tanpa beban. Meski mungkin, masalah-masalah yang kami sedang hadapi cukup rumit. Ya, inilah waktunya untuk istirahatkan pikiran sejenak, untuk kemudian kembali menjalani hari-hari penuh tantangan saat kami pulang nanti. Besok malam, tepatnya.

Awan di Pantai Tanjung Tinggi menguning setengah jam sebelum masuknya waktu Maghrib waktu setempat. Tak mungkin aku dan Tika lupa untuk mengabadikan kesempatan terbaik dan terindah ini, sekadar selfie di depan kamera handphone masing-masing, dan juga berpose bersama di bawah indahnya senja Pantai Tanjung Tinggi pada waktu petang.

Tiba-tiba, Tika mengajakku duduk di hamparan pasir putih yang luas itu.

“Fan, kalau suatu saat kita gak bisa sama-sama lagi kayak gini, gimana perasaan lu?”, Tika bertanya spontan. Membuatku mengernyitkan dahi, kemudian berpikir keras.

“Hmmm… Maksud lu gimana, Tik?”, tanyaku memancing penjelasan yang lebih dalam lagi dari Tika.

“Iya, mungkin aja dan pastilah ada saat nanti di mana kita gak bisa terus sama-sama kayak gini, liburan bareng, belajar bareng, shopping bareng, tidur bareng dan bahkan mungkin aja, gw duluan yang menghadap Allah”, Tika menambahkan.

Sampai pada kata “gw duluan yang menghadap Allah”, dadaku bergetar, boom! seperti ada dentuman paku besar menancap dalam tubuhku. Apa maksud perkataan sekaligus pertanyaan dari sahabat karibku ini?

“Lu gak punya maksud apa-apa kan, Tik? Kita ke sini buat refreshing kan? Bukan untuk becanda-becandaan gak lucu kayak gini? Gw harap lu jelasin ke gw sejelas-jelasnya. Kalau soal kita mungkin gak bisa sama-sama karena hal-hal yang memang sudah sewajarnya, misalnya lu nikah duluan, ataupun gw nikah duluan, atau karena memang kita gak bisa nyatuin jadwal liburan kita, ya.. gw gak masalah sih. Kan masih ada waktu-waktu lainnya, toh kita gak selalu setiap saat ketemu kan?” Aku semakin kalut.

“Iya, Fan.. lu bener, yaudah… gw cuma mau tau aja, jawaban lu gimana”, jawab Tika singkat dan tampaknya masih ada hal yang ingin disampaikannya kepadaku.

“Yaudah yuk, sebentar lagi masuk waktu maghrib, kita siap-siap ke tempat sholat terdekat trus chao balik ke Hotel.” aku mencoba menenangkan suasana.

Ada hal yang sepertinya Tika sembunyikan dariku, pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan tadi seperti mengandung banyak makna. Ah, minimal satu makna yang sepertinya ini adalah hal besar. Tika, adalah teman terbaik yang pernah aku miliki. Kami berteman semenjak SMA, rumahnya tak begitu jauh dari rumahku. Kami sering bertukar tempat tidur, kadang aku tidur di rumahnya, kemudian sebaliknya. Begitu banyak hal-hal yang saling kami ungkapkan, ceritakan. Bahkan, sedikit banyak kami saling tahu tentang keluarga masing-masing. Sudah seperti saudara saja. Seringkali Ibu mengirimkan masakan ke rumah Tika, pun sebaliknya. Tak jarang, Ayahku dan Ayahnya mancing bersama di hari libur mereka. Mungkin karena kami adalah anak satu-satunya, jadilah kami seperti layaknya adik dan kakak, pun sebaliknya. Tubuhnya yang subur, tak jauh berbeda denganku, hanya memang posturnya lebih kecil jadi terlihat lebih gemuk dariku.

Usai sholat Maghrib, kami kembali ke Hotel tempat kami menginap dengan bantuan 2 tukang ojeg yang berada di sekitar Pantai Tanjung Tinggi. Kami sudah cukup puas menikmati deru ombak dan kuningnya senja di pantai itu. Mengesankan.
Selasa, 22 Mei 2015

Hari ini, rute wisata kami adalah mengunjungi Replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi, kemudian ke Pusat Kota Manggar dan terakhir ke Gangan – Wisata Kuliner Belitung. Lalu kembali ke Hotel untuk check out dan bersiap kembali ke Jakarta.

Usai sholat Subuh, aku dan Tika bersiap merapihkan perlengkapan kami untuk perjalanan hari ini di Belitung. Aku yang masih penasaran dengan pertanyaan Tika kemarin, memberanikan diri untuk bertanya ulang.

“Tik, sebenernya apasih yang lagi lu umpetin dari gw? pertanyaan lu kemarin bikin gw penasaran sampai hari ini, Tik!” tanyaku pada Tika.

Tika tersenyum manis, “Lu yakin, mau denger penjelasan dari gw sekarang? Ah, tapi kayaknya inilah waktu yang tepat untuk gw kasih tau ke lu, Fan.” katanya terhenti.

Aku semakin deg-deg-an.

“Tepat satu bulan lalu, gw divonis pre-diabetes sama dokter setelah gw ikut General Medical Check-Up atas rekomendasi kantor, gw sih belum ngerti banget pre-diabetes itu apa, tapi gw denger-denger, ini penyakit yang belum ada obatnya, ya… di situ gw beranggapan bahwa mungkin, gw akan lebih dulu menghadap Allah, Fan. Gw gak bisa sama-sama keluarga gw lagi, gw gak bisa main bareng lu lagi.. dan…. “, Tika serius menjelaskan perkataanya kemarin.

Mataku berbinar, sedikit menahan tawa.

“Hahaha, Tik… ternyata yaaaa selain tubuh lu yang berlebihan ini, pemikiran lu juga agak lebay, hahhaa (ups sorry), dengerin yah, sejauh yang gw tahu, pre-diabetes itu adalah tahap di mana kita harus cegah diri dari penyakit diabetes, nah.. sekarang lu masih punya waktu untuk mencegahnya, contohnya dengan berolahraga teratur, makan-minum yang sehat, istirahat yang cukup dan hindari makanan junkfood. Lagian, lu tau dari mana kalau gw yang kelihatannya sehat-sehat ini beneran sehat? Trus kalau gw sehat, gw matinya belakangan? atau kalau lu sakit, lu matinya duluan? Tahu dari mana neng?, ayolah… Lahir, Mati, Jodoh dan Rezeki itu cuma Allah yang tahu. Kayaknya lu udah tau deh… ya gak sih?” aku menjelaskan sedikit hal yang aku ketahui dari bercanda hingga serius.

“Jadi, sekarang gw masih punya kesempatan untuk hidup sehat donk, Fan? Kalo soal lahir, mati, jodoh dan rezeki Allah yang tahu sih… gw inget Fan, cuma mungkin karena saking parnonya, gw jadi terbawa emosi gini.” jawab Tika.

“Nah, yaudah… tahu gak, lu butuh apa sekarang? (selain butuh piknik ya pastinya, soalnya kita udah kebanyakan piknik hahhaa). Diet. Yak, lu butuh diet. Tapi diet yang sehat ya, jangan diet konyol yang kayak orang-orang lakuin di luar sana. Lagian, kalo masalah diet, kayaknya gw juga perlu nih, malah mungkin kalau gw ikutan periksa kesehatan gw, gw lebih gawat, Tik?!”, aku ikutan panik.

“Nah lho…. yaudah, mulai besok kita harus diet sehat ya, biar kita terbebas dari penyakit mengerikan itu.” pungkas Tika.

“Sip! Kita Butuh Diet!”, jawabku singkat dan tegas.

“Hahahhahahahhaa…” aku dan Tika tertawa bersama di atas tempat tidur hotel.

Konyolnya kami.

Kami sudah siap berangkat ke tempat-tempat wisata yang tadi telah kusebutkan. Kami kembali ke hotel pukul 3 sore dan kemudian bersiap kembali ke Jakarta.

Ternyata, cerita Tika tak seberat yang aku bayangkan. Haha.. kadang, dia memang terkesan panik dan kadang konyol. Tapi karena itulah aku merasa nyaman dengannya. Kekonyolannya membuat hari-hari jadi lebih berwarna. Contohnya ya tadi itu. Padahal, kadang-kadang aku juga konyol. Jadilah kami sahabat yang sama-sama konyol.

“Tapi, kenapa Tika gak ceritain masalah hasil check-up nya pas di Jakarta aja sih? Agaknya, liburan kali ini sedikit rusak gara-gara kepanikan Tika yang gak beralasan itu.” celetukku dalam hati.

 

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s