BukBer, Yuk!

Nah, temans… gimana hari-hari di bulan Ramadhan-nya? Sudahkah maksimal? Yang pasti jangan maksimal tidurnya yah, apalagi maksimal ‘gak maksimal’ ibadahnya.. *upss (saling mengingatkan boleh ya.. :D)

Ngomongin soal bukber, udah berapa banyak undangan bukber yang kamu terima sampai hari ini? Semoga gak sekedar bukber tanpa makna yah. Karena kalau sia-sia, sungguh kita jadi orang yang merugi. Padahal di bulan Ramadhan ini Allah sudah begitu baik kasih fasilitas untuk kita meningkatkan ibadah-ibadah kita dari bulan-bulan sebelumnya.

Nah, ibadah maksimal di bulan Ramadhan lumayan banyak kan ya, termasuk sedekah di bulan Ramadhan adalah sunnah Rasulullah saw. Dalam hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan: “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadhan..”. Tuh kan, bertambah kedermawanannya, bukan hanya tiba-tiba menjadi dermawan. Meskipun jika demikian yang terjadi, tak ada salahnya. Hehe 😀

Dalam rangka bukber-bukber-an, tahun ini saya kembali mengikuti kegiatan BukberAkbarPAY yang diselenggarakan oleh Komunitas Pcinta Anak Yatim atau biasa dikenal di twitter dengan akun @PcintaAnakYatim. Setelah pada tahun 2013 lalu saya menjadi relawan di acara tersebut, tahun 2015 ini saya rindu ingin membantu acara itu lagi. BukberAkbarPAY ini adalah agenda rutin dari komunitas Pecinta Anak Yatim yang dilaksanakan di bulan Ramadhan, selain kegiatan menyantuni ribuan anak yatim dan dhu’afa, BukberAkbarPay ini juga memberikan edukasi kepada anak-anak yatim yang biasa disebut LaskarLangit ini untuk berkarya dan berdayaguna untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Tahun ini, #BukberAkbarPAY2015 insyaa Allah akan dilaksanakan dalam 2 waktu dan 2 tempat, yaitu pada tanggal 28 Juni 2015 di Masjid Istiqlal bersama 1000 #LaskarLangit dan tanggal 5 Juli 2015 di Kantor RRI (Radio Republik Indonesia) bersama 2000 #LaskarLangit.

Trus, teman-teman yakin gak mau ikut partisipasi dalam acara yang insyaa Allah diberkahi Allah dan dicintai oleh Rasulullah ini?

Semoga jawabannya: “Tentu Tidak, Niel!”

Makanya, yuk ikut bersedakah secara maksimal untuk acara yang insyaa Allah yang tidak akan sia-sia ini. Kamu bisa salurkan sedekahmu melalui rekening:

BSM 7060989189 a.n Yayasan Pecinta Anak Yatim

Mandiri 1180022288996 a.n Yayasan Pecinta Anak Yatim

BNI 0272481794 a.n Yayasan Pecinta Anak Yatim

BCA 6470165993 a.n Zulhaq Ramadhan

Format Transfer:
Mohon cantumkan angka “333” di tiga digit belakang nominal transfer, misal Rp. 500.333,- (untuk memudahkan pencatatan)

Konfirm melalui sms:

Nama-bank tujuan donasi-nominal, ke 082122292094

Gak perlu ragu, berapapun yang ingin kamu sedekahkan, tak akan pernah ditolak dan tak akan sia-sia. Malaikat insyaa Allah mencatatnya. Kalau ada yang ingin ditanyakan, boleh langsung menghubungi saya. Kalau sudah tahu nomor saya, silakan japri. Kalau belum tahu, silakan via email: anila.gusfani@gmail.com

Ciyeeee… yang udah gajian jangan didekap aja tuh gajinya, disalurkan, biar berkah bertambah-tambah, masyaa Allah. Fastabiqul khairat alias berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dianjurkan dalam al-Quran.

Jadiiii… selain bukber sama teman-teman kamu, dengan bersedekah kamu juga sudah berbuka bersama 3000 anak yatim dan dhu’afa. Semoga berkah ya!

Yuk ah, bukber!

Rasulullah SAW bersabda:

Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. Tirmidzi).

Advertisements

Duhai…

Duhai engkau yang berjalan di atas kebenaran

Begitu banyak di luar sana yang sedang mencari-cari di manakah kebenaran itu berada

Begitu banyak di luar sana yang berusaha menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya

Bahkan mereka berjalan sampai begitu jauhnya,

demi mencari tahu darimana kah dirinya berasal,

lalu akan kemanakah dirinya setelah bumi ini benar-benar hancur.

 

Duhai engkau yang menopang amanah risalah

Di setiap diri-diri ini, tertetapkan bahwa diri adalah penerus dakwah

Di setiap jiwa-jiwa ini, tertugaskan untuk memberi petunjuk kepada kebenaran

Di setiap hati-hati ini, terwajibkan agar memberikan nasihat dalam kebaikan

Baik kepada mereka yang belum mengetahui,

pun bagi mereka yang sedang tersesat jalannya,

kemudian itulah nilai diri yang wajib dipertahankan.

 

Duhai jiwa-jiwa yang rela berlelah-lelah

Bukan karena imbalan uang

Bukan karena rayuan jabatan

Melainkan karena cintanya kepada pemilik alam semesta sekalian

Karena rindunya menyongsong kemenangan Islam

Karena inginnya bertemu dengan kekasih Rabb semesta alam

Bersabarlah

Bertahanlah

Berlapang-dada-lah

Bersyukurlah

Allah masih tancapkan hatimu pada tali-tali agama ini.

Semoga menjadi hujjah buatmu di akhirat nanti.

Hari ke-23 ?

Gak nyangka ya, ini udah hari ke-23 program #NulisRandom2015 yg saya ikutin semenjak awal bulan Juni. Baru tersadar saat tadi pantau TL Twitter dan ada retweet-an dari akun nulisbuku tentang tulisan random followersnya.

Nah, sebenernya banyak faktor yang membuat saya beberapa kali absen menulis dalam satu hari. Karena malas, udah pasti. Karena gak ada ide apa yg ingin dituliskan, klise banget ya?! dan yang paling menghambat sepertinya ini: keberatan mikir, pengennya bikin tulisan yg bagus, yang kelihatan mikir dan gak asal. Yaaa… sebenarnya justru bagus sih punya keinginan seperti itu. Tapi kalau akhirnya malah jadi menghambat program nulis random saya, gak oke juga yak.

Begini, memang idealnya tulisan itu haruslah yang bermanfaat buat orang banyak. Tidak menjerumuskan apalagi hanya sekedar nyampah. Tapi kembali lagi ke tujuan awal dari program #NulisRandom2015 ini adalah agar terbiasa menulis setiap harinya, dan sesuai dengan judulnya yaitu nulus random, gak bertema dan otomatis bebas, maka sepertinya saya harus tetap menulis, setiap hari dan tentang apapun itu. Ah, semua pasti ada hikmahnua kok. Sekecil apapun hal yang akan dibahas dalam sebuah tulisan. Ya gak?! Iya-in aja deh.

Ah, tapi tetap saja saya maunya nulis tulisan yang baik dan bermanfaat. (Miss Perfect: mode ON) Kalau hanya sekedar curhat-curhat gak jelas, udah bukan masanya lagi mungkin buat saya. Apa boleh buat, bahkan tulisan ini pun sekarang menjadi random. Cling!

Hap hap, gapapa lah ya. Akhirnya, sebelum hari ini berakhir, saya sudah tunaikan tugas menulis hari ini. Meski semenjak beberapa hari yang lalu, saya masih saja ‘PHP’-in buku yang belum rampung saya baca. Target-target harus tercapai.

Ayo bilang

SEMANGAT!!!

Doraemon!

Hahaha :p

Spirit Hidup untuk Ibadah

Taraaa… daku kembali lagi menulis lis lis.
Yang pasti, daku menuliskan ini dengan modal membaca. Kalo enggak, yaudah daku bingung mau nulis apaan.

Ini adalah pembayaran hutang menulis ke-3 yang deadline-nya memang hari ini. Selain memang belum dapat ide tema yang berbeda, izinkan sekali lagi daku menuliskan ulang hikmah dari #NgajiHikam yang ditwit oleh akun pesantren @sidogiri ya.

Tentang kamu… eh bukan… masa iya #NgajiHikam judulnya gitu.. Hahaha..

Spirit Hidup untuk Ibadah

“Dengan mengingat semua anugerah Allah kepadamu, maka akan langsung muncul pengharapan (raja’) dari hatimu. Dengan melihat pengabdianmu kepada-Nya, maka akan timbul rasa khawatir (khauf) dari dalam dirimu.”

Mengingat anugerah Allah yang tak terhingga, Anda pasti tahu QS. Ibrahim ayat 34 ini:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Alllah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Selama ini nikmat Allah salalu berlimpahan. Kesehatan fisik yang selalu bugar; pasokan ikan atau makanan yang tak pernah ada habisnya. Cadangan oksigen yang terproses otomatis, agar selalu segar saat dihirup; juga mineral bumi yang tak pernah habis meski terus ditambang. Bahkan, jutaan spesies tanaman bisa dikonsumsi, juga dapat diproses menjadi obat terapi penyembuhan. Semuanya adalah nikmat Allah. Seakan semua yang ada di bumi ini tersedia untuk melayani kebutuhan manusia.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. al-Isra’ ayat 70.

Melihat bukti anugerah Allah yang begitu besar tadi, apakah Anda masih merasa tak disayang Allah? Ataukah malah akan mendurhakai-Nya? Tentu saja Anda tak akan seperti itu. Yang ada justru pengharapan: semoga limpahan rahmat Allah itu membawa berkah bagi kehidupan Anda.

Seumpama ada seorang dermawan memberi Anda uang sebesar Rp. 1 Miliar, apakah Anda akan tega menipu dermawan tersebut? Tentu saja tidak!. Fitrah manusia pasti mengarah kepada kebaikan. Sebab seburuk apapun watak manusia, ia pasti punya secuil sisi positif dalam hati dan akalnya.

Selanjutnya adalah melihat batas pengabdian Anda kepada Allah. Sebesar apakah pengorbanan Anda selama ini untuk dipersembahkan kepada Allah?. Kata al-Buthi, sebenarnya Anda tak punya hadiah apapun untuk Allah. Amal shaleh dari perbuatan Anda setiap hari, sangat tidak setimpal. Lima waktu shalat sehari, hanya bisa menebus kewajiban ibadah Anda sebagai umat Rasulullah. Shalat itu untuk Anda, bukan untuk Allah. Nilai ketaatan Anda, juga hanya seumur jagung. Setelah kelihatan buahnya, malah rontok dihantam hasrat duniawi sekuat puting beliung.

Padahal Allah sering memperingatkan Anda tentang tipu muslihat dunia. Lihat QS. al-Fathir ayat 5:

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”

Dunia ini sekedar hiburan, yang pastinya bukan menjadi tujuan hidup.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” QS. al-Ankabut ayat 64.

Nah, amal kebaikan yang tak sepantasnya dihadiahkan kepada Allah tadi seharusnya membuat pikiran Anda khawatir. Mengapakah demikian? Karena modal amalan Anda tak sebanding dengan balasan surga dari Allah; disamping juga Anda khawatir tak ikhlas beramal untuk Allah. Jika mau dibandingkan, sebenarnya kebaikan yang Anda lakukan di dunia tak bisa menyalip nilai nikmat yang Allah berikan untuk hidup Anda.

Inti dari hikmah tadi, ada dua kata kunci yang harus Anda pahami secara benar yaitu raja’ (pengharapan) & khauf (rasa khawatir). Meski kenyataanya, masih ada saja orang yang hendak membandingkan kebaikan Allah dengan kebaikan versi manusia secara tak proporsional.

Antara Raja’ & Khauf sama-sama penting bagi kehidupan muslim. Maka mulailah untuk mengadaptasikan dua hal ini dalam aktivitas harian Anda. Raja’ berguna untuk memotivasi hidup; agar Anda selalu bersemangat dalam beraktivitas, ataupun juga dikala beribadah menghadap kepada-Nya. Sedangkan Khauf berfungsi sebagai rem; agar Anda selalu ingat beribadah; agar Anda tak hidup sombong hanya dengan bermodalkan ‘kesuksesan’. Buatlah hidup Anda begitu berarti, yang punya nilai positif dan termotivasi untuk Allah. Jadikan diri Anda berguna bagi Agama dan Bangsa.

Lagi-lagi daku menuliskan ini rasanya sambil tepok-tepok muka sendiri. Tapi apalah arti “tepok-tepok muka sendiri” kalau akhirnya tak ada perubahan signifikan dalam ibadah saya kelak. Astaghfirullah

Kenali Isi Hatimu

Masih meneruskan pembayaran hutang menulis saya yang ke-2 dan saya masih tergoda untuk berbagi ulang tentang #NgajiHikam yang ditwitkan oleh akun pesantren @sidogiri. Kali ini dengan tema yang lebih seru lagi. Kenali Isi Hatimu.

“Cahaya kebenaran itu munculnya dari hati nurani dan ruh istimewa anugerah ilahi.”

Karena hubungannya dengan gerak hati yang bersifat abstrak. Selama ini, kata hati dianggap sekedar praduga saja. Tak bernilai kebenaran. Padahal Islam tidak memandang demikian. kekuatan hati akan dianggap sebagai sebuah kebenaran, jika ia sampai pada taraf tertinggi yaitu yakin.

Diantaranya, ketika hati telah terhubung langsung dengan Allah. Seperti kata ayat QS. al-Anfal Ayat 2 yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Sebab meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Esa adalah absolut. Muslim yang hatinya meyakini ketuhanan Allah berarti telah mengenal kebenaran. Lihat pula, bagiamana seorang Muslim yang hatinya begitu khusyuk saat menyebut asma-Nya; QS. al-Hadid ayat 16:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.”

Lho, bukankah metode paling maju untuk menemukan kebenaran itu seharusnya menggunakan nalar akal? Atau dengan berfilsafat, misalnya?

Kata al-Buthi, justru jika hanya bermodalkan nalar akal, hasilnya malah tidak maksimal. Sebab nalar akal itu ambigu; bisa benar, bisa salah. Yang mengkhawatirkan, nalar akalnya terbawa arus nafsu manusiawi. Bisa jadi bukan kebenaran yang dicapai, tapi malah sesat-menyesatkan. Allah telah memperingatkan orang Muslim tentang kekhawatiran ini dalam QS. al-A’raf ayat 175:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”

Ilmu pengetahuan bukan membawanya makin dekat kepada Allah, malah menjauhkan. Ini gambaran paling mudah bagaimana ilmu yang tidak barokah.

“Bertambahnya ilmu pada seorang bandit agama, layaknya menuangkan air ke dalam gelas pahit. Diminum malah mencekik,” kata Imam Ghazali. Gerak hati yang positif dengan yang negatif jelas berbeda; antara hati yang bening dengan hati yang teracuni nafsu manusiawi tidak sama.

Lalu bagaimanakah cara mengetahui dua indikasi hati yang sama-sama abstrak itu? Jawabannya, lihatlah cara hatinya merespon kebenaran. Hati yang bening ketika dilimpahi nikmat oleh Allah, biasanya ia akan bersyukur. Mata hatinya melihat kebenaran kasih sayang Allah. Sebaliknya, hati yang teracuni nafsu biasanya merasa sombong saat dilimpahi nikmat. Hatinya dibutakan oleh nafsu manusiawinya sendiri.

Nah, kembali ke lanjutan hikmah di awal pembahasan tadi. Bahwa kebenaran ke-dua berasal dari ruh istimewa anugerah dari Allah. Hal istimewa ini juga disebut sebagai “nur hidayah” seperti redaksi QS. an-Nur ayat 35 ini

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahayanya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Hidayah ini juga menjadi penopang utama gerak hati positif tadi. Ia adalah ruh suci yang dulu pernah Allah tiupkan pada seluruh manusia. Perhatikan dan renungilah secara benar QS. al-Hijr ayat 29:

“Maka apabilah Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Kesimpulannya, jika hati yang positif & ruh istimewa tadi telah menyatu dalam diri seorang Muslim, apakah gambaran Anda selanjutnya? Tentu saja, yang terlihat adalah manusia sempurna dengan kualitas & kuantitas iman yang paling baik. Pikiran dan hatinya menuju pada Allah. Muslim yang seperti ini pasti menjadi idaman seluruh manusia. Pertanyaan terakhir, kenapa bukan Anda saja yang menjadi muslim demikian?

Nah …..

Saya juga ng… ng… ng… nih 😀

Sebelum sampai kepada menjadi muslim yang demikian, tulisan di atas mesti saya baca berulang-ulang karena agaknya, urusan hati nurani dan ruh istimewa ini cukup berat pembahasannya.

Aduh Niel, gaya bener mau baca ulang, padahal mah masih marathon nulis hutang ke-3 :))

Jadikah Hidup Lebih Berwarna

Libur ternyata mempengaruhi mood untuk menulis (alasan) Haha… Tapi memang benar (pembenaran). Apalagi kalau di rumah keadaannya sedang ramai, banyak bocah pun… INI serius alasan. Berarti saya punya 3 hutang menulis sampai hari ini. Untuk itu, kali ini akan saya bayar dengan tulisan (ulang) tentang #NgajiHikam dari akun twitter Pesantren @sidogiri. Akun ini aktif memberikan kajian #NgajiHikam setiap harinya. Nah, karena 2 hari kemarin saya tidak menulis, minimal saya membaca lah ya. Maka, berikut hasil kultwit tentang #NgajiHikam.

Judulnya begini: Jadikan Hidup Lebih Berwarna

“Ketika alur hidup yang menyenangkan sudah tidak membawa ketenangan, ternyata kegalauan malah jadi jalan keluar yang positif.”

Hidup dengan kekayaan yang melimpah, atau hidup serba melarat penuh musibah, dalam perspektif manusia sebenarnya sama saja: relatif. Pola hidup kaya belum tentu menjamin ketenangan hati, sebab harta pasti akan jadi hantu bagi pemiliknya. Kekayaan kadang menjerumuskan. Begitu pula hidup miskin, bukan jadi pemicu kegalauan hati, sebab terlepas dari tanggungjawab harta justru jadi solusi hidup yang paling baik. Tapi tidak bagi Muslim yang mampu menalar hakikat takdir dengan benar. Bagi mereka, segala macam bentuk kehidupan adalah baik. Hidup miskin ataupun kaya, sama-sama punya posisi positif & nilai hikmah yang mendalam di setiap episode. Allah pasti menakdirkan yang terbaik.

Pertanyaanya, mengapa Allah tidak menakdirkan semua Muslim jadi kaya raya saja; agar mereka hidup tentram; agar mereka hanya fokus ibadah? Sebagaimana penjelasan tadi, Anda tidak bisa memvonis hidup kaya sebagai jalan baik, sedang hidup miskin sebagai jalan buruk. Salah kaprah. Sebab jika seumur hidup Anda ditakdirkan kaya, bisa jadi Anda malah melupakan Allah, lantaran sibuk memprosentase harta sendiri. Atau malah Anda akan menantang takdir, mengira bahwa kekayaan Anda itu adalah hasil jerih payah Anda sendiri. Bukan pemberian Allah. Bagi mereka yang tidak bisa bersabar, sepanjang umur hidup dalam kemiskinan juga tidak terlalu memotivasi, sebab akan memicu pesimisme.

Beruntung sekali Allah mengatur hidup ini sesuai dengan siklus kita sendiri: di satu waktu Anda susah, di waktu lain Anda senang. Akal manusia awam mungkin saja tak bisa menalar kebaikan di setiap takdir Allah. Yang jelas, setiap peristiwa pasti ada hikmah baiknya. Musibah, bagi muslim yang cerdas, bisa berarti peringatan: sudah waktunya ia kembali mendekatkan diri pada Allah & memohon ampunan-Nya. Bagi mereka, musibah bisa berarti pukulan keras: ialah saat mereka mulai melupakan Allah. Mengisyaratkan bahwa takdir tidak bisa diterobos. Maka ketika Allah menimpakan musibah, Anda jangan langsung pesimis. Anda harus optimis, seberat apapun problem yang Anda hadapi.

Sebaliknya, senikmat apapun hidup Anda sekarang, jangan buat mata hati Anda kalap lalu buta. Dunia akan menyeret ketenangan hidup Anda. Pasrahkan nasib Anda hanya kepada Allah; harus husnudz-dzan. Biarkan Allah yang menentukan takdir untuk kebaikan masa depan Anda kelak.

Nah, demikian ngaji hikam di sore hari, Ahad kemarin, 21 Juni 2015.

Simple, tapi ngena’ sih kalau menurut saya. Ternyata benar, kaya dan miskin itu bukan ukuran kita bahagia atau tidak. Tapi cara kita menyikapinya-lah yang membuat kita lebih berharga di mata Allah. Kaya dan miskin, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Karena bagi Muslim yang pemahamannya benar, keduanya adalah cobaan/ujian sekaligus solusi dalam kehidupan.

Karena Allah Menghendakinya

Hari ini, kembali saya diingatkan bahwa begitu besarnya nikmat Iman Islam yang Allah karuniakan kepada saya semenjak saya kecil. Meski saya berislam karena keturunan dari orangtua, tapi kembali saya bersyukur untuk yang kesekian kalinya, Allah masih memberikan hidayahNya untuk saya mengimani Islam. Sampai saya benar-benar mengerti dan meyakini Islam, dan kiini berislam bukan lagi karena orang tua saya Islam, tapi karena Islam adalah agama fitrah yang dengan sadar saya pahami dan saya imani.

Ditengah hiruk-pikuk para pemuda islam yang kini ramai berhijrah, ternyata terselip satu atau dua orang yang Allah goyahkan hatinya untuk melepaskan nikmat iman Islam. Na’udzubillah. Di tengah begitu derasnya arus para pencari kebenaran di luar negeri sana, yang akhirnya menemukan Islam, menemukan arti kehidupan, menemukan alasan-alasan mengapa mereka hidup dan ke manakah mereka setelah mati?, ternyata masih ada sedikit orang yang Allah kehendaki untuk tersesat. Astaghfirullahal’adziim.

“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” ‪(Ibrahim: 4)

Setelah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, tak serta merta kita aman dari ancaman syaithan yang membisikkan kemaksiatan bahkan sampai kepada kesesatan dan lalu murtad dari agama Allah. Allah memberi kesesatan kepada sesiapa yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada sesiapa yang Ia kehendaki pula, dan tidaklah mungkin Allah memberikan kedua hal ini tanpa alasan yang jelas. Hati, sikap dan perilaku kita sehari-hari sangat mempengaruhi. Dengan siapa kita bergaul, bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari adalah indikasi bahwa sebesar apakah diri kita yakin dan percaya akan keberadaan Allah swt, yakin akan kekuasaa-Nya dan yakin akan pertolongan-Nya.

Iman adalah hal yang tak mudah diterka, iman itu selalu naik turun,

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

maka, banyak hal yang harus kita lakukan agar iman ini terus terjaga, tak goyah oleh harta, tak hancur oleh tahta juga wanita. Sedikit dari banyak cara yang bisa kita lakukan adalah dengan cara berkumpul dengan orang-orang sholeh, senantiasa membaca Al-Quran dan berusaha memahami artinya, membaca buku-buku tentang Agama Islam dan berdoa agar terus ditetapkan hati kita dalam Iman Islam dan ALlah matikan dalam keadaan Islam pula.

Salah satu doa yang seringkali dibaca oleh Rasulullah saw,

“Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa dinnika wa ‘alaa tho’athik.”

yang artinya:

“Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati,  tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

Begitulah, memang benar Allah yang menghendaki segala sesuatu, namun diri kita-lah yang paling bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Tersesat kah? atau Kembali pada jalan Allah? Itu memang pilihan, dan setiap pilihan akan mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Semoga Allah istiqomahkan diri ini dan saudara-saudari muslim saya di seluruh penjuru dunia. Semoga Allah teguhkan dan kokohkan Iman Islam kita, hingga syaithan-pun tak mampu menembus kekuatan pertahanan hati kita agar kita tak ikut tersesat bersama dengannya. Baik syaithan yang tidak berwujud (jin) maupun syaithan yang berwujud (manusia). Aamiin.