Pemimpin Tak Takut Media


Dahulu, penyair adalah orang yang paling berpengaruh untuk mengangkat dan sekaligus menghancurkan citra pemimpin. Maka siapapun yang ingin memiliki kekuasaan pada masa itu, haruslah menjaga hubungan dengan para penyair. Jika diibaratkan, jaman sekarang penyair itu layaknya media. Mereka bisa saja menaikkan citra para pemimpin dengan syair-syair mereka, namun sebaliknya, mereka pun bisa dengan mudah menjatuhkan citra pemimpin tersebut, maka penyair cukup ditakuti oleh pemimpin saat itu. Biasanya setelah ada pemimpin yang menjabat, para penyair ini berdiri di depan istana seperti mengantri sembako, atas puisi/syair ‘kebaikan’ yang mereka buatkan untuk sang pemimpin.

Suatu ketika, saat Umar bin Abdul Aziz baru menjadi pemimpin, para penyair itu tidak berani melakukan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Namun, ada 1 penyair yang meminta masuk untuk menemui Umar bin Abdul Aziz. Ia berkata kepada penjaga istana “Saya musafir, saya butuh makan  & ongkos untuk pulang”. Setelah dimintain persetujuannya, maka Umar bin Abdul Aziz pun memperbolehkan penyair itu masuk. “Kau penyair yang membuat syair/puisi yang begini dan begitu?” Tanya Umar. “Iya”, jawab penyair. Lalu Umar bin Abdul Aziz berkata “Aku tidak takut dan tidak peduli dengan syair-syair mu, sekarang apa maksud kedatanganmu?”. Penyair itu menjawab, “Aku sedang safar, dan aku butuh ongkos untuk kembali pulang”. Kata Umar, “Untuk syair-syairmu, aku tak punya apa-apa, tapi untuk safarmu, aku akan berikan dan aku ambil dari gajiku”. (Ini artinya, Umar bin Abdul Aziz tidak mau pakai uang negara untuk membiayai penyair yang mengaku sedang safar). Setelah penyair itu keluar dan ditunggu oleh kawan-kawan penyair lainnya, lalu mereka bertanya, “bagaiamana?”. Lalu penyair itu berkata, “Sudahlah, pemimpin ini adalah pemimpin yang memberi karena kita miskin, bukan karena syair-syair kita”.

Semenjak itu, tradisi penyair-penyair yang mengantri di depan istana dan menunggu jatah dari pemimpin itu terhapuskan.

Beginilah Umar bin Abdul Aziz, ia yang memang tidak punya track record jelek dan memang dikenal baik oleh masyakarat, dia tidak akan pernah takut dengan syair-syair yang dibuat oleh para penyair tentang dirinya. Karena memang tak ada hal buruk yang dapat mereka buatkan syair untuk Umar bin Abdul Aziz.

Masihkah ada pemimpin yang tak takut “media” seperti Umar bin Abdul Aziz ?

Kebaikannya dikenal oleh masyarakat/rakyatnya, bukan karena berita yang dibuat-buat. Kebaikan yang dibuat bukan juga sebagai bahan untuk membangga-banggakan dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s