Memahami Makna Yang Kita Baca


Al-Qur’an adalah kitab yg telah Allah sempurnakan, diturunkan pada masa kenabian Muhammad Rasulullah SAW.

Bagi kita yg sudah baligh, harusnya sudah cukup hafal dengan surat-surat pendek yg biasanya dibaca saat sedang sholat (setelah surat al-Fatihah). Bahkan anak kecil jaman sekarang-pun sudah hafal. Masa kita kalah sama anak kecil? :p

Persoalannya adalah… seberapa jauh dan dalamnya-kah kita paham makna yg terkandung dalam ayat demi ayat yg kita baca setiap sholat atau di setiap rakaat? Jangan dulu makna tersirat, bahkan arti yg tersurat-pun kita luput dari mempelajarinya. Iya kah? Kalau jawabannya tidak, berarti benar sekali, tulisan ini hanya diperuntukkan pada diri penulis sendiri.

Seperti nasihat seorang ulama ‘Ikatlah ilmu dengan menulis’, maka saya akan mencoba menuliskan arti yg tersurat dalam surat-surat pendek dalam Qur’an. Tujuannya untuk mempertajam ingatan saya sendiri dan mampu memahami makna dari bacaan yg biasa kita baca dalam sholat.

Bismillah, pada kesempatan kali ini saya akan tuliskan arti dan sedikit ulasan tentang kandungan dari surat Al-Faatihah.

Al-Faatihah (Pembukaan)
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Berarti, saya memulai membaca Al Faatihah ini dengan menyebut nama Allah. Tiap-tiap pekerjaan yang baik itu hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya.

Allah ialah nama Zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya; yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk membutuhkan-Nya.

Ar Rahmaan (Maha Pemurah) adalah salah satu nama Allah, yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedah Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi peringatan, bahwa Allah senantiasa bersifat rahmat yang menyebabkan Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah kerena perbuatannya yang baik yang dikerjakan dengan kemauannya sendiri. Maka memuji Allah berarti menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya lebih baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya, kita menghadapkan segala puji kepada Allah ialah karena Allah adalah sumber dari segala kebaikany ang patut dipuji.

Rabb (Tuhan) berarti Tuhan yang dita’ati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafazh “rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti: rabbul bait (tuan rumah).

‘Alamin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam semesta, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua alam-alam itu.

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

4. Yang menguasai hari pembalasan.

Maalik (Yang menguasai), dengan memanjang “mim” ia berarti: pemilik (yang empunya). Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan “mim”) berarti raja.

Yaumiddin (hari pembalasan): hari yan di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.

5. Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Na’budu diambil dari kata ‘ibaadah: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

Nasta’in (minta pertolongan), diambil dari kata isti’aanah: mengaharap bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri.

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Ihdina (tunjukilah kami), diambil dari kata Hidaayah: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekadar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufiq.

Jalan yang lurus  yaitu jalan hidup yang benar yang dapat membuat bahagia di dunia dan akhirat.

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada  mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mendustakannya), dan bukan (pula jalan) jalan mereka yang sesat.

Mereka yang dimurkai adalah mereka yang sengaja menentang ajaran Islam. Mereka yang sesat adalah  mereka yang sengaja mengambil jalan lain selain ajaran Islam.

Demikian arti dan makna dari surat Al-Faatihah yang sebetulnya paling sering kita baca dan kita dengarkan. Semoga dengan mengetahui arti dan maknanya, dapat menambah kekhusyuk-an kita dalam sholat maupun berdoa, meminta kepada Allah, dengan keadaan sadar dan ikhlas mengharap dari Allah.

Sumber:  Buku Tafsir Al-‘Usryr Al-Akhir

 

Advertisements

2 thoughts on “Memahami Makna Yang Kita Baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s