Perjalanan Berkah


Saya selalu mencoba merangkum dan menyimpulkan hikmah-hikmah yg terserak dalam tiap kejadian dalam hidup saya. Termasuk menyimpulkan hikmah yang saya dapatkan saat kemarin berkumpul dengan keluarga.

Kami mengadakan perjalanan yg cukup jauh, dengan tujuan Pesantren Darunnajah Cipining-Bogor, kami hendak menjemput keponakan saya, Fatih Murza Ghulam, bocah berusia 9 tahun yang sudah selesai ujian sekolah dan rencananya akan dipindah sekolahkan lagi ke Padang, kampung halaman orangtuanya. Sebenarnya, kepindahan itu bukan karena ‘pulang kampung’ tapi karena tugas pekerjaan ayahnya yg berpindah-pindah, membuat Fatih yg biasa dipanggil Abang ini, selalu kebagian pindah sekolah sana-sini.

Sebelum berangkat, saya siapkan sebuah buku untuk dibaca dan sebuah mushaf, tak ketinggalan buku tulis dan pulpen pun saya bawa. Saya membawa barang layaknya akan pergi ke suatu pengajian. Tapi secara tidak sengaja, setelah perjalanan menuju Bogor itu hampir sampai dan waktu menunjukkan malam hari, saya-pun baru menyadari bahwa saya telah menyelesaikan kewajiban mengaji ditambah membaca beberapa lembar dari buku yg saya bawa tadi. Seketika saya bertanya-tanya, apakah perjalanan ini diberkahi Allah? Benarkah perjalanan seperti ini bisa disebut berkah? Perjalanan yang di dalamnya kita isi dengan kegiatan-kegiatan yg bermanfaat, bukan diisi dengan kegiatan yg sia-sia. Dan saya hanya mampu berharap dan memohon kepada Allah, semoga benar demikian.

Setelah segala perlengkapan menjemput si Abang Fatih sudah siap, kami menuju Jakarta untuk pulang. Di perjalanan pulang, terjadilah percakapan-percakapan yang menarik antara saya, kakak kandung, mama dan kakak ipar saya. Secara garis besar kami berbincang soal agama. Pembahasan yang ringan dan mendasar namun rasanya, kami menikmati diskusi itu. Tentu silang pendapat kerap terjadi, namun beberapa kali kami bergantian menjadi penengah. Sampai mama saya berkata “Duh, coba ya kita bisa sering-sering ngobrol agama kayak gini di rumah, senang sekali, tapi yang ada anak-anak mama jarang di rumah kalo hari libur.” (ini sih lebih ditujukan untuk saya yg suka terbang sana-sini).

Kemudian, seketika saya-pun kembali bertanya-tanya, apakah ini berkahnya? Bisa berbagi dengan keluarga. Karena Alhamdulillah, saya memilih untuk membersamai keluarga di hari kemarin, dibanding mengikuti agenda lainnya. Ah, keluarga saya lebih berhak atas saya kan? Jadi rasanya tak apalah, karena seharusnya keluarga tetap jadi prioritas kita.

Pada akhirnya, perjalanan berkah adalah perjalanan yg memungkinkan kita untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Setidaknya, ini menurut saya. Dan hanya kepada-Nya lah, saya berharap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s