Antara Kewajiban Dakwah & Hidayah


Perjalanan saya dengan keluarga beberapa hari yang lalu agaknya menelurkan beberapa catatan. Tentunya catatan-catatan ini lebih dibutuhkan oleh si penulis dibanding si pembaca, sebagai air yg jatuh setetes demi setetes di daun yang hijau, demi mengingatkan, membersihkan debu-debu yg mungkin hinggap dan menempel pada permukaan daun.

Ada satu hal lagi yg saya simpulkan. Dakwah itu adalah kewajiban bagi setiap diri muslim. Dalam surat At-Tahrim ayat 6 disebutkan bahwa:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

maka dakwah yang paling utama adalah dakwah kepada keluarga. Dakwah keluarga adalah termasuk dakwah yg palig sulit, tantangannya sangat besar. Namun justru dengan berdakwah ke keluarga, kita bisa belajar mengenai banyaknya karakter target dakwah. Beda orang, beda sifat dan beda treatment.

Segesit apapun dan seulet apapun kita mendakwahi, terutama kepada keluarga, hidayah yg datang adalah benar-benar hak prerogative Allah. Dia-lah yg menentukan sesiapa yg diberiNya hidayah atau pun sesiapa yg tak diberiNya hidayah. Bahkan tak jarang, keluarga kita dapat hidayah justru setelah didakwahi oleh orang selain kita, melalui orang lain itulah mereka secara bertahap memahami maksud dari apa-apa yg mungkin pernah kita ingatkan, baik dari teman dekatnya sendiri atau pun melalui media tv, dll.

Contoh realnya adalah kakak saya, beberapa tahun yang lalu, saya memiliki 1 kakak perempuan yang belum menutup auratnya, secara terang-terangan dan terselubung saya dan 1 kakak peremuan saya lainnya, mencoba mengingatkan, namun pada akhirnya, kakak perempuan saya itu justru tergerak hatinya setelah didakwahi oleh teman dekatnya yg juga baru berhijrah, bahkan teman dekatnya adalah contoh ironis buat kakak perempuan saya, cara berpakaian teman dekatnya yg dulu ia kenal begitu cuek, kini berani hijrah menutup aurat. Mungkin, di situlah sisi yang membuat kakak saya makin mantap untuk menutup aurat. Alhamdulillah.

Namun demikian, jangan anggap dakwah kita kepada keluarga adalah sia-sia, bisa jadi dakwah kita adalah sebagai pembuka pintu-pintu yg melapisi hidayah dari saudara kita, kemudian setelah pintu itu tinggal 1 lagi saja, orang lain yg membukanya dengan izin Allah. Tapi apakah tidak berpahala? semoga Allah nilai dengan suatu kebaikan. Wallahu’alam

Maka dari itu, tak ada alasan untuk terus mendakwahi keluarga dan juga orang lain. karena kita tak tahu pintu mana yg berhasil dibukakan hidayahnya melalui dakwah kita meski hanya berbuat kebaikan kecil.

Begitulah, yang ada hanya terus menerus berdakwah kepada keluarga demi tercapainya ‘menjaga diri dan keluarga dari api neraka’.

Wallahu’alam bisshowab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s