Jadikah Hidup Lebih Berwarna


Libur ternyata mempengaruhi mood untuk menulis (alasan) Haha… Tapi memang benar (pembenaran). Apalagi kalau di rumah keadaannya sedang ramai, banyak bocah pun… INI serius alasan. Berarti saya punya 3 hutang menulis sampai hari ini. Untuk itu, kali ini akan saya bayar dengan tulisan (ulang) tentang #NgajiHikam dari akun twitter Pesantren @sidogiri. Akun ini aktif memberikan kajian #NgajiHikam setiap harinya. Nah, karena 2 hari kemarin saya tidak menulis, minimal saya membaca lah ya. Maka, berikut hasil kultwit tentang #NgajiHikam.

Judulnya begini: Jadikan Hidup Lebih Berwarna

“Ketika alur hidup yang menyenangkan sudah tidak membawa ketenangan, ternyata kegalauan malah jadi jalan keluar yang positif.”

Hidup dengan kekayaan yang melimpah, atau hidup serba melarat penuh musibah, dalam perspektif manusia sebenarnya sama saja: relatif. Pola hidup kaya belum tentu menjamin ketenangan hati, sebab harta pasti akan jadi hantu bagi pemiliknya. Kekayaan kadang menjerumuskan. Begitu pula hidup miskin, bukan jadi pemicu kegalauan hati, sebab terlepas dari tanggungjawab harta justru jadi solusi hidup yang paling baik. Tapi tidak bagi Muslim yang mampu menalar hakikat takdir dengan benar. Bagi mereka, segala macam bentuk kehidupan adalah baik. Hidup miskin ataupun kaya, sama-sama punya posisi positif & nilai hikmah yang mendalam di setiap episode. Allah pasti menakdirkan yang terbaik.

Pertanyaanya, mengapa Allah tidak menakdirkan semua Muslim jadi kaya raya saja; agar mereka hidup tentram; agar mereka hanya fokus ibadah? Sebagaimana penjelasan tadi, Anda tidak bisa memvonis hidup kaya sebagai jalan baik, sedang hidup miskin sebagai jalan buruk. Salah kaprah. Sebab jika seumur hidup Anda ditakdirkan kaya, bisa jadi Anda malah melupakan Allah, lantaran sibuk memprosentase harta sendiri. Atau malah Anda akan menantang takdir, mengira bahwa kekayaan Anda itu adalah hasil jerih payah Anda sendiri. Bukan pemberian Allah. Bagi mereka yang tidak bisa bersabar, sepanjang umur hidup dalam kemiskinan juga tidak terlalu memotivasi, sebab akan memicu pesimisme.

Beruntung sekali Allah mengatur hidup ini sesuai dengan siklus kita sendiri: di satu waktu Anda susah, di waktu lain Anda senang. Akal manusia awam mungkin saja tak bisa menalar kebaikan di setiap takdir Allah. Yang jelas, setiap peristiwa pasti ada hikmah baiknya. Musibah, bagi muslim yang cerdas, bisa berarti peringatan: sudah waktunya ia kembali mendekatkan diri pada Allah & memohon ampunan-Nya. Bagi mereka, musibah bisa berarti pukulan keras: ialah saat mereka mulai melupakan Allah. Mengisyaratkan bahwa takdir tidak bisa diterobos. Maka ketika Allah menimpakan musibah, Anda jangan langsung pesimis. Anda harus optimis, seberat apapun problem yang Anda hadapi.

Sebaliknya, senikmat apapun hidup Anda sekarang, jangan buat mata hati Anda kalap lalu buta. Dunia akan menyeret ketenangan hidup Anda. Pasrahkan nasib Anda hanya kepada Allah; harus husnudz-dzan. Biarkan Allah yang menentukan takdir untuk kebaikan masa depan Anda kelak.

Nah, demikian ngaji hikam di sore hari, Ahad kemarin, 21 Juni 2015.

Simple, tapi ngena’ sih kalau menurut saya. Ternyata benar, kaya dan miskin itu bukan ukuran kita bahagia atau tidak. Tapi cara kita menyikapinya-lah yang membuat kita lebih berharga di mata Allah. Kaya dan miskin, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Karena bagi Muslim yang pemahamannya benar, keduanya adalah cobaan/ujian sekaligus solusi dalam kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s