Kenali Isi Hatimu


Masih meneruskan pembayaran hutang menulis saya yang ke-2 dan saya masih tergoda untuk berbagi ulang tentang #NgajiHikam yang ditwitkan oleh akun pesantren @sidogiri. Kali ini dengan tema yang lebih seru lagi. Kenali Isi Hatimu.

“Cahaya kebenaran itu munculnya dari hati nurani dan ruh istimewa anugerah ilahi.”

Karena hubungannya dengan gerak hati yang bersifat abstrak. Selama ini, kata hati dianggap sekedar praduga saja. Tak bernilai kebenaran. Padahal Islam tidak memandang demikian. kekuatan hati akan dianggap sebagai sebuah kebenaran, jika ia sampai pada taraf tertinggi yaitu yakin.

Diantaranya, ketika hati telah terhubung langsung dengan Allah. Seperti kata ayat QS. al-Anfal Ayat 2 yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Sebab meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Esa adalah absolut. Muslim yang hatinya meyakini ketuhanan Allah berarti telah mengenal kebenaran. Lihat pula, bagiamana seorang Muslim yang hatinya begitu khusyuk saat menyebut asma-Nya; QS. al-Hadid ayat 16:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.”

Lho, bukankah metode paling maju untuk menemukan kebenaran itu seharusnya menggunakan nalar akal? Atau dengan berfilsafat, misalnya?

Kata al-Buthi, justru jika hanya bermodalkan nalar akal, hasilnya malah tidak maksimal. Sebab nalar akal itu ambigu; bisa benar, bisa salah. Yang mengkhawatirkan, nalar akalnya terbawa arus nafsu manusiawi. Bisa jadi bukan kebenaran yang dicapai, tapi malah sesat-menyesatkan. Allah telah memperingatkan orang Muslim tentang kekhawatiran ini dalam QS. al-A’raf ayat 175:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”

Ilmu pengetahuan bukan membawanya makin dekat kepada Allah, malah menjauhkan. Ini gambaran paling mudah bagaimana ilmu yang tidak barokah.

“Bertambahnya ilmu pada seorang bandit agama, layaknya menuangkan air ke dalam gelas pahit. Diminum malah mencekik,” kata Imam Ghazali. Gerak hati yang positif dengan yang negatif jelas berbeda; antara hati yang bening dengan hati yang teracuni nafsu manusiawi tidak sama.

Lalu bagaimanakah cara mengetahui dua indikasi hati yang sama-sama abstrak itu? Jawabannya, lihatlah cara hatinya merespon kebenaran. Hati yang bening ketika dilimpahi nikmat oleh Allah, biasanya ia akan bersyukur. Mata hatinya melihat kebenaran kasih sayang Allah. Sebaliknya, hati yang teracuni nafsu biasanya merasa sombong saat dilimpahi nikmat. Hatinya dibutakan oleh nafsu manusiawinya sendiri.

Nah, kembali ke lanjutan hikmah di awal pembahasan tadi. Bahwa kebenaran ke-dua berasal dari ruh istimewa anugerah dari Allah. Hal istimewa ini juga disebut sebagai “nur hidayah” seperti redaksi QS. an-Nur ayat 35 ini

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahayanya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Hidayah ini juga menjadi penopang utama gerak hati positif tadi. Ia adalah ruh suci yang dulu pernah Allah tiupkan pada seluruh manusia. Perhatikan dan renungilah secara benar QS. al-Hijr ayat 29:

“Maka apabilah Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Kesimpulannya, jika hati yang positif & ruh istimewa tadi telah menyatu dalam diri seorang Muslim, apakah gambaran Anda selanjutnya? Tentu saja, yang terlihat adalah manusia sempurna dengan kualitas & kuantitas iman yang paling baik. Pikiran dan hatinya menuju pada Allah. Muslim yang seperti ini pasti menjadi idaman seluruh manusia. Pertanyaan terakhir, kenapa bukan Anda saja yang menjadi muslim demikian?

Nah …..

Saya juga ng… ng… ng… nih 😀

Sebelum sampai kepada menjadi muslim yang demikian, tulisan di atas mesti saya baca berulang-ulang karena agaknya, urusan hati nurani dan ruh istimewa ini cukup berat pembahasannya.

Aduh Niel, gaya bener mau baca ulang, padahal mah masih marathon nulis hutang ke-3 :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s