Ingin dikenal ?

Kamu, ingin dikenal oleh banyak orang, gak?

Atau

Kamu, ingin jadi artis yang terkenal?

Atau,

Jadi apalah biar dikenal banyak orang?

Mempunyai keinginan untuk dikenal oleh banyak orang, adalah suatu hal yang wajar. Bahkan, bagi sebagian orang, ini merupakan suatu hal yang penting. Namun, bagi sebagian orang lainnya, bisa jadi ini hal yang tidak terlalu penting. Prove it!

Tujuan dikenal oleh banyak orang-pun, bermacam-macam. Ada yang ingin memuluskan promosi barang dagangannya, ada yang ingin dikenal sebagai motivator, ada yang ingin dikenal sebagai orang pintar, ada yang ingin dikenal sebagai orang baik-baik, hampir semuanya bertujuan untuk hal yang baik-baik. Meski, tak dapat dipungkiri, banyak juga yang kekeuh ingin dikenal sebagai orang yang jahat, orang yang gak sabar, orang yang fanatik, orang yang suka mengeluh atau orang yang suka menghasut.

Dari kesemuanya yang baik-baik dan jelek-jelek ini, ada yang dengan sadar melakukannya dan ada yang secara tidak sadar melakukannya, dan ketika hal-hal tersebut ditampakkan kepada khalayak, itulah image yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Ada yang memang pada kenyataanya dia menyukai hal-hal yang jelek itu, namun ada pula yang sebenarnya tidak suka tindakan jelek, tapi tetap ditunjukkannya.

Ada yang memang pada kenyataannya dia baik, tapi ada juga yang kebaikannya dibuat-buat.

Tapi buat saya, lebih baik sok-sok-an jadi orang baik dari pada sok-sok-an jadi orang jahat. Karena tanggung, mending jadi beneran baik. Hehe

Di antara keinginan dan tujuan tersebut di atas, ada 2 buah kata yang melengkapi (setidaknya ini menurut versi saya pribadi). Dua kata itu adalah tindakan/sikap dan batasan. Kedua hal ini seharusnya menjadi rumus untuk kita dalam berinteraksi sosial. Biar lebih mudah dipahami, kita langsung mengambil contoh, contoh ya, bukan berarti sebenarnya, meski mungkin saja terjadi, tapi ini hanyalah contoh.

Contoh:
Saya ingin dikenal oleh banyak orang, dengan tujuannya dikenal sebagai seorang motivator. Tindakan yang harus saya lakukan adalah memberikan kata-kata motivasi setiap hari di sebuah jejaring sosial yang saya miliki. Batasannya, tidak perlu menjadi orang lain, tidak perlu tergesa menjadi orang yang paling dikenal di antara orang lainnya, tidak perlu berpura-pura dan terakhir, tidak perlu memaksakan diri.

Kemudian yang banyak kita temui saat ini adalah begitu banyak motivator hidup. Hampir di setiap tempat kita dapat menemukannya. Apalagi di jejaring sosial, begitu banyak yang berlomba-lomba berbuat kebaikan, meski kita tak pernah tahu, apakah yang memberikan motivasi itu sudah melakukan hal yang dia sarankan. Soal ini, saya setuju, tak perlu menunggu jadi yang sangat berilmu, sedikit saja yang kita miliki, bila itu bernilai kebaikan, dan sesuai dengan batasan kemampuan diri (artinya selaras dengan ucapan dan ilmu yang kita miliki), menasehati atau memberikan motivasi atau apapun bentuknya asalkan dalam hal kebaikan, sama sekali tidak masalah (lagi-lagi setidaknya ini menurut pendapat saya pribadi). Meski pendapat para ulama juga sudah mahsyur soal ini.

Kembali kepada persoalan “ingin dikenal”. Sepertinya saya tak akan membahas terlalu banyak lagi (takutnya malah pada gak ngerti, karena saking absurdnya kerangka tulisan saya). Saya menuliskan ini hanya karena belakangan ini terjadi pergolakan pendapat di hati saya sendiri. Dan saya sampai pada kesimpulan (sementara).

Dan mungkin juga kesimpulan ini tertuju untuk diri saya sendiri. Karena untuk orang lain? Saya tak berhak (kecuali hanya untuk mengingatkan).

Berjalanlah, jalani hidupmu, di dalam perjalananmu itu pastilah selalu dan akan selalu ada begitu banyak kejadian, yang dengan kejadian itu, apakah itu baik atau buruk, tetap saja, kamu selalu dapat mengambil hikmahnya, kemudian ketika hikmah itu kau rasakan tak hanya berguna untuk dirimu sendiri, maka bagikanlah, bagikanlah sebagai tabungan kebaikan untuk hidupmu kelak. Setelah itu, berjalanlah lagi. Sampai kau menemukan akhir. Namun sebelum kau menemukannya, lakukanlah seperti yang kusebutkan sebelumnya. Berjalanlah, bagikanlah, berjalan lagi. Begitu seterusnya.

Kau tak perlu jadi orang lain, kau tak perlu berpura-pura, kau tak perlu tergesa-gesa, kau tak perlu memakai topeng. Jadilah seperti apa yang kamu punya, yang kamu bisa sampaikan. Dan kalau bisa, lakukan itu semua karena Allah.

Karena saat kau melakukan semua itu karena Allah, kamu tak perlu risau tentang komentar orang lain terhadapmu. Dihargai atau tidak, dijadikan sebagai contoh atau tidak, diikuti atau tidak, disukai atau tidak, didengar atau tidak, dicintai atau tidak, selama itu sebuah kebaikan, dan dilakukan karena Allah. Allah saja sudah cukup untukmu. Karena saat kau tak mempunyai si(apa)pun di dunia ini, namun ketika hatimu memiliki Allah. Maka, kamu punya segalanya.

Eh iya, ini kok saya semacam sedang ingin dikenal oleh banyak orang, ya??!
🙂

 

Advertisements

Terima Kasih Telah Menjaga Diri

Terima kasih telah menjaga diri, terima kasih juga telah bersedia bersabar. Bersabar terhadap perasaan yang sedang tumbuh, ingin sekali mekar, ingin sekali segera ranum. Akan tetapi, kita masih percaya bahwa untuk menjadi mekar, kita perlu waktu.

Terima kasih karena aku rasa, Allah tetap menjadi yang pertama. Bila kelalaian kita menjaga diri, membuat orang lain berasumsi sedemikian rupa. Semoga kita segera diselamatkan dan ku rasa, Dia pasti segera menyelamatkan.

Terima kasih telah bersedia bersabar. Karena aku pun sedang bersabar menunggu waktumu yang lebih luang. Karena sekarang, begitu banyak kesibukan yang bila kita tidak bersabar dan gegabah. Justru bisa jadi membuat kita salah mengambil keputusan.

Terima kasih telah menjaga diri. Karena aku akan menjagamu dari perasaanku yang sedemikian rupa. Entah bagaimana caranya. Entah harus berdoa seperti apa. Karena kita tahu pasti, salah satu dari kita akan memulai. Dan itu aku. Diwaktu yang nanti akan aku cari tahu entah bagaimana caranya. Karena aku tidak akan membiarkanmu terlalu lama berasumsi. Karena aku tahu, kita benar-benar sedang diuji dengan kehadiran masing-masing. Kita sama-sama menjadi ujian satu sama lain. Mari menangkan!

Tulisan: @kurniawangunadi