Mendudukkan yang Semestinya


Bismillah..

Begini, di tengah keramaian yang aku masih merasa sepi ini… (lah kok gini?) #abaikan

Sekarang ini (saat saya sedang menuliskan tulisan ini), sedang “ribut” soal pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sangat fenomenal memang, namun di tengah hiruk-pikuk dukungan maupun cibiran untuk Gubernur DKI yang sedang menjabat saat ini, masih banyak dari kita yang “salah” menempatkan segala sesuatu halnya. Baik yang mendukung, maupun yang tidak mendukung.

Bagi yang tidak mendukung, Gubernur DKI yg menjabat saat ini selalu saja salah, apapun yang dilakukannya. Padahal, seharusnya kita lebih fair. Bahwa prestasi Pak Gubernur selama beberapa tahun ini untuk Jakarta cukup baik. Bahwa perbaikan sistem birokrasi di dalam pemerintahan daerah Jakarta saat ini sudah semakin rapi dikarenakan ketegasan seorang Pak Gubernur, patut dihargai, apalagi jika kita bandingkan dengan kinerja pemerintahan daerah di beberapa tahun silam. Perbaikan-perbaikan dan pembangunan yang sedang berlangsung saat ini pun adalah suatu prestasi yang mungkin sulit kita temui jika bukan Pak Gubernur ini yang memimpin, ini pun membuat kita perlu berterima kasih kepada Pak Gubernur.

Sebagai seorang muslim, saya dan seharusnya pun seluruh muslim lainnya, tetap harus menghormati orang lain. Siapapun itu. Orang lain berhak untuk kita hargai dan kita hormati. Dan sebaiknya, bagi kita yang tidak mendukung Pak Gubernur saat ini, janganlah sampai mengeluarkan umpatan atau hinaan yang dengan begitu, kita malah mempertontonkan kehinaan kita sendiri.

Bagaimana dengan kelompok yang mendukung Pak Gubernur?

Mari kita dudukkan lagi. Melihat/menilai segala sesuatunya memang haruslah dengan adil. Definisi adil sendiri adalah meletakkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya. Sedangkan lawan kata adil adalah dzalim. Definisi dzalim adalah meletakkan segala sesuatu tidak sesuai pada tempatnya.

Bagi kita yang mendukung Pak Gubernur, janganlah sampai sombong hati, jumawa dan merasa bangga diri. Setiap kita, pasti, ya, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kalau kata orang-orang, No Body is Perfect. Bahwa banyak hal-hal/perilaku yang tidak patut dicontohkan oleh seorang pemimpin ada pada diri Pak Gubernur, terimalah itu sebagai kekurangan, dan sebagai pendukung beliau, hal terbaik yang paling bisa dilakukan adalah mengingatkan Pak Gubernur untuk tidak memperlihatkan perilaku seperti itu lagi, terlebih di depan umum, syukur-syukur bisa memperbaikinya. Bahwa Pak Gubernur yang saat ini mempunyai kekuasaan berusaha untuk membuatkan lokalisasi untuk para pelacur, bukan malah berusaha untuk memfasilitasi para pelacur untuk bisa hidup “normal” lagi, ini adalah sebuah kemerosotan moral. Bahwa Pak Gubernur ingin melegalkan Minuman Keras, yang dengan tadinya tidak legal saja masih bebas meracuni anak-anak bangsa, apalagi jika dilegalkan dan ini sangat meresahkan kehidupan masyarakat, ini adalah sebuah penyesatan. Bahwa Pak Gubernur tidak melarang perilaku Lesbian dan Gay yang jika dibiarkan, bisa menghancurkan peradaban dunia dan ini adalah sebuah kesesatan pula. Alih-alih melindungi hak asasi para perilaku Lesbian dan Gay, namun hak-hak kehidupan masyarakat Normal malah tidak dilindungi (terabaikan). Mohon, terimalah kekurangannya. Norma-norma masyarakat di Indonesia jangan lagi ditawar-tawar.

Jika mungkin, dari beberapa hal yang saya sebutkan di atas masih ingin sekali dibela. Silakan. Namun mohon tanyakan pada hati kita yang paling dalam, apakah tindakan tersebut sepenuhnya kita dukung dan benar-benar akan mendatangkan kebermanfaatan untuk masyarakat luas? Di sini lah sisi adil dan dzalim diri kita dipertanyakan. Sudahkah kita bersikap adil? Adil bagi seluruh pihak. Ataukah kita sudah berbuat dzalim, dengan mengesampingkan norma-norma masyarakat, terutama norma-norma agama.

Sampai pada pertengahan tulisan ini, rasanya sulit bagi saya untuk tidak menyertakan unsur pandangan Islam atas apa-apa yang saya sebutkan di atas. Baik bagi kelompok yang tidak mendukung Gubernur DKI, maupun bagi kelompok yang mendukung Gubernur DKI.

Sebagai seorang Muslim, saya dituntun untuk menjalankan kehidupan di dunia ini sesuai dengan pedoman hidup saya, yaitu Al-Quran dan Hadits, untuk menuju keselamatan pada hari akhir kelak, yaitu Akhirat. Maka berdasarkan pedoman itulah saya hidup, menjalankan kehidupan. Dan saya percaya, bahwa apa-apa yang diperintahkan dalam kitab suci saya adalah sebuah kebaikan untuk kehidupan saya. Konsekuensi sebagai seorang muslim adalah saya harus menerima Islam secara keseluruhan, bukan setengah-setengah. Bukan dengan pilih-pilih ayat kitab suci sesuai dengan kebutuhan dan keberpihakan atas apa yang saya lakukan. Namun, berusaha menjalankannya secara keseluruhan. Meski mungkin belum seluruhnya saya jalankan, tapi setidaknya saya tidak INGKAR atas apa-apa yang telah diperintahkan dan dilarangkan oleh Tuhan saya yang semuanya tertulis dalam kitab suci saya, Al-Quran.

Maka dari itu, sikap/pilihan saya sesuai dengan perintah Tuhan saya, Allah swt, yang ada di dalam Al-Quran, bahwa saya tidak diperbolehkan untuk memilih pemimpin selain yang seiman dengan saya. Tentunya, panjang sekali penjabarannya jika saya tuliskan di sini. Singkatnya, apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, dan apa-apa yang dilarang oleh Allah adalah pasti selalu mengandung kebaikan dan kemashlahatan. Maka sudah dapat dipastikan, sejak awal dan untuk selanjutnya pun, saya tidak akan memilih pemimpin yang tidak seiman dengan saya.

Apakah sikap saya yang sudah sangat jelas dalil dan landasannya ini merupakan suatu bentuk sikap Intoleran? atau, mereka yang tidak menghargai sikap saya inilah yang telah melakukan tindak Intoleran?
Mari kita dudukkan lagi, definisi dari Toleransi adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri (KBBI). Maka, ketika saya sedang menjalankan perintah Agama saya, apakah dengan begitu saya menjadi Intoleran? Justru yang tidak membiarkan/menghargai sikap saya inilah yang tepat untuk disebut Intoleran. Jadi, jangan terbalik-balik dalam mendudukkan suatu hal. Jangan dzalim.

Tentang berbagai “kebaikan-kebaikan” yang pernah dilakukan oleh Pak Gubernur, terutama yang berkaitan dengan Islam, saya apresiasi, namun hal-hal tersebut tak akan menggugurkan syariat Allah dalam hal memilih pemimpin (ataupun dalam hal lainnya). Sama sekali tidak mempengaruhi, karena hukum yang telah Allah tetapkan, tidak dapat diutak-atik oleh manusia sekalipun. Karena syariat Islam sudah sempurna sejak awalnya.

Ngomong-ngomong, ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya beberapa waktu lalu saat saya menanggapi status seorang teman. Tentang “Pemimpin”, mari kita samakan persepsi bahwa jabatan Gubernur DKI merupakan jabatan Pemimpin. Pemimpin tidak hanya berarti Presiden. Bahkan dalam lingkup kecil seperti keluarga pun, pasti ada pemimpin. Di dalam kelas, di sekolah, di kantor dan kelompok lainnya, pasti selalu ada pemimpin. Bahkan dalam Islam, diri kita sendiri pun adalah seorang pemimpin, pemimpin bagi diri kita sendiri. Jadi, jangan pura-pura bodoh demi melindungi “seseorang” dari pengkategorian “pemimpin” untuk tetap bisa dijadikan alternatif dalam proses pemilihan pemimpin daerah kelak. Ini namanya sikap “ngeles”  dari ayat-ayat suci al-Quran. Sekali lagi, jangan naive, jangan pura-pura tidak paham.

Akhirnya, sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Gubernur (saat ini), dengan kerelaan hati dan ketaatan penuh terhadap perintah Agama saya, saya tidak akan memilih Pak Gubernur untuk menjabat lagi sebagai Gubernur (dan memang sejak awal-pun tidak saya pilih). Meski saya belum tahu pasti siapa pilihannya nanti, yang pasti pilihan saya sesuai dengan tutunan agama saya. Saya berharap, calon-calonnya kelak adalah mereka yang TAKUT kepada Allah. Dengan begitu, mereka mampu menjadi pemimpin yang amanah.

Jadi, bahwa Pak Gubernur saat ini telah banyak memperbaiki birokrasi dan melakukan pembangunan di beberapa titik patut kita apresiasi. Bahwa Pak Gubernur orang yang tegas, ini adalah benar dan saya suka sikap itu. Namun di lain hal, kenyataannya bahwa Pak Gubernur adalah orang yang mudah mengeluarkan kata-kata kotor, inipun benar dan saya tidak suka. Bahwa Pak Gubernur lebih mementingkan ayat-ayat konstitusi dibandingkan ayat-ayat suci, inipun banyak yang menentang. Bahwa Pak Gubernur ingin melegalkan Minuman Keras, Melokalisasi Pelacur dan Membiarkan Perilaku Lesbi dan Homo berkeliaran begitu saja di antara masyarakat, inipun benar dan tak akan pernah saya setujui.

Namun saya memohon kepada Allah agar ketidaksukaan saya terhadap sikap/tindakan buruk Pak Gubernur tidak menjadikan saya berlaku tidak adil kepada Pak Gubernur. Saya berusaha berlaku adil, dan semoga kita semua (baik yang tidak mendukung ataupun yang mendukung Pak Gubernur) mampu mendudukan perkara-perkara yang telah disebutkan di atas dengan seadil-adilnya.

Kemudian bahwa bagi muslim, ada ayat-ayat yang melarang kita untuk memilih pemimpin yang kafir pun, jangan kita ingkari. Jangan sekali-kali kita ingkari dan kita cari-cari pembenarannya.

Maka dengan ini saya mengingatkan kembali kepada saudara-i muslim agar mengikuti petunjuk Al-Quran, ikutilah fatwa ulama dan nasihat guru-guru kita sesuai dengan tuntunan Islam.

Semoga kita menjadi orang-orang yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

Advertisements

One thought on “Mendudukkan yang Semestinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s