Agar Tak Bernasib Seperti Lilin

Bismillah

Assalamu’alaikum wr wb…

Haloo… ini hari ke 14 di bulan Juli, itu tandanya sudah hampir setengah bulan saya melewati hari-hari tanpa menyetorkan tulisan untuk blog ini. Sesekali hanya menulis singkat di status instagram disertai gambar. Ohiya, alasannya kenapa saya gak posting tulisan selama setengah bulan ini, karena kejar-kejaran sama hari libur. Jadi gradak-gruduk membereskan pekerjaan sebelum libur lebaran. Meski pada akhirnya, masih ada beberapa pekerjaan yang tetap belum beres statusnya. Hehe…

Temans!
Saya lanjutkan postingan kali ini dengan pelajaran #NgajiHikam yak?! (Iya, Niel. Boleh…)
Oke!
#NgajiHikam bab – 158 dengan tema “Agar Tidak Bernasib Seperti Lilin”
“Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah. Anggap keberadaan mereka tak mempengaruhimu, fokuslah hanya pada Allah.”

Pada hikmah ini, al-Buthi ingin berbincang seputar sosok manusia panutan ideal; yang hatinya murni hanya menghamba kepada Allah. Yang kita tahu, bila seorang telah mendapat tempat di hati masyarakat, ia akan merasa bangga: karena bisa berbagi manfaat pada orang lain. Cara berpikir seperti ini memang benar, tapi harus ada klarifikasi terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi nantinya akan bernasib seperti lilin.

Berbuat baik dengan cara menolong sesama Muslim yang membutuhkan, adalah kewajiban bersama. Setiap muslim harus punya prinsip baik ini. Mengarahkan orang awam ke jalan yang benar menurut agama adalah bentuk perilaku positif. Pendakwah di jalan Allah pasti punya mindset ini. Tapi ingat, tujuan utama haruslah dilatarbelakangi ajuran agama. Maksudnya, kerelaan berkorban adalah demi menjalankan perintah Islam. Tak ada intervensi nafsu, apalagi paksaan orang lain. Niat menolong murni karena Allah. Bukan lantaran ingin populer di tengah masyarakat. Yang mengherankan, banyak kalangan Muslim yang tidak tahu tujuan baik agama Islam. Mereka lebih senang yang ada timbal baliknya. Selain balasan surga, mereka juga ingin dibanggakan orang (Astaghfirullah). Sebagian ingin namanya populer di kalangan masyarakat awam agar dihormati.

Nah, saat lengah seperti inilah berbagai sifat negatif bisa menyerang hati. Diantaranya perasaan pamer (riya’), juga sombong (kibr). Muslim yang demikian bisa bernasib seperti lilin: banyak orang beroleh manfaat darinya, tapi ia sendiri terbakar habis ditelan api. Bisa jadi, jerih payah dan pengorbanan hartanya selama ini  tak bernilai pahala sama sekali. Pahalanya hangus dilalap kobaran riya’ & kibr. Secara keduniawian, bisa saja ia berhasil populer. Tapi secara ukhrawi, sebenarnya ia gagal. Ia miskin, tidak punya bekal pahala.

Lalu bagaimana solusi agar bisa lepas dari perasaan ingin diperhatikan orang? Jawabannya tertera di awal hikmah Ibnu Athaillah tadi. “Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah, anggap keberadaan mereka tidak mempengaruhimu, fokuslah hanya kepada Allah”. Dengan menganggap hanya Allah saja yang ada, maka perhatian kita bisa lebih fokus. Tujuan hidup kita hanya satu, yaitu menghamba kepada Allah. Bila mindset penghambaan ini berhasil ditanamkan dalam hati & pikiran, yang muncul pastilah perilaku positif “li i’lai-kalimatillah”.

Pembahasan ini merupakan catatan yang cukup penting diketahui dan dipahami oleh setiap muslim yang pada hakikatnya bertugas untuk menjadi da’i di dunia ini. Atau minimal, sangat penting dipahami oleh muslim yang memang sangat concern  di bidang dakwah.

Oleh karena satu per satu dari kita ini adalah pengemban/ penerus tugas dakwah Rasulullah SAW, maka jadikanlah catatan ini sebagai pengingat diri dan menjadi dasar dalam hidup kita, bahwa semangat dalam berdakwah ialah didasari ikhlas hanya karena Allah. Tak untuk disanjung manusia, tak untuk dipuja dan dimanja-manja fasilitas yang ada.

Selamat menjadi da’i yang fokus bertujuan kepada Allah.

Semoga kita termasuk diantara yang diharapkan baik oleh Ibnu Athaillah.

Semoga kita tak menjadi seperti lilin yang mungkin bermanfaat untuk orang banyak, namun merugi karena diri habis terbakar oleh api sendiri.

Wallahu’alam

Wassalam…

Advertisements

Karena Allah Menghendakinya

Hari ini, kembali saya diingatkan bahwa begitu besarnya nikmat Iman Islam yang Allah karuniakan kepada saya semenjak saya kecil. Meski saya berislam karena keturunan dari orangtua, tapi kembali saya bersyukur untuk yang kesekian kalinya, Allah masih memberikan hidayahNya untuk saya mengimani Islam. Sampai saya benar-benar mengerti dan meyakini Islam, dan kiini berislam bukan lagi karena orang tua saya Islam, tapi karena Islam adalah agama fitrah yang dengan sadar saya pahami dan saya imani.

Ditengah hiruk-pikuk para pemuda islam yang kini ramai berhijrah, ternyata terselip satu atau dua orang yang Allah goyahkan hatinya untuk melepaskan nikmat iman Islam. Na’udzubillah. Di tengah begitu derasnya arus para pencari kebenaran di luar negeri sana, yang akhirnya menemukan Islam, menemukan arti kehidupan, menemukan alasan-alasan mengapa mereka hidup dan ke manakah mereka setelah mati?, ternyata masih ada sedikit orang yang Allah kehendaki untuk tersesat. Astaghfirullahal’adziim.

“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” ‪(Ibrahim: 4)

Setelah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, tak serta merta kita aman dari ancaman syaithan yang membisikkan kemaksiatan bahkan sampai kepada kesesatan dan lalu murtad dari agama Allah. Allah memberi kesesatan kepada sesiapa yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada sesiapa yang Ia kehendaki pula, dan tidaklah mungkin Allah memberikan kedua hal ini tanpa alasan yang jelas. Hati, sikap dan perilaku kita sehari-hari sangat mempengaruhi. Dengan siapa kita bergaul, bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari adalah indikasi bahwa sebesar apakah diri kita yakin dan percaya akan keberadaan Allah swt, yakin akan kekuasaa-Nya dan yakin akan pertolongan-Nya.

Iman adalah hal yang tak mudah diterka, iman itu selalu naik turun,

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

maka, banyak hal yang harus kita lakukan agar iman ini terus terjaga, tak goyah oleh harta, tak hancur oleh tahta juga wanita. Sedikit dari banyak cara yang bisa kita lakukan adalah dengan cara berkumpul dengan orang-orang sholeh, senantiasa membaca Al-Quran dan berusaha memahami artinya, membaca buku-buku tentang Agama Islam dan berdoa agar terus ditetapkan hati kita dalam Iman Islam dan ALlah matikan dalam keadaan Islam pula.

Salah satu doa yang seringkali dibaca oleh Rasulullah saw,

“Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa dinnika wa ‘alaa tho’athik.”

yang artinya:

“Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati,  tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

Begitulah, memang benar Allah yang menghendaki segala sesuatu, namun diri kita-lah yang paling bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Tersesat kah? atau Kembali pada jalan Allah? Itu memang pilihan, dan setiap pilihan akan mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Semoga Allah istiqomahkan diri ini dan saudara-saudari muslim saya di seluruh penjuru dunia. Semoga Allah teguhkan dan kokohkan Iman Islam kita, hingga syaithan-pun tak mampu menembus kekuatan pertahanan hati kita agar kita tak ikut tersesat bersama dengannya. Baik syaithan yang tidak berwujud (jin) maupun syaithan yang berwujud (manusia). Aamiin.

Review Film “Cinta Tapi Beda”

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Selamat pagi, siang, sore, malam, semangat Selasa untuk kita semua.

Lagi rame yak? banyak yang mengulas Film Cinta Tapi Beda karya Hanung Bramantyo ini, suami dari aktris Zaskia A. Mecca ini seakan gak pernah berhenti membuat film-film yang kontroversial, entah karna tidak disengaja atau ada maksud di balik film-filmnya. Filmnya selalu mengangkat isu-isu sensitif.

Saya sudah nonton film ini, tujuannya? Ketika saya pengen komentarin ini film, saya gak asbun :p

Gak banyak yang bisa saya sampaikan, karna jujur, setelah menonton film ini saya menyesal, karena? Tidak ada “pesan” yang dapat saya petik. Bahkan mungkin malah lebih banyak kekhawatiran citra dan dampak atas menonton film ini.

pertama:

BENAR, ini adalah film tentang Cinta beda Agama, bukan NIKAH beda Agama. Dari segi kehidupan dan kenyataan yang terjadi sekarang ini, memang banyak sekali kasus-kasus seperti ini. TAPI sebagai muslim, tidak bisakah sutradara ini membuat film yang solutif? solusi berdasarkan Agama yang dianutnya? memecahkan masalah dari kasus-kasus tersebut? karna dari awal sampai akhir, film itu ngambang, tak ada akhir. Diana dan Cahyo tak bisa menikah, karna begitu sulitnya menyatukan hal yg satu itu, Agama. Kalaupun ada solusi, apa Hanung mau kasih pilihan untuk “melegalkan pernikahan beda agama” seperti yang diusung oleh aktivis feminis yang sedang marak?. Film itu ditonton bukan hanya untuk memperlihatkan suatu keadaan, tapi mampu menggiring atau mengarahkan pemikiran penonton untuk berasumsi dan kemudian mencontoh, karna pikirnya “toh, ada filmnya kok” “ada contohnya kok” “film itu gak ada yang protes kok”. Remaja di Indonesia ini masih belum mampu memfilter budaya luar. Itulah yang terjadi.

Btw, kalau masih ada yg protes ttg tulisan ini karna bawa-bawa Agama, mending diam. *deal* kenapa? yaa… mikir ajalah sendiri hehehe :p

kedua:

Diana, ditokohkan sebagai gadis “Padang” bukan gadis “Minang” (menurut Hanung). Ini adalah statement bantahan dari sang sutradara atas Besarnya Suara warga Minang untuk meminta Hanung meminta maaf kepada orang Minang dan juga menarik film CTB tersebut. Oke, anggaplah BENAR Diana bukanlah gadis Minang, karna hanya keluarganya tinggal di Padang. Katanya lagi “orang Padang belum tentu Muslim, Orang Minang pasti Muslim”. Baiklah, baiklah. Tapi, sekali lagi sutradara ini menggiring, mengarahkan atau mencitrakan “Padang itu tak hanya Muslim”.  Apa ini “maksud” dari film CTB?

“Padang itu pastinya adalah Minang” dan Minang itu pastinya Muslim. Pepatah Minang: Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat bersendi kepada Syariat, Syariat bersendi kepada Kitabullah (Al-Qur’an)). “Islam adalah Agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 98% penduduk Sumatera Barat, yang kebanyakan pemeluknya adalah orang Minangkabau” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat) berdasarkan data ini, buat saya, Hanung terlalu maksa, mencitrakan/mejadikan Diana sebagai seorang Khatolik taat yang berasal dari Padang.

Intinya:

Film ini gak solutif, maksa dan TIDAK PATUT DICONTOH (khususnya untuk Muslim) baik tentang “pacaran”nya maupun “beda agamanya”. Hiduplah sesuai ajaran Islam, sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. InsyaAllah selamat dunia dan Akhirat (kata Ustadz) 😀 Dunia sesaat, akhirat selamanya #tsaah (lagunya @DerrySulaiman + @RayNineball).

Hikmah dari protes Warga Minang:

– Film ini ditarik (dari pihak Hanung),

– Masyarakat harusnya introspeksi juga “kenapa” film ini ditarik? Jangan menutup mata dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi, pasti ada “salah”nya dan yang jelas, pasti ada alasannya.

FYI: Mungkin ada yang belum tahu, saya ini gadis Minang yang lahir di tanah Minang.

Setelah nonton film ini, saya kurang tertarik bikin reviewnya, karna seperti kata saya diatas, jalan ceritanya gak ada yang istimewa. Sama sekali tidak ada yang istimewa. Tapi karna ada protes dari Warga Minang, jadi sebagai “gadih minang” boleh donk saya ikut menyuarakan? 🙂

Tulisan diatas berdasarkan pemikiran saya pribadi, mohon maaf jika ada kesalahan. Mohon diingatkan apabila ada yang dirasa kurang.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh…