Menghabiskan Ego

Judul tulisan di atas bukanlah judul tulisan saya, melainkan judul tulisan dari seorang penulis yang saat ini sedang digandrungi oleh kebanyakan wanita-wanita yang masih single, yang sudah “berdua” juga banyak sih, dan yang laki-laki pun ada, tapi yang jelas, kenyataanya wanita memang lebih dominan.

Ah, single-single bahagia macam saya ini memang mudah sekali tersentuh oleh tulisan-tulisan yang bijaksana. Meski mungkin, pada kenyataanya, masih banyak hal yang dalam prakteknya belum sebijak tulisan yang kita sukai.

Tulisan-tulisan Kurniawan Gunadi yang terbit di blog pribadinya yaitu tumblr, bukan digandrungi secara tiba-tiba. Ada beberapa hal berbeda yang disajikan dalam tulisan-tulisannya. Meski wanita-wanita ini paham betul bahwa seorang Kurniawan Gunadi adalah seorang laki-laki muda yg masih single (juga) –Ciyee– tapi sepertinya wanita-wanita yang menggandrungi tulisannya ini harus setuju, bahwa tulisan tentang berbagai perasaan, sikap, prinsip, iman dan kehidupan yang disajikannya, layaknya seperti tetesan embun di pagi hari (halah), menyejukkan dan menentramakan. Meski setelah membacanya, masih juga banyak wanita single yang teteup weh galau gak jelas *yang ini bukan curhat lhoh* :D. Pembacanya sama sekali tidak merasa bahwa tulisannya itu menggurui, padahal Kurniawan Gunadi belum menikah. Tulisannya seperti nasihat-nasihat terbaik untuk seorang anak perempuan, padahal dia bukan seorang Ayah. Tulisannya seperti nasihat-nasihat bijak untuk seorang anak laki-laki, padahal dia bukan seorang Ibu. Dan Kurniawan Gunadi, mampu memesona banyak pembaca setianya.

Di antara begitu banyaknya tulisan “epic” (kalo kata saya) yang diciptakan oleh seorang Kurniawan Gunadi. Tulisan inilah yang kini patut saya renungi baik-baik. Tulisan ini dikategorikan dalam halaman SPN alias Sekolah Pra Nikah. Menurut saya unik, karena Kurniawan Gunadi belajar tentang pernikahan dari orang-orang sekitar yang pernah dia temui (meski gak hanya SPN doank).

Meski menurut saya, masa-masa merenungkan ego ini sudah terlewati. Agaknya masih relevan untuk mengingatkan diri lagi. Siapa tahu ada yang terlewati.

 

http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/107842619497/tulisan-menghabiskan-ego

Saya menganggukkan kepala setelah membaca tulisan ini dalam buku Lautan Langit-nya. Kemudian kembali mengingat-ingat. Sudah habiskah ego saya?

Jadi, selamat menghabiskan ego  🙂

Salam,

Aniel

Advertisements

Buya Hamka Sepeninggal Istrinya

Dalam kuatnya Ayah membaca Al Quran, suatu kali pernah aku tanyakan.

“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Quran?” tanyaku kepada ayah.

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah lagi.

[Ayah – Irfan Hamka (hal 212-213)]

Ah, begitu sucinya kisah cinta Buya Hamka dengan Istrinya. Beliau takut cintanya kepada istrinya melebihi cintanya kepada Allah.

Sampai-sampai, saya iri.

Ingin dikenal ?

Kamu, ingin dikenal oleh banyak orang, gak?

Atau

Kamu, ingin jadi artis yang terkenal?

Atau,

Jadi apalah biar dikenal banyak orang?

Mempunyai keinginan untuk dikenal oleh banyak orang, adalah suatu hal yang wajar. Bahkan, bagi sebagian orang, ini merupakan suatu hal yang penting. Namun, bagi sebagian orang lainnya, bisa jadi ini hal yang tidak terlalu penting. Prove it!

Tujuan dikenal oleh banyak orang-pun, bermacam-macam. Ada yang ingin memuluskan promosi barang dagangannya, ada yang ingin dikenal sebagai motivator, ada yang ingin dikenal sebagai orang pintar, ada yang ingin dikenal sebagai orang baik-baik, hampir semuanya bertujuan untuk hal yang baik-baik. Meski, tak dapat dipungkiri, banyak juga yang kekeuh ingin dikenal sebagai orang yang jahat, orang yang gak sabar, orang yang fanatik, orang yang suka mengeluh atau orang yang suka menghasut.

Dari kesemuanya yang baik-baik dan jelek-jelek ini, ada yang dengan sadar melakukannya dan ada yang secara tidak sadar melakukannya, dan ketika hal-hal tersebut ditampakkan kepada khalayak, itulah image yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Ada yang memang pada kenyataanya dia menyukai hal-hal yang jelek itu, namun ada pula yang sebenarnya tidak suka tindakan jelek, tapi tetap ditunjukkannya.

Ada yang memang pada kenyataannya dia baik, tapi ada juga yang kebaikannya dibuat-buat.

Tapi buat saya, lebih baik sok-sok-an jadi orang baik dari pada sok-sok-an jadi orang jahat. Karena tanggung, mending jadi beneran baik. Hehe

Di antara keinginan dan tujuan tersebut di atas, ada 2 buah kata yang melengkapi (setidaknya ini menurut versi saya pribadi). Dua kata itu adalah tindakan/sikap dan batasan. Kedua hal ini seharusnya menjadi rumus untuk kita dalam berinteraksi sosial. Biar lebih mudah dipahami, kita langsung mengambil contoh, contoh ya, bukan berarti sebenarnya, meski mungkin saja terjadi, tapi ini hanyalah contoh.

Contoh:
Saya ingin dikenal oleh banyak orang, dengan tujuannya dikenal sebagai seorang motivator. Tindakan yang harus saya lakukan adalah memberikan kata-kata motivasi setiap hari di sebuah jejaring sosial yang saya miliki. Batasannya, tidak perlu menjadi orang lain, tidak perlu tergesa menjadi orang yang paling dikenal di antara orang lainnya, tidak perlu berpura-pura dan terakhir, tidak perlu memaksakan diri.

Kemudian yang banyak kita temui saat ini adalah begitu banyak motivator hidup. Hampir di setiap tempat kita dapat menemukannya. Apalagi di jejaring sosial, begitu banyak yang berlomba-lomba berbuat kebaikan, meski kita tak pernah tahu, apakah yang memberikan motivasi itu sudah melakukan hal yang dia sarankan. Soal ini, saya setuju, tak perlu menunggu jadi yang sangat berilmu, sedikit saja yang kita miliki, bila itu bernilai kebaikan, dan sesuai dengan batasan kemampuan diri (artinya selaras dengan ucapan dan ilmu yang kita miliki), menasehati atau memberikan motivasi atau apapun bentuknya asalkan dalam hal kebaikan, sama sekali tidak masalah (lagi-lagi setidaknya ini menurut pendapat saya pribadi). Meski pendapat para ulama juga sudah mahsyur soal ini.

Kembali kepada persoalan “ingin dikenal”. Sepertinya saya tak akan membahas terlalu banyak lagi (takutnya malah pada gak ngerti, karena saking absurdnya kerangka tulisan saya). Saya menuliskan ini hanya karena belakangan ini terjadi pergolakan pendapat di hati saya sendiri. Dan saya sampai pada kesimpulan (sementara).

Dan mungkin juga kesimpulan ini tertuju untuk diri saya sendiri. Karena untuk orang lain? Saya tak berhak (kecuali hanya untuk mengingatkan).

Berjalanlah, jalani hidupmu, di dalam perjalananmu itu pastilah selalu dan akan selalu ada begitu banyak kejadian, yang dengan kejadian itu, apakah itu baik atau buruk, tetap saja, kamu selalu dapat mengambil hikmahnya, kemudian ketika hikmah itu kau rasakan tak hanya berguna untuk dirimu sendiri, maka bagikanlah, bagikanlah sebagai tabungan kebaikan untuk hidupmu kelak. Setelah itu, berjalanlah lagi. Sampai kau menemukan akhir. Namun sebelum kau menemukannya, lakukanlah seperti yang kusebutkan sebelumnya. Berjalanlah, bagikanlah, berjalan lagi. Begitu seterusnya.

Kau tak perlu jadi orang lain, kau tak perlu berpura-pura, kau tak perlu tergesa-gesa, kau tak perlu memakai topeng. Jadilah seperti apa yang kamu punya, yang kamu bisa sampaikan. Dan kalau bisa, lakukan itu semua karena Allah.

Karena saat kau melakukan semua itu karena Allah, kamu tak perlu risau tentang komentar orang lain terhadapmu. Dihargai atau tidak, dijadikan sebagai contoh atau tidak, diikuti atau tidak, disukai atau tidak, didengar atau tidak, dicintai atau tidak, selama itu sebuah kebaikan, dan dilakukan karena Allah. Allah saja sudah cukup untukmu. Karena saat kau tak mempunyai si(apa)pun di dunia ini, namun ketika hatimu memiliki Allah. Maka, kamu punya segalanya.

Eh iya, ini kok saya semacam sedang ingin dikenal oleh banyak orang, ya??!
🙂

 

Agar Tak Bernasib Seperti Lilin

Bismillah

Assalamu’alaikum wr wb…

Haloo… ini hari ke 14 di bulan Juli, itu tandanya sudah hampir setengah bulan saya melewati hari-hari tanpa menyetorkan tulisan untuk blog ini. Sesekali hanya menulis singkat di status instagram disertai gambar. Ohiya, alasannya kenapa saya gak posting tulisan selama setengah bulan ini, karena kejar-kejaran sama hari libur. Jadi gradak-gruduk membereskan pekerjaan sebelum libur lebaran. Meski pada akhirnya, masih ada beberapa pekerjaan yang tetap belum beres statusnya. Hehe…

Temans!
Saya lanjutkan postingan kali ini dengan pelajaran #NgajiHikam yak?! (Iya, Niel. Boleh…)
Oke!
#NgajiHikam bab – 158 dengan tema “Agar Tidak Bernasib Seperti Lilin”
“Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah. Anggap keberadaan mereka tak mempengaruhimu, fokuslah hanya pada Allah.”

Pada hikmah ini, al-Buthi ingin berbincang seputar sosok manusia panutan ideal; yang hatinya murni hanya menghamba kepada Allah. Yang kita tahu, bila seorang telah mendapat tempat di hati masyarakat, ia akan merasa bangga: karena bisa berbagi manfaat pada orang lain. Cara berpikir seperti ini memang benar, tapi harus ada klarifikasi terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi nantinya akan bernasib seperti lilin.

Berbuat baik dengan cara menolong sesama Muslim yang membutuhkan, adalah kewajiban bersama. Setiap muslim harus punya prinsip baik ini. Mengarahkan orang awam ke jalan yang benar menurut agama adalah bentuk perilaku positif. Pendakwah di jalan Allah pasti punya mindset ini. Tapi ingat, tujuan utama haruslah dilatarbelakangi ajuran agama. Maksudnya, kerelaan berkorban adalah demi menjalankan perintah Islam. Tak ada intervensi nafsu, apalagi paksaan orang lain. Niat menolong murni karena Allah. Bukan lantaran ingin populer di tengah masyarakat. Yang mengherankan, banyak kalangan Muslim yang tidak tahu tujuan baik agama Islam. Mereka lebih senang yang ada timbal baliknya. Selain balasan surga, mereka juga ingin dibanggakan orang (Astaghfirullah). Sebagian ingin namanya populer di kalangan masyarakat awam agar dihormati.

Nah, saat lengah seperti inilah berbagai sifat negatif bisa menyerang hati. Diantaranya perasaan pamer (riya’), juga sombong (kibr). Muslim yang demikian bisa bernasib seperti lilin: banyak orang beroleh manfaat darinya, tapi ia sendiri terbakar habis ditelan api. Bisa jadi, jerih payah dan pengorbanan hartanya selama ini  tak bernilai pahala sama sekali. Pahalanya hangus dilalap kobaran riya’ & kibr. Secara keduniawian, bisa saja ia berhasil populer. Tapi secara ukhrawi, sebenarnya ia gagal. Ia miskin, tidak punya bekal pahala.

Lalu bagaimana solusi agar bisa lepas dari perasaan ingin diperhatikan orang? Jawabannya tertera di awal hikmah Ibnu Athaillah tadi. “Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah, anggap keberadaan mereka tidak mempengaruhimu, fokuslah hanya kepada Allah”. Dengan menganggap hanya Allah saja yang ada, maka perhatian kita bisa lebih fokus. Tujuan hidup kita hanya satu, yaitu menghamba kepada Allah. Bila mindset penghambaan ini berhasil ditanamkan dalam hati & pikiran, yang muncul pastilah perilaku positif “li i’lai-kalimatillah”.

Pembahasan ini merupakan catatan yang cukup penting diketahui dan dipahami oleh setiap muslim yang pada hakikatnya bertugas untuk menjadi da’i di dunia ini. Atau minimal, sangat penting dipahami oleh muslim yang memang sangat concern  di bidang dakwah.

Oleh karena satu per satu dari kita ini adalah pengemban/ penerus tugas dakwah Rasulullah SAW, maka jadikanlah catatan ini sebagai pengingat diri dan menjadi dasar dalam hidup kita, bahwa semangat dalam berdakwah ialah didasari ikhlas hanya karena Allah. Tak untuk disanjung manusia, tak untuk dipuja dan dimanja-manja fasilitas yang ada.

Selamat menjadi da’i yang fokus bertujuan kepada Allah.

Semoga kita termasuk diantara yang diharapkan baik oleh Ibnu Athaillah.

Semoga kita tak menjadi seperti lilin yang mungkin bermanfaat untuk orang banyak, namun merugi karena diri habis terbakar oleh api sendiri.

Wallahu’alam

Wassalam…

Duhai…

Duhai engkau yang berjalan di atas kebenaran

Begitu banyak di luar sana yang sedang mencari-cari di manakah kebenaran itu berada

Begitu banyak di luar sana yang berusaha menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya

Bahkan mereka berjalan sampai begitu jauhnya,

demi mencari tahu darimana kah dirinya berasal,

lalu akan kemanakah dirinya setelah bumi ini benar-benar hancur.

 

Duhai engkau yang menopang amanah risalah

Di setiap diri-diri ini, tertetapkan bahwa diri adalah penerus dakwah

Di setiap jiwa-jiwa ini, tertugaskan untuk memberi petunjuk kepada kebenaran

Di setiap hati-hati ini, terwajibkan agar memberikan nasihat dalam kebaikan

Baik kepada mereka yang belum mengetahui,

pun bagi mereka yang sedang tersesat jalannya,

kemudian itulah nilai diri yang wajib dipertahankan.

 

Duhai jiwa-jiwa yang rela berlelah-lelah

Bukan karena imbalan uang

Bukan karena rayuan jabatan

Melainkan karena cintanya kepada pemilik alam semesta sekalian

Karena rindunya menyongsong kemenangan Islam

Karena inginnya bertemu dengan kekasih Rabb semesta alam

Bersabarlah

Bertahanlah

Berlapang-dada-lah

Bersyukurlah

Allah masih tancapkan hatimu pada tali-tali agama ini.

Semoga menjadi hujjah buatmu di akhirat nanti.

Spirit Hidup untuk Ibadah

Taraaa… daku kembali lagi menulis lis lis.
Yang pasti, daku menuliskan ini dengan modal membaca. Kalo enggak, yaudah daku bingung mau nulis apaan.

Ini adalah pembayaran hutang menulis ke-3 yang deadline-nya memang hari ini. Selain memang belum dapat ide tema yang berbeda, izinkan sekali lagi daku menuliskan ulang hikmah dari #NgajiHikam yang ditwit oleh akun pesantren @sidogiri ya.

Tentang kamu… eh bukan… masa iya #NgajiHikam judulnya gitu.. Hahaha..

Spirit Hidup untuk Ibadah

“Dengan mengingat semua anugerah Allah kepadamu, maka akan langsung muncul pengharapan (raja’) dari hatimu. Dengan melihat pengabdianmu kepada-Nya, maka akan timbul rasa khawatir (khauf) dari dalam dirimu.”

Mengingat anugerah Allah yang tak terhingga, Anda pasti tahu QS. Ibrahim ayat 34 ini:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Alllah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Selama ini nikmat Allah salalu berlimpahan. Kesehatan fisik yang selalu bugar; pasokan ikan atau makanan yang tak pernah ada habisnya. Cadangan oksigen yang terproses otomatis, agar selalu segar saat dihirup; juga mineral bumi yang tak pernah habis meski terus ditambang. Bahkan, jutaan spesies tanaman bisa dikonsumsi, juga dapat diproses menjadi obat terapi penyembuhan. Semuanya adalah nikmat Allah. Seakan semua yang ada di bumi ini tersedia untuk melayani kebutuhan manusia.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. al-Isra’ ayat 70.

Melihat bukti anugerah Allah yang begitu besar tadi, apakah Anda masih merasa tak disayang Allah? Ataukah malah akan mendurhakai-Nya? Tentu saja Anda tak akan seperti itu. Yang ada justru pengharapan: semoga limpahan rahmat Allah itu membawa berkah bagi kehidupan Anda.

Seumpama ada seorang dermawan memberi Anda uang sebesar Rp. 1 Miliar, apakah Anda akan tega menipu dermawan tersebut? Tentu saja tidak!. Fitrah manusia pasti mengarah kepada kebaikan. Sebab seburuk apapun watak manusia, ia pasti punya secuil sisi positif dalam hati dan akalnya.

Selanjutnya adalah melihat batas pengabdian Anda kepada Allah. Sebesar apakah pengorbanan Anda selama ini untuk dipersembahkan kepada Allah?. Kata al-Buthi, sebenarnya Anda tak punya hadiah apapun untuk Allah. Amal shaleh dari perbuatan Anda setiap hari, sangat tidak setimpal. Lima waktu shalat sehari, hanya bisa menebus kewajiban ibadah Anda sebagai umat Rasulullah. Shalat itu untuk Anda, bukan untuk Allah. Nilai ketaatan Anda, juga hanya seumur jagung. Setelah kelihatan buahnya, malah rontok dihantam hasrat duniawi sekuat puting beliung.

Padahal Allah sering memperingatkan Anda tentang tipu muslihat dunia. Lihat QS. al-Fathir ayat 5:

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”

Dunia ini sekedar hiburan, yang pastinya bukan menjadi tujuan hidup.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” QS. al-Ankabut ayat 64.

Nah, amal kebaikan yang tak sepantasnya dihadiahkan kepada Allah tadi seharusnya membuat pikiran Anda khawatir. Mengapakah demikian? Karena modal amalan Anda tak sebanding dengan balasan surga dari Allah; disamping juga Anda khawatir tak ikhlas beramal untuk Allah. Jika mau dibandingkan, sebenarnya kebaikan yang Anda lakukan di dunia tak bisa menyalip nilai nikmat yang Allah berikan untuk hidup Anda.

Inti dari hikmah tadi, ada dua kata kunci yang harus Anda pahami secara benar yaitu raja’ (pengharapan) & khauf (rasa khawatir). Meski kenyataanya, masih ada saja orang yang hendak membandingkan kebaikan Allah dengan kebaikan versi manusia secara tak proporsional.

Antara Raja’ & Khauf sama-sama penting bagi kehidupan muslim. Maka mulailah untuk mengadaptasikan dua hal ini dalam aktivitas harian Anda. Raja’ berguna untuk memotivasi hidup; agar Anda selalu bersemangat dalam beraktivitas, ataupun juga dikala beribadah menghadap kepada-Nya. Sedangkan Khauf berfungsi sebagai rem; agar Anda selalu ingat beribadah; agar Anda tak hidup sombong hanya dengan bermodalkan ‘kesuksesan’. Buatlah hidup Anda begitu berarti, yang punya nilai positif dan termotivasi untuk Allah. Jadikan diri Anda berguna bagi Agama dan Bangsa.

Lagi-lagi daku menuliskan ini rasanya sambil tepok-tepok muka sendiri. Tapi apalah arti “tepok-tepok muka sendiri” kalau akhirnya tak ada perubahan signifikan dalam ibadah saya kelak. Astaghfirullah

Karena Allah Menghendakinya

Hari ini, kembali saya diingatkan bahwa begitu besarnya nikmat Iman Islam yang Allah karuniakan kepada saya semenjak saya kecil. Meski saya berislam karena keturunan dari orangtua, tapi kembali saya bersyukur untuk yang kesekian kalinya, Allah masih memberikan hidayahNya untuk saya mengimani Islam. Sampai saya benar-benar mengerti dan meyakini Islam, dan kiini berislam bukan lagi karena orang tua saya Islam, tapi karena Islam adalah agama fitrah yang dengan sadar saya pahami dan saya imani.

Ditengah hiruk-pikuk para pemuda islam yang kini ramai berhijrah, ternyata terselip satu atau dua orang yang Allah goyahkan hatinya untuk melepaskan nikmat iman Islam. Na’udzubillah. Di tengah begitu derasnya arus para pencari kebenaran di luar negeri sana, yang akhirnya menemukan Islam, menemukan arti kehidupan, menemukan alasan-alasan mengapa mereka hidup dan ke manakah mereka setelah mati?, ternyata masih ada sedikit orang yang Allah kehendaki untuk tersesat. Astaghfirullahal’adziim.

“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” ‪(Ibrahim: 4)

Setelah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, tak serta merta kita aman dari ancaman syaithan yang membisikkan kemaksiatan bahkan sampai kepada kesesatan dan lalu murtad dari agama Allah. Allah memberi kesesatan kepada sesiapa yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada sesiapa yang Ia kehendaki pula, dan tidaklah mungkin Allah memberikan kedua hal ini tanpa alasan yang jelas. Hati, sikap dan perilaku kita sehari-hari sangat mempengaruhi. Dengan siapa kita bergaul, bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari adalah indikasi bahwa sebesar apakah diri kita yakin dan percaya akan keberadaan Allah swt, yakin akan kekuasaa-Nya dan yakin akan pertolongan-Nya.

Iman adalah hal yang tak mudah diterka, iman itu selalu naik turun,

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

maka, banyak hal yang harus kita lakukan agar iman ini terus terjaga, tak goyah oleh harta, tak hancur oleh tahta juga wanita. Sedikit dari banyak cara yang bisa kita lakukan adalah dengan cara berkumpul dengan orang-orang sholeh, senantiasa membaca Al-Quran dan berusaha memahami artinya, membaca buku-buku tentang Agama Islam dan berdoa agar terus ditetapkan hati kita dalam Iman Islam dan ALlah matikan dalam keadaan Islam pula.

Salah satu doa yang seringkali dibaca oleh Rasulullah saw,

“Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa dinnika wa ‘alaa tho’athik.”

yang artinya:

“Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati,  tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

Begitulah, memang benar Allah yang menghendaki segala sesuatu, namun diri kita-lah yang paling bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Tersesat kah? atau Kembali pada jalan Allah? Itu memang pilihan, dan setiap pilihan akan mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Semoga Allah istiqomahkan diri ini dan saudara-saudari muslim saya di seluruh penjuru dunia. Semoga Allah teguhkan dan kokohkan Iman Islam kita, hingga syaithan-pun tak mampu menembus kekuatan pertahanan hati kita agar kita tak ikut tersesat bersama dengannya. Baik syaithan yang tidak berwujud (jin) maupun syaithan yang berwujud (manusia). Aamiin.