Wanita Ini Menyulitkan

“Ck, ah! Wanita ini menyulitkanku saja.” gerutunya dalam hati sambil memandang ulang percakapannya dengan seorang wanita di whatsapp.

Laki-laki itu kemudian menyeruput kopi hitam yang baru saja tersedia di mejanya.
Tepatnya di salah satu sebuah kedai kopi di bilangan Yogyakarta.

Bagaimana tak membuatnya sulit?
Sudah jauh dia berlari sampai ke ujung hutan,
tapi wajah wanita itu tetap saja menempel di matanya.

Sudah puluhan pantai dikunjungi dan ratusan kali ia berenang,
menyelam ke dasar lautan,
namun wanita itu masih tetap tinggal di pikirannya.

Sudah berkali-kali gunung tinggi didakinya,
tetap saja wanita itu hadir dalam langkahnya.

Apalagi, ditambah dengan percakapan kecil dengannya tadi sore.
Sungguh membuatnya begitu gamang.
Entah, harus dengan cara apa ia meninggalkan.

Sedangkan, laki-laki itu harus mengurusi banyak hal.

Meski wanita itu adalah termasuk hal yg akan diurusinya,
tapi bukan sekarang.

Hal yang paling ingin dilakukannya saat ini hanyalah “menjaga perasaan”,
pastinya ini untuk kebaikan dirinya sendiri.

Pergilah, aku akan baik-baik saja.

Sebuah pesan masuk dari wanita itu. Laki-laki itu, bukannya malah lega,
kini ia berlari meninggalkan kopi hitamnya. Entah ke mana.

Jatiwaringin, 18 September 2015

Agar Tak Bernasib Seperti Lilin

Bismillah

Assalamu’alaikum wr wb…

Haloo… ini hari ke 14 di bulan Juli, itu tandanya sudah hampir setengah bulan saya melewati hari-hari tanpa menyetorkan tulisan untuk blog ini. Sesekali hanya menulis singkat di status instagram disertai gambar. Ohiya, alasannya kenapa saya gak posting tulisan selama setengah bulan ini, karena kejar-kejaran sama hari libur. Jadi gradak-gruduk membereskan pekerjaan sebelum libur lebaran. Meski pada akhirnya, masih ada beberapa pekerjaan yang tetap belum beres statusnya. Hehe…

Temans!
Saya lanjutkan postingan kali ini dengan pelajaran #NgajiHikam yak?! (Iya, Niel. Boleh…)
Oke!
#NgajiHikam bab – 158 dengan tema “Agar Tidak Bernasib Seperti Lilin”
“Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah. Anggap keberadaan mereka tak mempengaruhimu, fokuslah hanya pada Allah.”

Pada hikmah ini, al-Buthi ingin berbincang seputar sosok manusia panutan ideal; yang hatinya murni hanya menghamba kepada Allah. Yang kita tahu, bila seorang telah mendapat tempat di hati masyarakat, ia akan merasa bangga: karena bisa berbagi manfaat pada orang lain. Cara berpikir seperti ini memang benar, tapi harus ada klarifikasi terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi nantinya akan bernasib seperti lilin.

Berbuat baik dengan cara menolong sesama Muslim yang membutuhkan, adalah kewajiban bersama. Setiap muslim harus punya prinsip baik ini. Mengarahkan orang awam ke jalan yang benar menurut agama adalah bentuk perilaku positif. Pendakwah di jalan Allah pasti punya mindset ini. Tapi ingat, tujuan utama haruslah dilatarbelakangi ajuran agama. Maksudnya, kerelaan berkorban adalah demi menjalankan perintah Islam. Tak ada intervensi nafsu, apalagi paksaan orang lain. Niat menolong murni karena Allah. Bukan lantaran ingin populer di tengah masyarakat. Yang mengherankan, banyak kalangan Muslim yang tidak tahu tujuan baik agama Islam. Mereka lebih senang yang ada timbal baliknya. Selain balasan surga, mereka juga ingin dibanggakan orang (Astaghfirullah). Sebagian ingin namanya populer di kalangan masyarakat awam agar dihormati.

Nah, saat lengah seperti inilah berbagai sifat negatif bisa menyerang hati. Diantaranya perasaan pamer (riya’), juga sombong (kibr). Muslim yang demikian bisa bernasib seperti lilin: banyak orang beroleh manfaat darinya, tapi ia sendiri terbakar habis ditelan api. Bisa jadi, jerih payah dan pengorbanan hartanya selama ini  tak bernilai pahala sama sekali. Pahalanya hangus dilalap kobaran riya’ & kibr. Secara keduniawian, bisa saja ia berhasil populer. Tapi secara ukhrawi, sebenarnya ia gagal. Ia miskin, tidak punya bekal pahala.

Lalu bagaimana solusi agar bisa lepas dari perasaan ingin diperhatikan orang? Jawabannya tertera di awal hikmah Ibnu Athaillah tadi. “Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah, anggap keberadaan mereka tidak mempengaruhimu, fokuslah hanya kepada Allah”. Dengan menganggap hanya Allah saja yang ada, maka perhatian kita bisa lebih fokus. Tujuan hidup kita hanya satu, yaitu menghamba kepada Allah. Bila mindset penghambaan ini berhasil ditanamkan dalam hati & pikiran, yang muncul pastilah perilaku positif “li i’lai-kalimatillah”.

Pembahasan ini merupakan catatan yang cukup penting diketahui dan dipahami oleh setiap muslim yang pada hakikatnya bertugas untuk menjadi da’i di dunia ini. Atau minimal, sangat penting dipahami oleh muslim yang memang sangat concern  di bidang dakwah.

Oleh karena satu per satu dari kita ini adalah pengemban/ penerus tugas dakwah Rasulullah SAW, maka jadikanlah catatan ini sebagai pengingat diri dan menjadi dasar dalam hidup kita, bahwa semangat dalam berdakwah ialah didasari ikhlas hanya karena Allah. Tak untuk disanjung manusia, tak untuk dipuja dan dimanja-manja fasilitas yang ada.

Selamat menjadi da’i yang fokus bertujuan kepada Allah.

Semoga kita termasuk diantara yang diharapkan baik oleh Ibnu Athaillah.

Semoga kita tak menjadi seperti lilin yang mungkin bermanfaat untuk orang banyak, namun merugi karena diri habis terbakar oleh api sendiri.

Wallahu’alam

Wassalam…

Duhai…

Duhai engkau yang berjalan di atas kebenaran

Begitu banyak di luar sana yang sedang mencari-cari di manakah kebenaran itu berada

Begitu banyak di luar sana yang berusaha menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya

Bahkan mereka berjalan sampai begitu jauhnya,

demi mencari tahu darimana kah dirinya berasal,

lalu akan kemanakah dirinya setelah bumi ini benar-benar hancur.

 

Duhai engkau yang menopang amanah risalah

Di setiap diri-diri ini, tertetapkan bahwa diri adalah penerus dakwah

Di setiap jiwa-jiwa ini, tertugaskan untuk memberi petunjuk kepada kebenaran

Di setiap hati-hati ini, terwajibkan agar memberikan nasihat dalam kebaikan

Baik kepada mereka yang belum mengetahui,

pun bagi mereka yang sedang tersesat jalannya,

kemudian itulah nilai diri yang wajib dipertahankan.

 

Duhai jiwa-jiwa yang rela berlelah-lelah

Bukan karena imbalan uang

Bukan karena rayuan jabatan

Melainkan karena cintanya kepada pemilik alam semesta sekalian

Karena rindunya menyongsong kemenangan Islam

Karena inginnya bertemu dengan kekasih Rabb semesta alam

Bersabarlah

Bertahanlah

Berlapang-dada-lah

Bersyukurlah

Allah masih tancapkan hatimu pada tali-tali agama ini.

Semoga menjadi hujjah buatmu di akhirat nanti.

Kenali Isi Hatimu

Masih meneruskan pembayaran hutang menulis saya yang ke-2 dan saya masih tergoda untuk berbagi ulang tentang #NgajiHikam yang ditwitkan oleh akun pesantren @sidogiri. Kali ini dengan tema yang lebih seru lagi. Kenali Isi Hatimu.

“Cahaya kebenaran itu munculnya dari hati nurani dan ruh istimewa anugerah ilahi.”

Karena hubungannya dengan gerak hati yang bersifat abstrak. Selama ini, kata hati dianggap sekedar praduga saja. Tak bernilai kebenaran. Padahal Islam tidak memandang demikian. kekuatan hati akan dianggap sebagai sebuah kebenaran, jika ia sampai pada taraf tertinggi yaitu yakin.

Diantaranya, ketika hati telah terhubung langsung dengan Allah. Seperti kata ayat QS. al-Anfal Ayat 2 yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Sebab meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Esa adalah absolut. Muslim yang hatinya meyakini ketuhanan Allah berarti telah mengenal kebenaran. Lihat pula, bagiamana seorang Muslim yang hatinya begitu khusyuk saat menyebut asma-Nya; QS. al-Hadid ayat 16:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.”

Lho, bukankah metode paling maju untuk menemukan kebenaran itu seharusnya menggunakan nalar akal? Atau dengan berfilsafat, misalnya?

Kata al-Buthi, justru jika hanya bermodalkan nalar akal, hasilnya malah tidak maksimal. Sebab nalar akal itu ambigu; bisa benar, bisa salah. Yang mengkhawatirkan, nalar akalnya terbawa arus nafsu manusiawi. Bisa jadi bukan kebenaran yang dicapai, tapi malah sesat-menyesatkan. Allah telah memperingatkan orang Muslim tentang kekhawatiran ini dalam QS. al-A’raf ayat 175:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”

Ilmu pengetahuan bukan membawanya makin dekat kepada Allah, malah menjauhkan. Ini gambaran paling mudah bagaimana ilmu yang tidak barokah.

“Bertambahnya ilmu pada seorang bandit agama, layaknya menuangkan air ke dalam gelas pahit. Diminum malah mencekik,” kata Imam Ghazali. Gerak hati yang positif dengan yang negatif jelas berbeda; antara hati yang bening dengan hati yang teracuni nafsu manusiawi tidak sama.

Lalu bagaimanakah cara mengetahui dua indikasi hati yang sama-sama abstrak itu? Jawabannya, lihatlah cara hatinya merespon kebenaran. Hati yang bening ketika dilimpahi nikmat oleh Allah, biasanya ia akan bersyukur. Mata hatinya melihat kebenaran kasih sayang Allah. Sebaliknya, hati yang teracuni nafsu biasanya merasa sombong saat dilimpahi nikmat. Hatinya dibutakan oleh nafsu manusiawinya sendiri.

Nah, kembali ke lanjutan hikmah di awal pembahasan tadi. Bahwa kebenaran ke-dua berasal dari ruh istimewa anugerah dari Allah. Hal istimewa ini juga disebut sebagai “nur hidayah” seperti redaksi QS. an-Nur ayat 35 ini

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahayanya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Hidayah ini juga menjadi penopang utama gerak hati positif tadi. Ia adalah ruh suci yang dulu pernah Allah tiupkan pada seluruh manusia. Perhatikan dan renungilah secara benar QS. al-Hijr ayat 29:

“Maka apabilah Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Kesimpulannya, jika hati yang positif & ruh istimewa tadi telah menyatu dalam diri seorang Muslim, apakah gambaran Anda selanjutnya? Tentu saja, yang terlihat adalah manusia sempurna dengan kualitas & kuantitas iman yang paling baik. Pikiran dan hatinya menuju pada Allah. Muslim yang seperti ini pasti menjadi idaman seluruh manusia. Pertanyaan terakhir, kenapa bukan Anda saja yang menjadi muslim demikian?

Nah …..

Saya juga ng… ng… ng… nih 😀

Sebelum sampai kepada menjadi muslim yang demikian, tulisan di atas mesti saya baca berulang-ulang karena agaknya, urusan hati nurani dan ruh istimewa ini cukup berat pembahasannya.

Aduh Niel, gaya bener mau baca ulang, padahal mah masih marathon nulis hutang ke-3 :))

Kita adalah Mereka; dalam Novel Rindu

Kita adalah Gurutta Ahmad Karaeng dengan segala kegundahan yang menyelinap, meyakinkan diri, bertanya lagi, apakah diri sebenar-benar seperti apa yang telah terlanjur kita tuliskan dan kita nasihatkan?

Kita adalah Daeng Andipati dengan segala kebencian kepada orang yang seharusnya paling dicintai, terpaksa membenci karena kenyataan yang tak sesuai dengan harapan yang terlalu tinggi. Beraharap air pada teko yang tak berisi.

Kita adalah Bonda Upe dengan segala ketakutan masa lalu yang terlalu perih, merasa hina dina bahkan saat tiada satupun manusia mencerca secara terbuka, dalam kesendirian pun terpasung rasa tak berguna, tiada berani menatap pasti meski mungkin, beberapa orang tak terlalu mengerti dengan pahit-pahit di hati. Mungkin juga tak ingin peduli, kecuali diri-diri yang memang terpatri.

Kita adalah Mbah Kakung dengan segala cita-cita menapaki tanah suci yang dimimpi-mimpi semenjak menikah dengan Mbah Putri, tersebut dalam janji suci mengarungi kehidupan dengan hati dan kasih. Kemudian, mengurung diri, enggan sekali menerima kenyataan bahwa sang istri, Mbah Putri yang dikasihi sudah tak lagi di sisi, bahkan sebelum kapal Blitar Holland menjajaki Tanah Suci.

Kita adalah Ambo Uleng dengan segala kepedihan hati, mengubur hasrat untuk memiliki, menenggelamkan benih-benih kasih di dalam hati, mengutuk hari dengan melukai diri. Begitu kuatnya keinginan untuk menjauh pergi dari kenyataan-kenyataan yang tak kuasa untuk dihadapi, sendiri.

Kita adalah Anna; selalu ingin tahu dan tak puas dengan jawaban yang hanya satu kali.

Kita adalah Elsa; selalu mempunyai cara lain untuk mengekspresikan kasih sayang kepada saudari.

Kita adalah Kapten Philips; menghargai dan mencintai sesama, tanpa pandang agama, suku dan juga bangsa dan tentunya tanpa memaksakan orang lain untuk mencampur adukkan ideologi.

Kita mungkin juga Chef Lars, mungkin juga si Boatswain sang kelasi, atau mungkin sekadar dinding-dinding kabin yang tegak berdiri.

Kita adalah mereka. Ya, kita mungkin adalah mereka.

Mereka semua terrangkum dalam sebuah kapal perjalanan haji, Makassar – Tanah Suci – Belanda kemudian kembali ke tanah air lagi.

Mereka semua terrangkum dalam sebuah kapal bernama Blitar Holland.

Mereka semua terrangkum dalam kehidupan harmoni.

Dan aku melihat Islam di dalamnya,

Ya, harmoni.

Mereka semua memiliki cerita hidup yang terendap dalam hati, namun kemudian mereka menyerah kepada keadaan, menyerah pada kenyataan, menatap masa depan dan yang paling penting, mereka berserah diri kepada Illahi, berusaha mengembalikan semua pada tempatnya kembali, kemudian berusaha untuk mengubah nasib diri dengan kedua tangan juga kaki.

Mungkin, kita pun harus mencoba, menjadi seperti mereka.

Karena sejatinya, kita adalah mereka yang berada dalam perjalanan haji.

Karena sejatinya, kita tak pernah benar-benar memiliki, apapun itu.

Review on my goodreads

Buah dari Iman adalah Ukhuwah

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Berbagi kisah yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman semua. Jika sudah pernah membacanya, rasanya tak ada salah untuk membacanya lagi, karena ini adalah kisah di mana buah-buah keimanan kita diperlihatkan.

Umar Bin Khathtab pernah berkata: Aku tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini, kecuali karena tiga hal:
1. Keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya.
2. Repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail.
3. Dan indahnya bertemu dengan sahabat-sahabat seiman.

Mungkin kisah berikut ini mampu mengawal perasaan kita. Betapa ukhuwah itu merupakan penanda iman kita.
Semenjak Rasulullah SAW wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: ‘Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah SAW saja. Rasulullah SAW telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi’.

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah SAW terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah. Dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah SAW hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: ‘Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini? Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW.

Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah SAW. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah SAW, pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah SAW tersebut. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, ‘Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.’

Ketika itu, Umar bin Khathtab yang telah menjadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja. Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah SAW, Umar bin Khathtab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah SAW diantara mereka. Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah SAW wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Bayangkan kita seolah sedang hidup bersama di tengah-tengah mereka. Hamba-hamba Allah yang selalu terhubung dengan langit dan merasakan “indahnya ukhuwah dalam kebenaran dan kemuliaan.” Maka jika masih ada batas dalam perjalanan ukhuwah kita, bisa dipastikan kita telah gagal menggenggam makna ukhuwah yang sebenarnya.

Ada sebuah nasihat dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah:

Ukhuwah itu hanya sekedar buah dari keimanan kita kepada Allah.

Jadi jika ukhuwahnya bermasalah mari kita evaluasi keimanan kita kepada-Nya. Efek dari hubungan baik kita dengan yang ada di langit secara langsung berefek pada baiknya keterhubungan kita dengan bumi.

Dalam sebuah kutipan ada yang mengingatkan kepada kita:

Sebesar cintamu pada Allah, sebesar itu pula cinta orang lain kepadamu. Sebesar ketakutanmu akan murka Allah, sebesar itu pula keseganan orang lain terhadapmu. Sebesar kesibukanmu pada Allah, sebesar itu pulaorang lain sibuk untukmu. (Kutipan Al-Mughirah)

Begitu juga dalam Ayat Al-Qur’an:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.“ (QS. Al-Hujurat: 10)

Hati yang beriman adalah hati yang indah, disebabkan dalam hati mereka selalu tersambung dengan Allah dan selalu meneladani Rasulullah SAW.

Hati yang indah adalah hati yang selalu mengulurkan rasa cinta kepada sesama.

Hati mereka selalu tunduk pada Allah dan Rasulullah SAW, sehingga mudah tunduk pada ukhuwah, meski dengan berbagai perbedaan yang ada.

Dan rendahkanlah dirimu bila bersama orang mukmin. Kita diminta berendah hati bila kita mau meneladani Rasulullah SAW.

Karena ketika kita merendah kita tak akan mudah terjatuh. Dan bila sampai terjatuh tak begitu terasa sakit.

Maka -mungkin secara ekstrim bisa dikatakan-:

Tak perlu menjaga ukhuwah, karena ukhuwah hanya akibat (buah) dari iman.

Wallahu a’lam bishawab…

Semoga ukhuwah kita yang terjalin diakibatkan oleh iman yang ada di dalam hati-hati kita,
Aamin….

Salam Ukhuwah Fillah

Diambil dari buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” Karya Ust. Salim A Fillah