Menghabiskan Ego

Judul tulisan di atas bukanlah judul tulisan saya, melainkan judul tulisan dari seorang penulis yang saat ini sedang digandrungi oleh kebanyakan wanita-wanita yang masih single, yang sudah “berdua” juga banyak sih, dan yang laki-laki pun ada, tapi yang jelas, kenyataanya wanita memang lebih dominan.

Ah, single-single bahagia macam saya ini memang mudah sekali tersentuh oleh tulisan-tulisan yang bijaksana. Meski mungkin, pada kenyataanya, masih banyak hal yang dalam prakteknya belum sebijak tulisan yang kita sukai.

Tulisan-tulisan Kurniawan Gunadi yang terbit di blog pribadinya yaitu tumblr, bukan digandrungi secara tiba-tiba. Ada beberapa hal berbeda yang disajikan dalam tulisan-tulisannya. Meski wanita-wanita ini paham betul bahwa seorang Kurniawan Gunadi adalah seorang laki-laki muda yg masih single (juga) –Ciyee– tapi sepertinya wanita-wanita yang menggandrungi tulisannya ini harus setuju, bahwa tulisan tentang berbagai perasaan, sikap, prinsip, iman dan kehidupan yang disajikannya, layaknya seperti tetesan embun di pagi hari (halah), menyejukkan dan menentramakan. Meski setelah membacanya, masih juga banyak wanita single yang teteup weh galau gak jelas *yang ini bukan curhat lhoh* :D. Pembacanya sama sekali tidak merasa bahwa tulisannya itu menggurui, padahal Kurniawan Gunadi belum menikah. Tulisannya seperti nasihat-nasihat terbaik untuk seorang anak perempuan, padahal dia bukan seorang Ayah. Tulisannya seperti nasihat-nasihat bijak untuk seorang anak laki-laki, padahal dia bukan seorang Ibu. Dan Kurniawan Gunadi, mampu memesona banyak pembaca setianya.

Di antara begitu banyaknya tulisan “epic” (kalo kata saya) yang diciptakan oleh seorang Kurniawan Gunadi. Tulisan inilah yang kini patut saya renungi baik-baik. Tulisan ini dikategorikan dalam halaman SPN alias Sekolah Pra Nikah. Menurut saya unik, karena Kurniawan Gunadi belajar tentang pernikahan dari orang-orang sekitar yang pernah dia temui (meski gak hanya SPN doank).

Meski menurut saya, masa-masa merenungkan ego ini sudah terlewati. Agaknya masih relevan untuk mengingatkan diri lagi. Siapa tahu ada yang terlewati.

 

http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/107842619497/tulisan-menghabiskan-ego

Saya menganggukkan kepala setelah membaca tulisan ini dalam buku Lautan Langit-nya. Kemudian kembali mengingat-ingat. Sudah habiskah ego saya?

Jadi, selamat menghabiskan ego  🙂

Salam,

Aniel

Advertisements

Spirit Hidup untuk Ibadah

Taraaa… daku kembali lagi menulis lis lis.
Yang pasti, daku menuliskan ini dengan modal membaca. Kalo enggak, yaudah daku bingung mau nulis apaan.

Ini adalah pembayaran hutang menulis ke-3 yang deadline-nya memang hari ini. Selain memang belum dapat ide tema yang berbeda, izinkan sekali lagi daku menuliskan ulang hikmah dari #NgajiHikam yang ditwit oleh akun pesantren @sidogiri ya.

Tentang kamu… eh bukan… masa iya #NgajiHikam judulnya gitu.. Hahaha..

Spirit Hidup untuk Ibadah

“Dengan mengingat semua anugerah Allah kepadamu, maka akan langsung muncul pengharapan (raja’) dari hatimu. Dengan melihat pengabdianmu kepada-Nya, maka akan timbul rasa khawatir (khauf) dari dalam dirimu.”

Mengingat anugerah Allah yang tak terhingga, Anda pasti tahu QS. Ibrahim ayat 34 ini:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Alllah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Selama ini nikmat Allah salalu berlimpahan. Kesehatan fisik yang selalu bugar; pasokan ikan atau makanan yang tak pernah ada habisnya. Cadangan oksigen yang terproses otomatis, agar selalu segar saat dihirup; juga mineral bumi yang tak pernah habis meski terus ditambang. Bahkan, jutaan spesies tanaman bisa dikonsumsi, juga dapat diproses menjadi obat terapi penyembuhan. Semuanya adalah nikmat Allah. Seakan semua yang ada di bumi ini tersedia untuk melayani kebutuhan manusia.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. al-Isra’ ayat 70.

Melihat bukti anugerah Allah yang begitu besar tadi, apakah Anda masih merasa tak disayang Allah? Ataukah malah akan mendurhakai-Nya? Tentu saja Anda tak akan seperti itu. Yang ada justru pengharapan: semoga limpahan rahmat Allah itu membawa berkah bagi kehidupan Anda.

Seumpama ada seorang dermawan memberi Anda uang sebesar Rp. 1 Miliar, apakah Anda akan tega menipu dermawan tersebut? Tentu saja tidak!. Fitrah manusia pasti mengarah kepada kebaikan. Sebab seburuk apapun watak manusia, ia pasti punya secuil sisi positif dalam hati dan akalnya.

Selanjutnya adalah melihat batas pengabdian Anda kepada Allah. Sebesar apakah pengorbanan Anda selama ini untuk dipersembahkan kepada Allah?. Kata al-Buthi, sebenarnya Anda tak punya hadiah apapun untuk Allah. Amal shaleh dari perbuatan Anda setiap hari, sangat tidak setimpal. Lima waktu shalat sehari, hanya bisa menebus kewajiban ibadah Anda sebagai umat Rasulullah. Shalat itu untuk Anda, bukan untuk Allah. Nilai ketaatan Anda, juga hanya seumur jagung. Setelah kelihatan buahnya, malah rontok dihantam hasrat duniawi sekuat puting beliung.

Padahal Allah sering memperingatkan Anda tentang tipu muslihat dunia. Lihat QS. al-Fathir ayat 5:

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”

Dunia ini sekedar hiburan, yang pastinya bukan menjadi tujuan hidup.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” QS. al-Ankabut ayat 64.

Nah, amal kebaikan yang tak sepantasnya dihadiahkan kepada Allah tadi seharusnya membuat pikiran Anda khawatir. Mengapakah demikian? Karena modal amalan Anda tak sebanding dengan balasan surga dari Allah; disamping juga Anda khawatir tak ikhlas beramal untuk Allah. Jika mau dibandingkan, sebenarnya kebaikan yang Anda lakukan di dunia tak bisa menyalip nilai nikmat yang Allah berikan untuk hidup Anda.

Inti dari hikmah tadi, ada dua kata kunci yang harus Anda pahami secara benar yaitu raja’ (pengharapan) & khauf (rasa khawatir). Meski kenyataanya, masih ada saja orang yang hendak membandingkan kebaikan Allah dengan kebaikan versi manusia secara tak proporsional.

Antara Raja’ & Khauf sama-sama penting bagi kehidupan muslim. Maka mulailah untuk mengadaptasikan dua hal ini dalam aktivitas harian Anda. Raja’ berguna untuk memotivasi hidup; agar Anda selalu bersemangat dalam beraktivitas, ataupun juga dikala beribadah menghadap kepada-Nya. Sedangkan Khauf berfungsi sebagai rem; agar Anda selalu ingat beribadah; agar Anda tak hidup sombong hanya dengan bermodalkan ‘kesuksesan’. Buatlah hidup Anda begitu berarti, yang punya nilai positif dan termotivasi untuk Allah. Jadikan diri Anda berguna bagi Agama dan Bangsa.

Lagi-lagi daku menuliskan ini rasanya sambil tepok-tepok muka sendiri. Tapi apalah arti “tepok-tepok muka sendiri” kalau akhirnya tak ada perubahan signifikan dalam ibadah saya kelak. Astaghfirullah

Jadikah Hidup Lebih Berwarna

Libur ternyata mempengaruhi mood untuk menulis (alasan) Haha… Tapi memang benar (pembenaran). Apalagi kalau di rumah keadaannya sedang ramai, banyak bocah pun… INI serius alasan. Berarti saya punya 3 hutang menulis sampai hari ini. Untuk itu, kali ini akan saya bayar dengan tulisan (ulang) tentang #NgajiHikam dari akun twitter Pesantren @sidogiri. Akun ini aktif memberikan kajian #NgajiHikam setiap harinya. Nah, karena 2 hari kemarin saya tidak menulis, minimal saya membaca lah ya. Maka, berikut hasil kultwit tentang #NgajiHikam.

Judulnya begini: Jadikan Hidup Lebih Berwarna

“Ketika alur hidup yang menyenangkan sudah tidak membawa ketenangan, ternyata kegalauan malah jadi jalan keluar yang positif.”

Hidup dengan kekayaan yang melimpah, atau hidup serba melarat penuh musibah, dalam perspektif manusia sebenarnya sama saja: relatif. Pola hidup kaya belum tentu menjamin ketenangan hati, sebab harta pasti akan jadi hantu bagi pemiliknya. Kekayaan kadang menjerumuskan. Begitu pula hidup miskin, bukan jadi pemicu kegalauan hati, sebab terlepas dari tanggungjawab harta justru jadi solusi hidup yang paling baik. Tapi tidak bagi Muslim yang mampu menalar hakikat takdir dengan benar. Bagi mereka, segala macam bentuk kehidupan adalah baik. Hidup miskin ataupun kaya, sama-sama punya posisi positif & nilai hikmah yang mendalam di setiap episode. Allah pasti menakdirkan yang terbaik.

Pertanyaanya, mengapa Allah tidak menakdirkan semua Muslim jadi kaya raya saja; agar mereka hidup tentram; agar mereka hanya fokus ibadah? Sebagaimana penjelasan tadi, Anda tidak bisa memvonis hidup kaya sebagai jalan baik, sedang hidup miskin sebagai jalan buruk. Salah kaprah. Sebab jika seumur hidup Anda ditakdirkan kaya, bisa jadi Anda malah melupakan Allah, lantaran sibuk memprosentase harta sendiri. Atau malah Anda akan menantang takdir, mengira bahwa kekayaan Anda itu adalah hasil jerih payah Anda sendiri. Bukan pemberian Allah. Bagi mereka yang tidak bisa bersabar, sepanjang umur hidup dalam kemiskinan juga tidak terlalu memotivasi, sebab akan memicu pesimisme.

Beruntung sekali Allah mengatur hidup ini sesuai dengan siklus kita sendiri: di satu waktu Anda susah, di waktu lain Anda senang. Akal manusia awam mungkin saja tak bisa menalar kebaikan di setiap takdir Allah. Yang jelas, setiap peristiwa pasti ada hikmah baiknya. Musibah, bagi muslim yang cerdas, bisa berarti peringatan: sudah waktunya ia kembali mendekatkan diri pada Allah & memohon ampunan-Nya. Bagi mereka, musibah bisa berarti pukulan keras: ialah saat mereka mulai melupakan Allah. Mengisyaratkan bahwa takdir tidak bisa diterobos. Maka ketika Allah menimpakan musibah, Anda jangan langsung pesimis. Anda harus optimis, seberat apapun problem yang Anda hadapi.

Sebaliknya, senikmat apapun hidup Anda sekarang, jangan buat mata hati Anda kalap lalu buta. Dunia akan menyeret ketenangan hidup Anda. Pasrahkan nasib Anda hanya kepada Allah; harus husnudz-dzan. Biarkan Allah yang menentukan takdir untuk kebaikan masa depan Anda kelak.

Nah, demikian ngaji hikam di sore hari, Ahad kemarin, 21 Juni 2015.

Simple, tapi ngena’ sih kalau menurut saya. Ternyata benar, kaya dan miskin itu bukan ukuran kita bahagia atau tidak. Tapi cara kita menyikapinya-lah yang membuat kita lebih berharga di mata Allah. Kaya dan miskin, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Karena bagi Muslim yang pemahamannya benar, keduanya adalah cobaan/ujian sekaligus solusi dalam kehidupan.

Gojek & Hakikat Rezeki

Go-Jek merupakan salah satu aplikasi android yang menyediakan Ojek di Jakarta. Suatu cara dalam digitalisasi jasa layanan Ojek. Setidaknya ada 3 pilihan jasa yang bisa dimanfaatkan yaitu Instant Courier, Transport & Shopping.  Layanan Gojek ini sangat mudah diakses, karena terintegrasi dengan smartphone dan tarifnya pun relatif murah. Oleh karenanya, saat ini Gojek cukup diminati oleh para pengguna jasa layanan Ojek di Jakarta.

Hari ini, saya melihat ada keluhan dari pelanggan Gojek. Tapi maaf, bukan karena layanan Gojek yang tidak memuaskan, namun karena reaksi para tukang ojek yang tidak tergabung dalam perusahaan Gojek ini. Pasalnya, salah seorang pengguna jasa Gojek ini bercerita bahwa ada sekelompok Tukang Ojek yang menghalangi Karyawan Gojek yang dipesannya untuk menjemput, yang paling tidak mengasyikkan adalah mereka menghalangi Karyawan Gojek itu dengan cara memukul dan lainnya.

Mirisnya hati, mengetahui hal seperti ini. Tapi beginilah potret kehidupan masyarakat kita. Ambil contoh real-nya ya di Jakarta. Jangankan Gojek (yang notabene sama-sama usaha Ojek), bahkan angkutan umum yang mempunyai trayek di daerah rumah saya-pun sudah pernah mengalami hal serupa. Para Tukang Ojek setempat memberlakukan aturan setelah jam 9 malam, angkutan umum tidak boleh lagi beroperasi, selanjutnya adalah jatah Ojek. Pernah suatu ketika, ada supir angkutan umum itu yang melanggar, kemudian ribut dan ramailah suasana. Seperti biasa, kekerasan kerap terjadi. Dan setelah kejadian itu, rasanya tak ada lagi supir angkutan umum yang berani melanggar aturan/kesepakatan tersebut.

Tentunya, dalam hal ini Gojek harus menyadari, bahwa dia menjadi pesaing Tukang Ojek biasa lainnya saat ini. Inilah kenyataan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh Perusahan Gojek. Jika ingin terus hidup dan bertahan lama, mereka harusnya mempunyai win win solution terhadap persoalan ini. Semoga Gojek bisa mengambil langkah yang tepat dan nyata. Karena sebelum mind set Tukang Ojek setempat ini berubah, maka persoalan ini akan selalu muncul.

Maka benar adanya, bagi yang sudah memahami hakikat rezeki. Bahwa rezeki adalah rahasia Allah, tak akan pernah tertukar dan tak akan pernah salah sasaran. Karena Allah sendiri yang sediakan untuk hamba-Nya. Sekuat apapun manusia-manusia di bumi ini menghalangi rezeki yang memang ditujukan untuk kita, rezeki itu akan menjadi milik kita dengan jalan yang Allah pilihkan. Begitupun sebaliknya, sepayah apapun manusia-manusia di bumi ini mengumpulkan/menghimpun rezeki bagi kita, namun jika itu memang bukan ditujukan untuk kita, tak akan pernah kita miliki. Persoalannya sekarang adalah seyakin apa kita kepada Allah Yang Maha Kaya? Sekuat apakah kita berusaha mencari rezeki di bumi Allah yang begitu luasnya? Sedalam apakah kita percayakan Hidup, Mati, Jodoh dan Rezeki kita kepada Allah?

Sepertinya memang, kita harus lebih banyak belajar lagi, lagi, dan lagi…

Bahkan, untuk skala lingkungan-masyarakat, mereka yang sudah pahami tentang hakikat inilah yang berkewajiban untuk memahamkan masyarakat luas, tentang bagaimana kita menyikapi hal seperti tersebut di atas.

Inilah bagian terkecil dari masalah ummat, kita mau ambil bagian mengedukasi atau hanya duduk manis memberi komentar sana-sini?  (teruntuk yang menulis ini).

Bahagiakanlah Hidupmu di Hari Ini!

Jangan mengira bahwa setelah kebaikan itu tidak ada keburukan, Dan jangan mengira bahwa keburukan itu hanyalah pukulan sekejap

Seseorang yang telah mencapai kebahagiaan berkata, “Hari yang indah adalah hari di mana kita menguasai dunia, dan ia tidak menguasai kita. Ia adalah hari dimana kita dapat mengendalikan syahwat dan kesenangan serta kita tidak pernah tunduk kepadanya baik secara terpaksa atau sukarela.”

Diantara hari-hari tersebut ada yang terus-menerus kuingat dan tidak pernah kulupakan. Hari dimana aku dapat mengalahkan nafsuku dan aku mampu keluar dari ujian keraguan terhadap perkara-perkara yang mampu dan tidak mampu aku lalui, maka itulah hari yang indah dan mencapai keindahan.

Keindahan hari tersebut ada pada saat aku ragu untuk memutuskan antara mengerjakan sesuatu yang akan dipuji orang atau sesuatu yang orang tidak tahu, karena itu tidak ada pujian. Namun, kuputuskan membuang segala keinginan terhadap pujian itu. Aku lebih senang dan puas dengan amal yang ku ingat, dimana tidak ada seorang pun yang mengucapkan selamat kepadaku, bahkan tidak seorangpun mendengarnya.

Keindahan hari tersebut adalah dimana aku harus memilih antara kantongku yang penuh dengan lembaran uang, tetapi hati nurani ku kosong dari kemuliaan dan kehormatan. Maka lebih baik kuputuskan untuk bertangan kosong daripada hati nurani ku menjadi hampa.

Hari-hari ini akan terasa indah, dan yang paling indah di dalamnya adalah bagianku yang sangat sedikit. Hanya saja bagian tersebut berupa kesadaran terhadap kemampuan yang telah aku miliki. Dengan demikian ia menjadi sangat banyak, Alhamdulilah.

Pelita: “Sesungguhnya Allah, bila mencintai seseorang, maka Dia akan mengujinya”

Bekal : “Berbahagialah dengan apa yang ada di tangan Anda. Merasa puas dan Ridhalah dengan anugerah Allah untuk Anda. Tinggalkanlah impian-impian yang tidak selaras dengan usaha dan kemampuan Anda”.

dikutip dari buku: Tips menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia by DR. ‘Aidh Bin “Abdullah Al-Qarni, MA (Penulis Buku La Tahzan)

Semoga bermanfaat 🙂

Si Kiri jadi tumpuan

Disebuah perjalanan yang tak begitu panjang, meski sedikit terseok, Dia yakin bahwa dia mampu mencapai tempat yang dia tuju. Ya, perjalanan Dia menuju tempat dimana dia harus bekerja demi bertahan hidup dan lalu kembali ke tempat dimana dia bisa beristirahat untuk melanjutkan hidupnya. Kaki nya tak mampu berjalan dengan sempurna, dikarenakan banyak hal. Dan dalam perjalanan itu, terjadi percakapan antara “mereka” yang terseok itu :

 

 

Si Kanan dan Si Kiri

Si Kiri : “Aduh, bagaimana ini Kanan, yang punya kewajiban untuk menopang kan kamu, sekarang aku yang harus menanggungnya”.

Si Kanan : “Tak puaskah kau ku topang selama bertahun-tahun?, Tak sudikah kau menggantikan kewajibanku untuk sementara waktu?, toh ini pun tak akan lama…”.

Si Kiri : “Iya, tapi sampai kapan aku harus menjalankan kewajibanmu ini?, kita kan sama-sama tahu bahwa kemampuan kita sangatlah berbeda, bagaimana kalau aku tak sanggup lagi menopang tubuh orang ini?.

Si Kanan : “Sudahlah Kiri, kau belum sampai pada akhir saja sudah mengeluh, kau akan tahu nanti saat aku sudah sembuh, dan ku rasa tak akan separah yang kau pikirkan”.

Si kiri terdiam dan sedikit mengiyakan apa yang telah di katakan oleh si Kanan.

Berhari-hari si Kiri telah menggantikan kewajiban si Kanan, sampai  tibalah saatnya untuk si Kanan kembali melaksanakan kewajibannya, menopang beban yang berat. Dan si Kanan memang mampu karena memang mempunyai kekuatan untuk itu, sedangkan si Kiri, kini bebas menggantungkan hidupnya dengan si Kanan dan tak lagi merasakan keletihan yang begitu menyiksa, karena memang tak sesuai dengan kemampuannya, tapi setidaknya si Kiri telah mampu menggantikan tugas si Kanan, meski tak lama namun ia mampu, demi kehidupan satu manusia yang mereka topang, dan itu semua tak hanya kerja keras si Kiri maupun si Kanan. Itu semua pun karena teman-teman mereka yang bekerja sama dengan mereka untuk menggerakkan, memberikan semangat, memulihkan dan berusaha. Si Otak mengerahkan agar si hati tergerak untuk berkata kepada si Dia agar semangat untuk kembali sehat dan bisa berjalan seperti semula sehingga teman si Otak dan si Hati tidak lagi merasakan kesusahan.

Ya, itulah kita seharusnya, mencoba sebelum berkata “Aku tak bisa”, memahami bahwa setiap kita telah diberikan kemampuan masing-masing, bisa Lebih di A dan bisa Kurang di B tapi pada dasarnya, kita punya KELEBIHAN dan itu diberikan secara ADIL oleh Allah SWT. Adil bukan berarti A=10 B=10, tapi sesuai kemampuan dan porsi yang harus kita terima. Karna porsi makan setiap kita pun berbeda-beda. Itulah adil. Dan mengerti akan tanggungjawab , dimana seluruh organ kita bekerja sama dan mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, tapi tetap berusaha dan mempunyai satu tujuan, untuk tetap bertahan hidup, begitu juga dalam berteman, bekerja, keluarga dan Negara.

Ada tambahan?! 🙂