Spirit Hidup untuk Ibadah

Taraaa… daku kembali lagi menulis lis lis.
Yang pasti, daku menuliskan ini dengan modal membaca. Kalo enggak, yaudah daku bingung mau nulis apaan.

Ini adalah pembayaran hutang menulis ke-3 yang deadline-nya memang hari ini. Selain memang belum dapat ide tema yang berbeda, izinkan sekali lagi daku menuliskan ulang hikmah dari #NgajiHikam yang ditwit oleh akun pesantren @sidogiri ya.

Tentang kamu… eh bukan… masa iya #NgajiHikam judulnya gitu.. Hahaha..

Spirit Hidup untuk Ibadah

“Dengan mengingat semua anugerah Allah kepadamu, maka akan langsung muncul pengharapan (raja’) dari hatimu. Dengan melihat pengabdianmu kepada-Nya, maka akan timbul rasa khawatir (khauf) dari dalam dirimu.”

Mengingat anugerah Allah yang tak terhingga, Anda pasti tahu QS. Ibrahim ayat 34 ini:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Alllah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Selama ini nikmat Allah salalu berlimpahan. Kesehatan fisik yang selalu bugar; pasokan ikan atau makanan yang tak pernah ada habisnya. Cadangan oksigen yang terproses otomatis, agar selalu segar saat dihirup; juga mineral bumi yang tak pernah habis meski terus ditambang. Bahkan, jutaan spesies tanaman bisa dikonsumsi, juga dapat diproses menjadi obat terapi penyembuhan. Semuanya adalah nikmat Allah. Seakan semua yang ada di bumi ini tersedia untuk melayani kebutuhan manusia.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. al-Isra’ ayat 70.

Melihat bukti anugerah Allah yang begitu besar tadi, apakah Anda masih merasa tak disayang Allah? Ataukah malah akan mendurhakai-Nya? Tentu saja Anda tak akan seperti itu. Yang ada justru pengharapan: semoga limpahan rahmat Allah itu membawa berkah bagi kehidupan Anda.

Seumpama ada seorang dermawan memberi Anda uang sebesar Rp. 1 Miliar, apakah Anda akan tega menipu dermawan tersebut? Tentu saja tidak!. Fitrah manusia pasti mengarah kepada kebaikan. Sebab seburuk apapun watak manusia, ia pasti punya secuil sisi positif dalam hati dan akalnya.

Selanjutnya adalah melihat batas pengabdian Anda kepada Allah. Sebesar apakah pengorbanan Anda selama ini untuk dipersembahkan kepada Allah?. Kata al-Buthi, sebenarnya Anda tak punya hadiah apapun untuk Allah. Amal shaleh dari perbuatan Anda setiap hari, sangat tidak setimpal. Lima waktu shalat sehari, hanya bisa menebus kewajiban ibadah Anda sebagai umat Rasulullah. Shalat itu untuk Anda, bukan untuk Allah. Nilai ketaatan Anda, juga hanya seumur jagung. Setelah kelihatan buahnya, malah rontok dihantam hasrat duniawi sekuat puting beliung.

Padahal Allah sering memperingatkan Anda tentang tipu muslihat dunia. Lihat QS. al-Fathir ayat 5:

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”

Dunia ini sekedar hiburan, yang pastinya bukan menjadi tujuan hidup.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” QS. al-Ankabut ayat 64.

Nah, amal kebaikan yang tak sepantasnya dihadiahkan kepada Allah tadi seharusnya membuat pikiran Anda khawatir. Mengapakah demikian? Karena modal amalan Anda tak sebanding dengan balasan surga dari Allah; disamping juga Anda khawatir tak ikhlas beramal untuk Allah. Jika mau dibandingkan, sebenarnya kebaikan yang Anda lakukan di dunia tak bisa menyalip nilai nikmat yang Allah berikan untuk hidup Anda.

Inti dari hikmah tadi, ada dua kata kunci yang harus Anda pahami secara benar yaitu raja’ (pengharapan) & khauf (rasa khawatir). Meski kenyataanya, masih ada saja orang yang hendak membandingkan kebaikan Allah dengan kebaikan versi manusia secara tak proporsional.

Antara Raja’ & Khauf sama-sama penting bagi kehidupan muslim. Maka mulailah untuk mengadaptasikan dua hal ini dalam aktivitas harian Anda. Raja’ berguna untuk memotivasi hidup; agar Anda selalu bersemangat dalam beraktivitas, ataupun juga dikala beribadah menghadap kepada-Nya. Sedangkan Khauf berfungsi sebagai rem; agar Anda selalu ingat beribadah; agar Anda tak hidup sombong hanya dengan bermodalkan ‘kesuksesan’. Buatlah hidup Anda begitu berarti, yang punya nilai positif dan termotivasi untuk Allah. Jadikan diri Anda berguna bagi Agama dan Bangsa.

Lagi-lagi daku menuliskan ini rasanya sambil tepok-tepok muka sendiri. Tapi apalah arti “tepok-tepok muka sendiri” kalau akhirnya tak ada perubahan signifikan dalam ibadah saya kelak. Astaghfirullah

Ummul Qur’an

Al-Faatihah berarti Pembukaan dan sekaligus biasa disebut Ummul Qur’an/Ummul Kitab karena surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al-Qur’an, yaitu:

1. Keimanan: Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, di mana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Di antara nikmat itu ialah; nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata “Rabb” dalam kalimat “Rabbul-‘aalamiin tidak hanya berarti “Tuhan” dan “Penguasa”, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhanlah Yang maha Berkuasa di alam ini.

Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikrikan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka di dalam surat Al-Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Yang dimaksud dengan “Yang menguasai hari pembalasan” ialah pada hari itu Allah-lah Yang Berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut pada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahal terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. “Ibadat” yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat catatan ayat 5 surat Al-Faatihah.

2. Hukum-hukum: Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “hidayah” di sini ialah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenail keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.

3. Kisah-kisah: Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Qur’an memuat kisah-kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni’mat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Sedangkan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. Perincian dari yang telah disebutkan di atas teradapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an pada surat-surat yang lain.

Itulah sebabnya, kenapa Al-Faatihah sering disebut sebagai Ummul Qur’an atau induk dari semua isi Al-Qur’an.
Sumber:  Buku Tafsir Al-‘Usryr Al-Akhir