Ikuti Rihlah, Peserta Angkatan 5 Belum Tentu Jadi Alumni SPI?

“Teman-teman harap jangan merasa aman dulu, karena yang sudah ikut rihlah pun belum tentu dinyatakan lulus dan bisa langsung menjadi alumni.” kata Andi salah satu panitia SPI Fatahillah dengan mantapnya. Agaknya kalimat tersebut selalu menghantui para peserta  SPI Angkatan 5 di sepanjang acara Rihlah.

“Selama tugas karya tulis teman-teman masih ada yang bolong-bolong, maka kami belum dapat menyatakan bahwa teman-teman adalah alumni SPI” tambah Fahim selaku Kepala Sekolah SPI Fatahillah dengan wajah serius namun tetap santai dan sedikit senyum. Entah apa maksud dari mimik wajah sang Kepala Sekolah itu, tetap saja membuat para peserta semakin gelisah.
Namun di antara kegelisahan yang menghantui tersebut, peserta sejenak bisa melupakan hal itu pada saat sesi ta’aruf, games dan tukar kado dalam acara Rihlah SPI Fatahillah 5 yang diadakan di Cilember – Bogor pada 18-19 Maret 2017. Peserta begitu lepas dan sangat menikmati hari-hari penuh kebersamaan dengan sesama peserta dan juga panitia.

Rihlah kali ini dihadiri oleh 19 peserta dari 22 peserta yang tersisa di akhir pertemuan ke-20. Artinya, dari 42 peserta awal semester  1, telah berguguran sebanyak 23 peserta lainnya di pertengahan jalan sampai dengan berakhirnya semester 2. Bukan dengan mudahnya para peserta ini mampu bertahan, mereka diwajibkan untuk terus produktif menulis di setiap minggunya, baik tugas reportase maupun tugas karya tulis. Itulah mengapa mereka semua sampai pada tahapan Rihlah SPI yang diadakan untuk menjembatani peserta maupun panitia agar dapat bersantai dan lebih mengakrabkan diri satu sama lain.

Meski nasib para peserta ini masih belum jelas,namun tak urung peserta SPI Fatahillah angkatan 5 yang dinilai paling kompak oleh panitia ini memberikan semacam cinderamata kepada panitia sebagai tanda terima kasih dan cinta dari peserta.“Saya terharu dan tergugu, pastinya akan selalu rindu dengan para peserta SPI 5 ini,” ujar Fahim penuh haru.

Diakhiri dengan pembagian hadiah untuk 5 orang peserta terbaik selama perkuliahan, acara Rihlah ditutup dengan makan siang dan sholat berjamaah, untuk kemudian kembali  menuju Jakarta dan melanjutkan aktivitas masing-masing.

Advertisements

Soal Utang Piutang, Beginilah Allah Mengajarkan

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhan-nya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun dari padanya. Jika orang yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa  maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan diantara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah Memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kami tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhan-nya. Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barangsiapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS. al-Baqarah; 282-283

Dari terjemahan ayat di atas, bisa kita simpulkan tahapan-tahapan yang mengatur tentang bagaimana cara kita bermuamalah dengan sesama manusia. Tapi sebelumnya, agaknya kita harus setuju soal; kita sudah sepatutnya banyak-banyak bersyukur kepada Allah swt, yang bahkan untuk perkara seperti inipun, Allah “mengurusi” kita. Dengan pelajaran yang satu ini saja kita sudah harus banyak-banyak bersyukur, bagaimana jika kita list lagi pelajaran-pelajaran lainnya yang Allah berikan kepada kita? Masyaa Allah… Tak heranlah kita sering mendapat nasihat untuk “sering-seringlah bersyukur!”, “banyak-banyak bersyukur!”, “Jangan lupa bersyukur!”, bahkan perintah bersyukur-pun Allah ajarkan dalam Firman-Nya.

Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,…dst.” (QS. Ibrahim Ayat 7)

Maka orang yang beruntung adalah orang-orang yang bersyukur karena masih mampu mengucap syukur kepada Allah. Karena jika sekejap saja kita lupa bersyukur, kita jadi orang yang merugi. Na’udzubillah. (Begini kutipan nasihat dari Ustadz Bachtiar Nasir).

Baik, kembali kepada soal utang piutang, saya pun baru menyadari bahwa begitu runutnya Allah mengajarkan kepada kita agar tetap berhati-hati dalam bermuamalah. Dalam ayat ini, sudah secara jelas menerangkan apa-apa saja yang perlu kita lakukan jika kita mempunyai urusan utang piutang (atau urusan jual beli lainnya yang menggunakan jangka waktu).

Pilihan yang bisa dilakukan:

  1. Salah seorang dari mereka mencatatkannya dan yang lainnya menjadi saksi atas catatan tersebut
  2. Jika keadaan salah satu dari mereka lemah, maka hendaklah ada yang mewakili, hadirkan 2 saksi, bila tidak ada saksi laki-laki, boleh saksi perempuan, dan pilihlah saksi yang adil.
  3. Jika bermuamalah dalam keadaan diperjalanan, tidak ada yang mencatat, maka boleh dengan memberikan barang jaminan
  4. Jika mereka keduanya saling mempercayai, maka hendaknya yang dipercayai menunaikan amanahnya.

Poin-poin yang dapat kita ambil dari ayat di atas:

  1. Allah telah mengajarkan kita untuk berbuat Adil dalam perkara apapun
  2. Hendaknya kita takut hanya kepada Allah
  3. Tunaikan amanah, janji atau utang yang kita sudah penuhi
  4. Jangan berlaku curang/tidak adil/dzalim
  5. Teliti dalam bermuamalah demi kemaslahatan/keterjagaan harta
  6. Dilarang menolak untuk memberikan saksi apabila sudah diminta menjadi saksi

dan kalau tidak salah masih banyak yang lainnya (lebih lengkap kita baca tafsirnya). Karena saya masih belajar juga, jadi sepertinya saya jadikan PR untuk menggali lebih dalam maksud dari ayat di atas.

Alhamdulillah, meski mungkin belum banyak yang bisa saya rangkum dan simpulkan, kurang lebih, tulisan ini bisa mengingatkan saya pribadi yang lumayan banyak bermuamalah dengan orang lain. Bahkan, banyak perkara muamalah yang saya lewati, alpa dari pencatatan. Dan benar saja, karena tidak adanya pencatatan/penulisan, kemungkinan saya berbuat dzalim kepada orang lain jadi lebih besar. Astagfirullaha waatuubu ilaih.

Oke, sekarang yang bisa dilakukan adalah menuliskannya!

Bismillah 🙂