Karena Allah Menghendakinya

Hari ini, kembali saya diingatkan bahwa begitu besarnya nikmat Iman Islam yang Allah karuniakan kepada saya semenjak saya kecil. Meski saya berislam karena keturunan dari orangtua, tapi kembali saya bersyukur untuk yang kesekian kalinya, Allah masih memberikan hidayahNya untuk saya mengimani Islam. Sampai saya benar-benar mengerti dan meyakini Islam, dan kiini berislam bukan lagi karena orang tua saya Islam, tapi karena Islam adalah agama fitrah yang dengan sadar saya pahami dan saya imani.

Ditengah hiruk-pikuk para pemuda islam yang kini ramai berhijrah, ternyata terselip satu atau dua orang yang Allah goyahkan hatinya untuk melepaskan nikmat iman Islam. Na’udzubillah. Di tengah begitu derasnya arus para pencari kebenaran di luar negeri sana, yang akhirnya menemukan Islam, menemukan arti kehidupan, menemukan alasan-alasan mengapa mereka hidup dan ke manakah mereka setelah mati?, ternyata masih ada sedikit orang yang Allah kehendaki untuk tersesat. Astaghfirullahal’adziim.

“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” ‪(Ibrahim: 4)

Setelah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, tak serta merta kita aman dari ancaman syaithan yang membisikkan kemaksiatan bahkan sampai kepada kesesatan dan lalu murtad dari agama Allah. Allah memberi kesesatan kepada sesiapa yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada sesiapa yang Ia kehendaki pula, dan tidaklah mungkin Allah memberikan kedua hal ini tanpa alasan yang jelas. Hati, sikap dan perilaku kita sehari-hari sangat mempengaruhi. Dengan siapa kita bergaul, bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari adalah indikasi bahwa sebesar apakah diri kita yakin dan percaya akan keberadaan Allah swt, yakin akan kekuasaa-Nya dan yakin akan pertolongan-Nya.

Iman adalah hal yang tak mudah diterka, iman itu selalu naik turun,

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

maka, banyak hal yang harus kita lakukan agar iman ini terus terjaga, tak goyah oleh harta, tak hancur oleh tahta juga wanita. Sedikit dari banyak cara yang bisa kita lakukan adalah dengan cara berkumpul dengan orang-orang sholeh, senantiasa membaca Al-Quran dan berusaha memahami artinya, membaca buku-buku tentang Agama Islam dan berdoa agar terus ditetapkan hati kita dalam Iman Islam dan ALlah matikan dalam keadaan Islam pula.

Salah satu doa yang seringkali dibaca oleh Rasulullah saw,

“Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa dinnika wa ‘alaa tho’athik.”

yang artinya:

“Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati,  tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

Begitulah, memang benar Allah yang menghendaki segala sesuatu, namun diri kita-lah yang paling bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Tersesat kah? atau Kembali pada jalan Allah? Itu memang pilihan, dan setiap pilihan akan mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Semoga Allah istiqomahkan diri ini dan saudara-saudari muslim saya di seluruh penjuru dunia. Semoga Allah teguhkan dan kokohkan Iman Islam kita, hingga syaithan-pun tak mampu menembus kekuatan pertahanan hati kita agar kita tak ikut tersesat bersama dengannya. Baik syaithan yang tidak berwujud (jin) maupun syaithan yang berwujud (manusia). Aamiin.

Buah dari Iman adalah Ukhuwah

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Berbagi kisah yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman semua. Jika sudah pernah membacanya, rasanya tak ada salah untuk membacanya lagi, karena ini adalah kisah di mana buah-buah keimanan kita diperlihatkan.

Umar Bin Khathtab pernah berkata: Aku tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini, kecuali karena tiga hal:
1. Keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya.
2. Repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail.
3. Dan indahnya bertemu dengan sahabat-sahabat seiman.

Mungkin kisah berikut ini mampu mengawal perasaan kita. Betapa ukhuwah itu merupakan penanda iman kita.
Semenjak Rasulullah SAW wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: ‘Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah SAW saja. Rasulullah SAW telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi’.

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah SAW terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah. Dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah SAW hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: ‘Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini? Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW.

Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah SAW. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah SAW, pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah SAW tersebut. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, ‘Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.’

Ketika itu, Umar bin Khathtab yang telah menjadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja. Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah SAW, Umar bin Khathtab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah SAW diantara mereka. Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah SAW wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Bayangkan kita seolah sedang hidup bersama di tengah-tengah mereka. Hamba-hamba Allah yang selalu terhubung dengan langit dan merasakan “indahnya ukhuwah dalam kebenaran dan kemuliaan.” Maka jika masih ada batas dalam perjalanan ukhuwah kita, bisa dipastikan kita telah gagal menggenggam makna ukhuwah yang sebenarnya.

Ada sebuah nasihat dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah:

Ukhuwah itu hanya sekedar buah dari keimanan kita kepada Allah.

Jadi jika ukhuwahnya bermasalah mari kita evaluasi keimanan kita kepada-Nya. Efek dari hubungan baik kita dengan yang ada di langit secara langsung berefek pada baiknya keterhubungan kita dengan bumi.

Dalam sebuah kutipan ada yang mengingatkan kepada kita:

Sebesar cintamu pada Allah, sebesar itu pula cinta orang lain kepadamu. Sebesar ketakutanmu akan murka Allah, sebesar itu pula keseganan orang lain terhadapmu. Sebesar kesibukanmu pada Allah, sebesar itu pulaorang lain sibuk untukmu. (Kutipan Al-Mughirah)

Begitu juga dalam Ayat Al-Qur’an:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.“ (QS. Al-Hujurat: 10)

Hati yang beriman adalah hati yang indah, disebabkan dalam hati mereka selalu tersambung dengan Allah dan selalu meneladani Rasulullah SAW.

Hati yang indah adalah hati yang selalu mengulurkan rasa cinta kepada sesama.

Hati mereka selalu tunduk pada Allah dan Rasulullah SAW, sehingga mudah tunduk pada ukhuwah, meski dengan berbagai perbedaan yang ada.

Dan rendahkanlah dirimu bila bersama orang mukmin. Kita diminta berendah hati bila kita mau meneladani Rasulullah SAW.

Karena ketika kita merendah kita tak akan mudah terjatuh. Dan bila sampai terjatuh tak begitu terasa sakit.

Maka -mungkin secara ekstrim bisa dikatakan-:

Tak perlu menjaga ukhuwah, karena ukhuwah hanya akibat (buah) dari iman.

Wallahu a’lam bishawab…

Semoga ukhuwah kita yang terjalin diakibatkan oleh iman yang ada di dalam hati-hati kita,
Aamin….

Salam Ukhuwah Fillah

Diambil dari buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” Karya Ust. Salim A Fillah