Menghidupkan Tradisi Keilmuan, Kunci Kembalinya Kejayaan Peradaban Islam

IMG_8042

Bertempat di Ruang 030 Universitas Al-Azhar Indonesia, Sabtu 7 November 2015 pertemuan ke-6 Perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam yang diselenggarakan atas kerjasama YISC (Youth Islamic Study Club) Al- Azhar berjalan lancar. Setelah sebelumnya membahas materi tentang Konsep Manusia dan Kebahagiaan, materi The Golden Age of Islam adalah materi penyempurna kelas singkat (short course) dari Sekolah Pemikiran Islam ini.

“Saat Eropa sedang mengalami The Dark Age, justru Islam sedang mengalami The Golden Age”, tukas Akmal Sjafril, M.Pdi di pertengahan pembahasan materi. Akmal juga mengungkapkan bahwa Eropa semakin tercerahkan peradabannya ketika masyarakatnya meninggalkan gereja, meruntuhkan hegemoni gereja pada saat itu, dan itulah penyebab awalnya muncul sekularisasi di Eropa.

“Berbeda dengan Eropa, peradaban Islam justru cemerlang saat umat Islam mempelajari dan mengembangkan tradisi ilmu Islam”, Akmal menambahkan. Sebagai pelengkap, ia juga mengenalkan kepada peserta beberapa kontrobusi umat Islam terdahulu terhadap peradaban Islam dan juga peradaban dunia di berbagai bidang.

Dihadiri oleh 40 peserta yang tersisa dari 84 peserta di awal perkuliahan yang tersisih karena seleksi yang begitu ketat, atmosfer keingintahuan dari peserta begitu terasa.

Adiadwan, salah satu peserta bertanya dalam sesi terakhir, “Bagaimana caranya kita yang hidup di masa sekarang ini bias mengembalikan lagi peradaban Islam agar kembali berjaya?”.  Secara singkat, Akmal memberikan jawaban yang sederhana, “Islam Berjaya karena menghidupkan tradisi Ilmu, maka mulailah menghidupkan tradisi ilmu dalam ruang lingkup terkecil yaitu keluarga kita, hidupkan tradisi itu dalam keluarga, jika itu dilakukan oleh setiap keluarga muslim, maka akan berdampak pada level di atasnya dan seterusnya sampai Negara. Meski mungkin hasilnya tidak kita nikmati sekarang, semoga terwujud di masa kehidupan anak-cucu kita nanti.”

Dengan berakhirnya jawaban dari Akmal, maka artinya perkuliahan COSIL (Class for Study Islam & Liberalism) YISC dan SPI Angkatan 3 resmi ditutup. Namun, tidak begitu dengan tugas-tugas yang biasa diberikan untuk peserta, peserta masih diwajibkan untuk mengumpulkan tugas seperti biasa sampai pada materi ke-12 tersebut.

Gelar Talkshow dan Gathering, ITJ Jakarta Aktif Kembali

 

IMG_9061-edit

Ahad siang, 14 September 2014, bertempat di Serambi Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), pengurus #IndonesiaTanpaJIL Chapter Jakarta bekerjasama dengan Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa (RISKA) menggelar Talkshow & Gathering yang bertajuk “ITJ Jakarta Re-Born, Satukan Ukhuwah Hadapi Serangan Liberal”.

Setelah sebelumnya diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, acara ini dimulai tepat pukul 12.45. “Dengan ini, ITJ Jakarta resmi diaktifkan kembali”, ucap Ade Candra – Koordinator Pusat #IndonesiaTanpaJIL, yang turut memberikan sambutan. Sebelumnya Koordinator Chapter Jakarta, Wahyu Fitrianto juga memberi sambutan dan mengajak para peserta yang hadir untuk bergabung dan mendukung kegiatan-kegiatan ITJ Jakarta selanjutnya. Sebelum masuk ke acara inti, pembawa acara mengarahkan peserta untuk berkenalan satu sama lain agar tercipta keakraban antara troops ITJ Jakarta yang hadir siang itu.

Acara inti Talkshow &Gathering ITJ Jakarta Reborn ini menghadirkan 3 narasumber. Ustadz Yusuf Shandy, Lc salah satu pendiri Kaunee Center (Lembaga Dakwah Pembelajaran Al-Quran), Kang Hafidz Ary Nurhadi, selebtwit yang aktif berdakwah di sosial media terutama di dunia twitter, dan terakhir adalah Saudara Rio, Ketua Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) salah satu organisasi dakwah yang paling eksis di bilangan Jakarta. Dimoderatori oleh Wahyu, talkshow berjalan tenang dan lancar. Wahyu memberikan pertanyaan-pertanyaan berbobot yang dijawab oleh 3 narasumber dengan jelas dan padat. Peserta pun tak hilang semangat, terutama saat Hafidz Ary memberikan pertanyaan-pertanyaan singkat tentang cara berpikir para peserta. Tak cukup dengan duduk, Hafidz Ary pun sampai meminta izin kepada Yusuf Shandy dan Rio untuk berdiri untuk mengekspresikan semangatnya dalam menjelaskan jawaban-jawaban dari pertanyaan moderator. “Sudahlah, pemuda tinggalkan update status-status galau, status-status sepele yang gak penting, pemuda harus semangat, bikin status yang membuat JIL gentar, ‘Saya Islam dan saya harus lawan JIL!’ Kan keren tuh!”, salah satu pesan Hafidz Ary yang membangkitkan semangat peserta sore itu.

Dalam kesempatan lain, Yusuf Shandy pun memberikan pesan dan testimonial untuk pengurus ITJ Jakarta “Jakarta merupakan pusat, pusat kemaksiatan dan juga pusat gerakan-gerakan dakwah, untuk itu hadirnya ITJ Jakarta diharapkan mampu membendung pemikiran-pemikiran JIL yang berkembang pesat di Jakarta, bekali diri dengan Ilmu dan Akhlak, semoga kedepannya ITJ Jakarta menjadi contoh bagaimana Islam yang sesungguhnya”.

Dihadiri oleh lebih dari 50 peserta, acara Talkshow & Gathering ITJ Jakarta Reborn ini juga memberikan doorprize untuk salah satu penanya terbaik. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian cinderamata untuk para narasumber yang diwakilkan oleh Hafidz Ary sebagai representasi #IndonesiaTanpaJIL dan ditutup dengan doa lalu foto bersama untuk dokumentasi kegiatan ITJ Jakarta. (AG/ITJ)

IMG_9120-edit-vert

 

Note: Bagi teman-teman yang belum tahu dan ingin tahu apa itu #IndonesiaTanpaJIL atau yg biasa disebut ITJ, boleh baca tulisan saya di sini 🙂

 

#IndonesiaTanpaJIL ??! Why NOT???

Assalamu’alaikum warahamatullah wabarakatuh

Semangat Pagi
Sebelum masuk ke pembahasan, gw bikin pendahuluan dulu ya *efek setelah bikin TA*.
Dear blog, maaf baru bisa bikin postingan lagi di penghujung tahun 2012 ini. Setelah ini
gw bakal berusaha untuk bikin postingan yang lebih banyak dan lebih bermanfaat tentunya.
Btw, makasih untuk do’a temen-temen semua, Alhamdulillah perkuliahan gw selesai dan sedang nunggu wisuda bulan depan *ketauan dibikinnya akhir bulan november* :D.

Oke, sekian pendahuluan, sekarang mari kita lakukan.

Kenapa harus #IndonesiaTanpaJIL? inilah pertanyaan yang sering muncul. Tak jarang juga yang
berpandangan bahwa #IndonesiaTanpaJIL ini hanya kumpulan muslim yang menebar kebencian, kumpulan muslim yang megadu-domba, kumpulan kelompok yang bisa bikin ummat islam terpecah-belah.

Eitsss… jangan panas dulu, kebetulan udara disini *saat nulis ini* sedang mendung akan hujan, jadi stay cool!

Sebelum menjawab macam-macam pandangan di atas, enaknya kita bahas dulu apa itu JIL, karena mungkin banyak juga teman-teman yang belum tahu dan juga, ini ada hubungannya dengan sanggahan atas pandangan-pandangan miring yang saya sebutkan di atas.

JIL? Apaan sih itu?
JIL kependekan dari Jaringan Islam Liberal.

Islam Liberal? Emang ada Islam Liberal? Islam ya Islam aja, kenapa harus pakek embel-embel Liberal?
JIL ini ada penggiat penyebaran paham SEPILIS. SEPILIs adalah kependekan dari Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme.

FYI, Paham SEPILIS ini sudah diharamkan oleh MUI sejak tahun 2005.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.

Menolak adanya pembatasan dari agama?
Bisakah kita mengambil kesimpulan atas sikap penolakan #mereka? Lalu apa arti sebenarnya dari Islam Liberal?
Mengaku beragama Islam namun menolak adanya pembatasan dari Islam? kalau gw pribadi (semoga gak salah) menganalogikannya seperti ini >> 1 – 1=0.

Agama sendiri berarti A= Tidak, Gama= Kacau, yang kemudian kalau kita sambung artinya menjadi “Tidak Kacau”. Bagaimana caranya biar gak kacau? dibuatlah sistem dan peraturan dan yang bikin adalah Allah. Kemudian ada sekelompok orang yang menolak adanya pembatasan atau peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh Allah tersebut. Bisa disimpulkan, bagaimana songongnya sekelompok orang tersebut? Ibarat seorang anak yang gak mau nurut sama orangtuanya, disebut apa? Durhaka. Kalo membangkangnya ke Allah, disebut apa? (silakan jawab sendiri).

Menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya= Taqwa (tunduk, taat). Lawan dari tunduk/taat adalah membangkang, tidak mau dibatasi, menjalankan larangan-Nya, menjauhi perintah-Nya. Apa gak terbalik nih pemikirannya? Masih bisa diterima akal sehatkah?. Mari tanyakan lagi kepada diri kita masing-masing dan tanyakan pada hati.

Berat banget gak sih ini bahasan gw? Hehehe, gak juga sih ya. Kalau mau tahu, banyak materi yang lebih berat dan sangat berat daripada ini, ini masih mending pake bahasa Indonesia, ada yang pakek bahasa Inggris ditambah dengan istilah-istilah yang… ah sudahlah… semoga kita punya kesempatan untuk mempelajarinya yak, kalo gak, yaaa kita dibohongin terus tuh sama yang “terlihat” pintar :D.

Kenapa harus #IndonesiaTanpaJIL ?
Continue reading