Ikuti Rihlah, Peserta Angkatan 5 Belum Tentu Jadi Alumni SPI?

“Teman-teman harap jangan merasa aman dulu, karena yang sudah ikut rihlah pun belum tentu dinyatakan lulus dan bisa langsung menjadi alumni.” kata Andi salah satu panitia SPI Fatahillah dengan mantapnya. Agaknya kalimat tersebut selalu menghantui para peserta  SPI Angkatan 5 di sepanjang acara Rihlah.

“Selama tugas karya tulis teman-teman masih ada yang bolong-bolong, maka kami belum dapat menyatakan bahwa teman-teman adalah alumni SPI” tambah Fahim selaku Kepala Sekolah SPI Fatahillah dengan wajah serius namun tetap santai dan sedikit senyum. Entah apa maksud dari mimik wajah sang Kepala Sekolah itu, tetap saja membuat para peserta semakin gelisah.
Namun di antara kegelisahan yang menghantui tersebut, peserta sejenak bisa melupakan hal itu pada saat sesi ta’aruf, games dan tukar kado dalam acara Rihlah SPI Fatahillah 5 yang diadakan di Cilember – Bogor pada 18-19 Maret 2017. Peserta begitu lepas dan sangat menikmati hari-hari penuh kebersamaan dengan sesama peserta dan juga panitia.

Rihlah kali ini dihadiri oleh 19 peserta dari 22 peserta yang tersisa di akhir pertemuan ke-20. Artinya, dari 42 peserta awal semester  1, telah berguguran sebanyak 23 peserta lainnya di pertengahan jalan sampai dengan berakhirnya semester 2. Bukan dengan mudahnya para peserta ini mampu bertahan, mereka diwajibkan untuk terus produktif menulis di setiap minggunya, baik tugas reportase maupun tugas karya tulis. Itulah mengapa mereka semua sampai pada tahapan Rihlah SPI yang diadakan untuk menjembatani peserta maupun panitia agar dapat bersantai dan lebih mengakrabkan diri satu sama lain.

Meski nasib para peserta ini masih belum jelas,namun tak urung peserta SPI Fatahillah angkatan 5 yang dinilai paling kompak oleh panitia ini memberikan semacam cinderamata kepada panitia sebagai tanda terima kasih dan cinta dari peserta.“Saya terharu dan tergugu, pastinya akan selalu rindu dengan para peserta SPI 5 ini,” ujar Fahim penuh haru.

Diakhiri dengan pembagian hadiah untuk 5 orang peserta terbaik selama perkuliahan, acara Rihlah ditutup dengan makan siang dan sholat berjamaah, untuk kemudian kembali  menuju Jakarta dan melanjutkan aktivitas masing-masing.

Soal Utang Piutang, Beginilah Allah Mengajarkan

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhan-nya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun dari padanya. Jika orang yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa  maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan diantara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah Memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kami tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhan-nya. Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barangsiapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS. al-Baqarah; 282-283

Dari terjemahan ayat di atas, bisa kita simpulkan tahapan-tahapan yang mengatur tentang bagaimana cara kita bermuamalah dengan sesama manusia. Tapi sebelumnya, agaknya kita harus setuju soal; kita sudah sepatutnya banyak-banyak bersyukur kepada Allah swt, yang bahkan untuk perkara seperti inipun, Allah “mengurusi” kita. Dengan pelajaran yang satu ini saja kita sudah harus banyak-banyak bersyukur, bagaimana jika kita list lagi pelajaran-pelajaran lainnya yang Allah berikan kepada kita? Masyaa Allah… Tak heranlah kita sering mendapat nasihat untuk “sering-seringlah bersyukur!”, “banyak-banyak bersyukur!”, “Jangan lupa bersyukur!”, bahkan perintah bersyukur-pun Allah ajarkan dalam Firman-Nya.

Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,…dst.” (QS. Ibrahim Ayat 7)

Maka orang yang beruntung adalah orang-orang yang bersyukur karena masih mampu mengucap syukur kepada Allah. Karena jika sekejap saja kita lupa bersyukur, kita jadi orang yang merugi. Na’udzubillah. (Begini kutipan nasihat dari Ustadz Bachtiar Nasir).

Baik, kembali kepada soal utang piutang, saya pun baru menyadari bahwa begitu runutnya Allah mengajarkan kepada kita agar tetap berhati-hati dalam bermuamalah. Dalam ayat ini, sudah secara jelas menerangkan apa-apa saja yang perlu kita lakukan jika kita mempunyai urusan utang piutang (atau urusan jual beli lainnya yang menggunakan jangka waktu).

Pilihan yang bisa dilakukan:

  1. Salah seorang dari mereka mencatatkannya dan yang lainnya menjadi saksi atas catatan tersebut
  2. Jika keadaan salah satu dari mereka lemah, maka hendaklah ada yang mewakili, hadirkan 2 saksi, bila tidak ada saksi laki-laki, boleh saksi perempuan, dan pilihlah saksi yang adil.
  3. Jika bermuamalah dalam keadaan diperjalanan, tidak ada yang mencatat, maka boleh dengan memberikan barang jaminan
  4. Jika mereka keduanya saling mempercayai, maka hendaknya yang dipercayai menunaikan amanahnya.

Poin-poin yang dapat kita ambil dari ayat di atas:

  1. Allah telah mengajarkan kita untuk berbuat Adil dalam perkara apapun
  2. Hendaknya kita takut hanya kepada Allah
  3. Tunaikan amanah, janji atau utang yang kita sudah penuhi
  4. Jangan berlaku curang/tidak adil/dzalim
  5. Teliti dalam bermuamalah demi kemaslahatan/keterjagaan harta
  6. Dilarang menolak untuk memberikan saksi apabila sudah diminta menjadi saksi

dan kalau tidak salah masih banyak yang lainnya (lebih lengkap kita baca tafsirnya). Karena saya masih belajar juga, jadi sepertinya saya jadikan PR untuk menggali lebih dalam maksud dari ayat di atas.

Alhamdulillah, meski mungkin belum banyak yang bisa saya rangkum dan simpulkan, kurang lebih, tulisan ini bisa mengingatkan saya pribadi yang lumayan banyak bermuamalah dengan orang lain. Bahkan, banyak perkara muamalah yang saya lewati, alpa dari pencatatan. Dan benar saja, karena tidak adanya pencatatan/penulisan, kemungkinan saya berbuat dzalim kepada orang lain jadi lebih besar. Astagfirullaha waatuubu ilaih.

Oke, sekarang yang bisa dilakukan adalah menuliskannya!

Bismillah 🙂

Menghidupkan Tradisi Keilmuan, Kunci Kembalinya Kejayaan Peradaban Islam

IMG_8042

Bertempat di Ruang 030 Universitas Al-Azhar Indonesia, Sabtu 7 November 2015 pertemuan ke-6 Perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam yang diselenggarakan atas kerjasama YISC (Youth Islamic Study Club) Al- Azhar berjalan lancar. Setelah sebelumnya membahas materi tentang Konsep Manusia dan Kebahagiaan, materi The Golden Age of Islam adalah materi penyempurna kelas singkat (short course) dari Sekolah Pemikiran Islam ini.

“Saat Eropa sedang mengalami The Dark Age, justru Islam sedang mengalami The Golden Age”, tukas Akmal Sjafril, M.Pdi di pertengahan pembahasan materi. Akmal juga mengungkapkan bahwa Eropa semakin tercerahkan peradabannya ketika masyarakatnya meninggalkan gereja, meruntuhkan hegemoni gereja pada saat itu, dan itulah penyebab awalnya muncul sekularisasi di Eropa.

“Berbeda dengan Eropa, peradaban Islam justru cemerlang saat umat Islam mempelajari dan mengembangkan tradisi ilmu Islam”, Akmal menambahkan. Sebagai pelengkap, ia juga mengenalkan kepada peserta beberapa kontrobusi umat Islam terdahulu terhadap peradaban Islam dan juga peradaban dunia di berbagai bidang.

Dihadiri oleh 40 peserta yang tersisa dari 84 peserta di awal perkuliahan yang tersisih karena seleksi yang begitu ketat, atmosfer keingintahuan dari peserta begitu terasa.

Adiadwan, salah satu peserta bertanya dalam sesi terakhir, “Bagaimana caranya kita yang hidup di masa sekarang ini bias mengembalikan lagi peradaban Islam agar kembali berjaya?”.  Secara singkat, Akmal memberikan jawaban yang sederhana, “Islam Berjaya karena menghidupkan tradisi Ilmu, maka mulailah menghidupkan tradisi ilmu dalam ruang lingkup terkecil yaitu keluarga kita, hidupkan tradisi itu dalam keluarga, jika itu dilakukan oleh setiap keluarga muslim, maka akan berdampak pada level di atasnya dan seterusnya sampai Negara. Meski mungkin hasilnya tidak kita nikmati sekarang, semoga terwujud di masa kehidupan anak-cucu kita nanti.”

Dengan berakhirnya jawaban dari Akmal, maka artinya perkuliahan COSIL (Class for Study Islam & Liberalism) YISC dan SPI Angkatan 3 resmi ditutup. Namun, tidak begitu dengan tugas-tugas yang biasa diberikan untuk peserta, peserta masih diwajibkan untuk mengumpulkan tugas seperti biasa sampai pada materi ke-12 tersebut.

Agar Tak Bernasib Seperti Lilin

Bismillah

Assalamu’alaikum wr wb…

Haloo… ini hari ke 14 di bulan Juli, itu tandanya sudah hampir setengah bulan saya melewati hari-hari tanpa menyetorkan tulisan untuk blog ini. Sesekali hanya menulis singkat di status instagram disertai gambar. Ohiya, alasannya kenapa saya gak posting tulisan selama setengah bulan ini, karena kejar-kejaran sama hari libur. Jadi gradak-gruduk membereskan pekerjaan sebelum libur lebaran. Meski pada akhirnya, masih ada beberapa pekerjaan yang tetap belum beres statusnya. Hehe…

Temans!
Saya lanjutkan postingan kali ini dengan pelajaran #NgajiHikam yak?! (Iya, Niel. Boleh…)
Oke!
#NgajiHikam bab – 158 dengan tema “Agar Tidak Bernasib Seperti Lilin”
“Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah. Anggap keberadaan mereka tak mempengaruhimu, fokuslah hanya pada Allah.”

Pada hikmah ini, al-Buthi ingin berbincang seputar sosok manusia panutan ideal; yang hatinya murni hanya menghamba kepada Allah. Yang kita tahu, bila seorang telah mendapat tempat di hati masyarakat, ia akan merasa bangga: karena bisa berbagi manfaat pada orang lain. Cara berpikir seperti ini memang benar, tapi harus ada klarifikasi terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi nantinya akan bernasib seperti lilin.

Berbuat baik dengan cara menolong sesama Muslim yang membutuhkan, adalah kewajiban bersama. Setiap muslim harus punya prinsip baik ini. Mengarahkan orang awam ke jalan yang benar menurut agama adalah bentuk perilaku positif. Pendakwah di jalan Allah pasti punya mindset ini. Tapi ingat, tujuan utama haruslah dilatarbelakangi ajuran agama. Maksudnya, kerelaan berkorban adalah demi menjalankan perintah Islam. Tak ada intervensi nafsu, apalagi paksaan orang lain. Niat menolong murni karena Allah. Bukan lantaran ingin populer di tengah masyarakat. Yang mengherankan, banyak kalangan Muslim yang tidak tahu tujuan baik agama Islam. Mereka lebih senang yang ada timbal baliknya. Selain balasan surga, mereka juga ingin dibanggakan orang (Astaghfirullah). Sebagian ingin namanya populer di kalangan masyarakat awam agar dihormati.

Nah, saat lengah seperti inilah berbagai sifat negatif bisa menyerang hati. Diantaranya perasaan pamer (riya’), juga sombong (kibr). Muslim yang demikian bisa bernasib seperti lilin: banyak orang beroleh manfaat darinya, tapi ia sendiri terbakar habis ditelan api. Bisa jadi, jerih payah dan pengorbanan hartanya selama ini  tak bernilai pahala sama sekali. Pahalanya hangus dilalap kobaran riya’ & kibr. Secara keduniawian, bisa saja ia berhasil populer. Tapi secara ukhrawi, sebenarnya ia gagal. Ia miskin, tidak punya bekal pahala.

Lalu bagaimana solusi agar bisa lepas dari perasaan ingin diperhatikan orang? Jawabannya tertera di awal hikmah Ibnu Athaillah tadi. “Kesampingkan perhatian manusia, alihkan pikiranmu pada Allah, anggap keberadaan mereka tidak mempengaruhimu, fokuslah hanya kepada Allah”. Dengan menganggap hanya Allah saja yang ada, maka perhatian kita bisa lebih fokus. Tujuan hidup kita hanya satu, yaitu menghamba kepada Allah. Bila mindset penghambaan ini berhasil ditanamkan dalam hati & pikiran, yang muncul pastilah perilaku positif “li i’lai-kalimatillah”.

Pembahasan ini merupakan catatan yang cukup penting diketahui dan dipahami oleh setiap muslim yang pada hakikatnya bertugas untuk menjadi da’i di dunia ini. Atau minimal, sangat penting dipahami oleh muslim yang memang sangat concern  di bidang dakwah.

Oleh karena satu per satu dari kita ini adalah pengemban/ penerus tugas dakwah Rasulullah SAW, maka jadikanlah catatan ini sebagai pengingat diri dan menjadi dasar dalam hidup kita, bahwa semangat dalam berdakwah ialah didasari ikhlas hanya karena Allah. Tak untuk disanjung manusia, tak untuk dipuja dan dimanja-manja fasilitas yang ada.

Selamat menjadi da’i yang fokus bertujuan kepada Allah.

Semoga kita termasuk diantara yang diharapkan baik oleh Ibnu Athaillah.

Semoga kita tak menjadi seperti lilin yang mungkin bermanfaat untuk orang banyak, namun merugi karena diri habis terbakar oleh api sendiri.

Wallahu’alam

Wassalam…

Duhai…

Duhai engkau yang berjalan di atas kebenaran

Begitu banyak di luar sana yang sedang mencari-cari di manakah kebenaran itu berada

Begitu banyak di luar sana yang berusaha menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya

Bahkan mereka berjalan sampai begitu jauhnya,

demi mencari tahu darimana kah dirinya berasal,

lalu akan kemanakah dirinya setelah bumi ini benar-benar hancur.

 

Duhai engkau yang menopang amanah risalah

Di setiap diri-diri ini, tertetapkan bahwa diri adalah penerus dakwah

Di setiap jiwa-jiwa ini, tertugaskan untuk memberi petunjuk kepada kebenaran

Di setiap hati-hati ini, terwajibkan agar memberikan nasihat dalam kebaikan

Baik kepada mereka yang belum mengetahui,

pun bagi mereka yang sedang tersesat jalannya,

kemudian itulah nilai diri yang wajib dipertahankan.

 

Duhai jiwa-jiwa yang rela berlelah-lelah

Bukan karena imbalan uang

Bukan karena rayuan jabatan

Melainkan karena cintanya kepada pemilik alam semesta sekalian

Karena rindunya menyongsong kemenangan Islam

Karena inginnya bertemu dengan kekasih Rabb semesta alam

Bersabarlah

Bertahanlah

Berlapang-dada-lah

Bersyukurlah

Allah masih tancapkan hatimu pada tali-tali agama ini.

Semoga menjadi hujjah buatmu di akhirat nanti.

Karena Allah Menghendakinya

Hari ini, kembali saya diingatkan bahwa begitu besarnya nikmat Iman Islam yang Allah karuniakan kepada saya semenjak saya kecil. Meski saya berislam karena keturunan dari orangtua, tapi kembali saya bersyukur untuk yang kesekian kalinya, Allah masih memberikan hidayahNya untuk saya mengimani Islam. Sampai saya benar-benar mengerti dan meyakini Islam, dan kiini berislam bukan lagi karena orang tua saya Islam, tapi karena Islam adalah agama fitrah yang dengan sadar saya pahami dan saya imani.

Ditengah hiruk-pikuk para pemuda islam yang kini ramai berhijrah, ternyata terselip satu atau dua orang yang Allah goyahkan hatinya untuk melepaskan nikmat iman Islam. Na’udzubillah. Di tengah begitu derasnya arus para pencari kebenaran di luar negeri sana, yang akhirnya menemukan Islam, menemukan arti kehidupan, menemukan alasan-alasan mengapa mereka hidup dan ke manakah mereka setelah mati?, ternyata masih ada sedikit orang yang Allah kehendaki untuk tersesat. Astaghfirullahal’adziim.

“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” ‪(Ibrahim: 4)

Setelah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, tak serta merta kita aman dari ancaman syaithan yang membisikkan kemaksiatan bahkan sampai kepada kesesatan dan lalu murtad dari agama Allah. Allah memberi kesesatan kepada sesiapa yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada sesiapa yang Ia kehendaki pula, dan tidaklah mungkin Allah memberikan kedua hal ini tanpa alasan yang jelas. Hati, sikap dan perilaku kita sehari-hari sangat mempengaruhi. Dengan siapa kita bergaul, bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari adalah indikasi bahwa sebesar apakah diri kita yakin dan percaya akan keberadaan Allah swt, yakin akan kekuasaa-Nya dan yakin akan pertolongan-Nya.

Iman adalah hal yang tak mudah diterka, iman itu selalu naik turun,

”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

maka, banyak hal yang harus kita lakukan agar iman ini terus terjaga, tak goyah oleh harta, tak hancur oleh tahta juga wanita. Sedikit dari banyak cara yang bisa kita lakukan adalah dengan cara berkumpul dengan orang-orang sholeh, senantiasa membaca Al-Quran dan berusaha memahami artinya, membaca buku-buku tentang Agama Islam dan berdoa agar terus ditetapkan hati kita dalam Iman Islam dan ALlah matikan dalam keadaan Islam pula.

Salah satu doa yang seringkali dibaca oleh Rasulullah saw,

“Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa dinnika wa ‘alaa tho’athik.”

yang artinya:

“Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati,  tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

Begitulah, memang benar Allah yang menghendaki segala sesuatu, namun diri kita-lah yang paling bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Tersesat kah? atau Kembali pada jalan Allah? Itu memang pilihan, dan setiap pilihan akan mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Semoga Allah istiqomahkan diri ini dan saudara-saudari muslim saya di seluruh penjuru dunia. Semoga Allah teguhkan dan kokohkan Iman Islam kita, hingga syaithan-pun tak mampu menembus kekuatan pertahanan hati kita agar kita tak ikut tersesat bersama dengannya. Baik syaithan yang tidak berwujud (jin) maupun syaithan yang berwujud (manusia). Aamiin.

Kita adalah Mereka; dalam Novel Rindu

Kita adalah Gurutta Ahmad Karaeng dengan segala kegundahan yang menyelinap, meyakinkan diri, bertanya lagi, apakah diri sebenar-benar seperti apa yang telah terlanjur kita tuliskan dan kita nasihatkan?

Kita adalah Daeng Andipati dengan segala kebencian kepada orang yang seharusnya paling dicintai, terpaksa membenci karena kenyataan yang tak sesuai dengan harapan yang terlalu tinggi. Beraharap air pada teko yang tak berisi.

Kita adalah Bonda Upe dengan segala ketakutan masa lalu yang terlalu perih, merasa hina dina bahkan saat tiada satupun manusia mencerca secara terbuka, dalam kesendirian pun terpasung rasa tak berguna, tiada berani menatap pasti meski mungkin, beberapa orang tak terlalu mengerti dengan pahit-pahit di hati. Mungkin juga tak ingin peduli, kecuali diri-diri yang memang terpatri.

Kita adalah Mbah Kakung dengan segala cita-cita menapaki tanah suci yang dimimpi-mimpi semenjak menikah dengan Mbah Putri, tersebut dalam janji suci mengarungi kehidupan dengan hati dan kasih. Kemudian, mengurung diri, enggan sekali menerima kenyataan bahwa sang istri, Mbah Putri yang dikasihi sudah tak lagi di sisi, bahkan sebelum kapal Blitar Holland menjajaki Tanah Suci.

Kita adalah Ambo Uleng dengan segala kepedihan hati, mengubur hasrat untuk memiliki, menenggelamkan benih-benih kasih di dalam hati, mengutuk hari dengan melukai diri. Begitu kuatnya keinginan untuk menjauh pergi dari kenyataan-kenyataan yang tak kuasa untuk dihadapi, sendiri.

Kita adalah Anna; selalu ingin tahu dan tak puas dengan jawaban yang hanya satu kali.

Kita adalah Elsa; selalu mempunyai cara lain untuk mengekspresikan kasih sayang kepada saudari.

Kita adalah Kapten Philips; menghargai dan mencintai sesama, tanpa pandang agama, suku dan juga bangsa dan tentunya tanpa memaksakan orang lain untuk mencampur adukkan ideologi.

Kita mungkin juga Chef Lars, mungkin juga si Boatswain sang kelasi, atau mungkin sekadar dinding-dinding kabin yang tegak berdiri.

Kita adalah mereka. Ya, kita mungkin adalah mereka.

Mereka semua terrangkum dalam sebuah kapal perjalanan haji, Makassar – Tanah Suci – Belanda kemudian kembali ke tanah air lagi.

Mereka semua terrangkum dalam sebuah kapal bernama Blitar Holland.

Mereka semua terrangkum dalam kehidupan harmoni.

Dan aku melihat Islam di dalamnya,

Ya, harmoni.

Mereka semua memiliki cerita hidup yang terendap dalam hati, namun kemudian mereka menyerah kepada keadaan, menyerah pada kenyataan, menatap masa depan dan yang paling penting, mereka berserah diri kepada Illahi, berusaha mengembalikan semua pada tempatnya kembali, kemudian berusaha untuk mengubah nasib diri dengan kedua tangan juga kaki.

Mungkin, kita pun harus mencoba, menjadi seperti mereka.

Karena sejatinya, kita adalah mereka yang berada dalam perjalanan haji.

Karena sejatinya, kita tak pernah benar-benar memiliki, apapun itu.

Review on my goodreads