Negeri Penuh Sensasi

Saya pikir negeri yang penuh dengan sensasi hanya ada di Amerika. Ternyata, menurut hemat saya, Indonesia sudah mulai ketularan. Bagaimana tidak, apa sih isu yang gak heboh selama beberapa bulan belakangan ini? Batu akik, heboh. Begal, heboh. Nasi plastik, heboh. Baca al-Quran pakai langgam jawa, heboh. Terakhir, suara pengajian dari kaset dibilang mengganggu, heboh. Dan sepertinya masih banyak kehebohan-kehebohan lainnya (silakan kalau mau menambahkan).

Tak bisa dipungkiri, disengaja ataupun tidak, pemerintah saat ini memang sangat aktif sekali membuat kebijakan-kebijakan yang penuh dengan sensasi. Didukung oleh media-media yang sigap sekali memberitakan mulai dari hal terkecil (yang mungkin tak dibutuhkan rakyat) sampai hal yang besar. Ditambah dengan rakyat yang sangat aktif mengomentari setiap gerak-gerik, tingkah polah para pemimpinnya (di luar pembahasan baik-tidak baiknya pemimpin tersebut).

Kabar berita kini sangat mudah didapatkan, terutama portal berita online, mudah dikomentari, tapi ya sayang, hanya sekadar komentar di dalam kolom yang telah disediakan. Tak jarang, komentarnya malah tidak nyambung dengan isi berita. Sering juga, isi berita tidak singkron dengan judul (headline) berita. Alih-alih ingin menyajikan berita akurat dan cepat, si judul berita malah memicu debat kusir yang tak berkesudahan antara para pembaca yang berkomentar. Ada juga lho, yang belum baca isi beritanya, tapi dengan cepatnya berkomentar lalu membagikan komentarnya di berbagai kanal sosial media. Entah agar disebut apa. Mungkin agar bisa dapat gelar “Pertamax Gan”? ūüėÄ

Terlepas benar atau tidaknya berita, semua lapisan ikut andil dalam menciptakan “negeri penuh sensasi” ini. Pemerintah yang gak kelar-kelar bikin kebijakan atau statement yang membuat rakyat mengernyitkan dahi, media yang sabodo teuing, yang penting berita naik, yang penting berita banyak yang akses dan juga rakyat yang sukanya sebar-sebar berita lalu gemar sekali berkomentar tentang hal yang tak dipahaminya, tak dikuasainya.

Indonesia kini sedang berpenyakit. Tapi entah, apakah dari setiap lapisannya mau sama-sama berobat. Bisa jadi, pemerintah mau sembuh, tapi rakyatnya belum sadar kalau negara ini sakit. Atau sebaliknya, rakyatnya mau berobat, tapi pemimpinnya masih santai-santai saja dan mungkin tak peduli dengan penyakit negeri.

Tanyakan pada diri kita masing-masing, deh! Apakah benar, kita butuh perubahan? Lalu perubahan seperti apa? Janji-janji di mulut manis saja, atau kerja nyata? Ah, bahkan yang katanya kerja nyata-pun kini belum kelihatan hasilnya. Eh, apa kita harus terus bersabar ya? Sabar yang bagaimana?

Janji si Saya

Bismillah…

Mulai bulan Juni ini, saya mengikuti tantangan untuk menulis setiap hari. Berapapun banyaknya tulisan, tidak masalah. Kita ditantang untuk terus aktif menulis dan berbagi setiap harinya. Sebelumnya, saya sudah mengazzamkan diri untuk kembali aktif menulis. Di tahun-tahun sebelumnya, target menulis saya semakin lama semakin berkurang. Sebulan 1 kali postingan itu sepertinya sudah paling oke, padahal itu sangat payah buat yang katanya blogger. Hehe.. Itupun sudah beberapa kali saya langgar, bahkan pernah dalam 3 bulan saya hanya menghasilkan 1 tulisan di blog. Adapun kualitasnya belum bisa ditimbang bagus atau tidak. Payah, sangat payah. Alasannya klise, sibuk dengan dunia saya sendiri dan memang yang paling mempengaruhi adalah rasa malas. Malas membaca, membuat kita malas menulis.

Nah, beberapa hari belakangan ini, saya kembali memaksakan diri untuk giat membaca. Kemudian menuliskan kembali apa yang telah saya baca. Belum sepenuhnya berjalan, karena saya mau paksakan diri untuk membaca dengan tertib. Membiasakannya, lalu menjadi sebuah rutinitas yang harusnya tidak boleh saya lewatkan di manapun dan kapanpun.

Kemudian, begitupun dengan menulis. Seiring dengan adanya tantangan dari seorang blogger di dunia maya beberapa waktu lalu, saya pun bertekad untuk bisa aktif menulis setiap hari. Tantangan menulis setiap hari ini di mulai 1 Juni 2015, alias hari ini dan akan berakhir pada tanggal 30 Juni 2015. Namun bagi saya, tantangan menulis ini akan terus saya lakukan sampai akhir tahun, dengan harapan saya akan terbiasa menulis setiap harinya, dan kemudian menjadi kebiasaan. Sama halnya dengan membaca.

Oke, hari ini cukup menenangkan. Suasana di kantor begitu sepi. Kebanyakan (padahal memang cuma sedikit) rekan kerja saya mengambil jatah cuti ataupun meliburkan diri sendiri. Hujan di siang hari tadi pun membuat suasana jadi lebih adem. Ya.. selamat menikmati hari-hari menyenangkan untuk kita semua.

Buat saya, selamat membaca dan menulis, Niel!