Buya Hamka Sepeninggal Istrinya

Dalam kuatnya Ayah membaca Al Quran, suatu kali pernah aku tanyakan.

“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Quran?” tanyaku kepada ayah.

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah lagi.

[Ayah – Irfan Hamka (hal 212-213)]

Ah, begitu sucinya kisah cinta Buya Hamka dengan Istrinya. Beliau takut cintanya kepada istrinya melebihi cintanya kepada Allah.

Sampai-sampai, saya iri.

Advertisements

Duhai…

Duhai engkau yang berjalan di atas kebenaran

Begitu banyak di luar sana yang sedang mencari-cari di manakah kebenaran itu berada

Begitu banyak di luar sana yang berusaha menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya

Bahkan mereka berjalan sampai begitu jauhnya,

demi mencari tahu darimana kah dirinya berasal,

lalu akan kemanakah dirinya setelah bumi ini benar-benar hancur.

 

Duhai engkau yang menopang amanah risalah

Di setiap diri-diri ini, tertetapkan bahwa diri adalah penerus dakwah

Di setiap jiwa-jiwa ini, tertugaskan untuk memberi petunjuk kepada kebenaran

Di setiap hati-hati ini, terwajibkan agar memberikan nasihat dalam kebaikan

Baik kepada mereka yang belum mengetahui,

pun bagi mereka yang sedang tersesat jalannya,

kemudian itulah nilai diri yang wajib dipertahankan.

 

Duhai jiwa-jiwa yang rela berlelah-lelah

Bukan karena imbalan uang

Bukan karena rayuan jabatan

Melainkan karena cintanya kepada pemilik alam semesta sekalian

Karena rindunya menyongsong kemenangan Islam

Karena inginnya bertemu dengan kekasih Rabb semesta alam

Bersabarlah

Bertahanlah

Berlapang-dada-lah

Bersyukurlah

Allah masih tancapkan hatimu pada tali-tali agama ini.

Semoga menjadi hujjah buatmu di akhirat nanti.