Hari Ini, Bukanlah Segalanya. Tapi…

Kata orang kebanyakan,

Hari ini adalah hari Ibu.

Berarti, buatku, hari ini hari Mama.

Kebanyakan orang, hari ini berlomba-lomba,

Bukan untuk jadi pemenang, tapi untuk jadi yang pertama,

Mengungkapkan perasaan yang selama ini sedikit sekali keluar dari lisannya.

 

Aku percaya, bukan karena mereka tidak merasakannya,

Tapi perasaan yang satu itu, begitu sulit diejawantahkan dengan kata-kata.

Bahkan, tak sedikit dari mereka yang hanya bisa menangis seketika,

Urung mengungkapkannya, sebab tercekat kata-kata di tenggorokannya.

 

Mereka menangis…

Menangis karena begitu dalamnya perasaan yang mereka punya,

Menangis karena mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya,

Menangis karena mengingat kenangan ketika mama sedang bersama mereka,

Menangis karena sedikit sekali waktu bersama dengan mama,

Menangis karena itupun, adalah waktu-waktu sisa.

 

Hari ini bukanlah segalanya,

Tapi hari ini mungkin adalah waktu yang tepat,

Waktu yang tepat untuk memperbaiki apa-apa yang mungkin pernah rusak di antara aku dan mama,

Waktu yang tepat untuk memulai lagi, menata, mempersiapkan waktu-waktu terbaik bersama mama,

Waktu yang tepat untuk menjalani hari agar selalu dalam keadaan mengingat dan mendoakan mama,

Karena yang sebenar-benarnya, mama selalu ada di setiap langkahku.

Karena doa-doa yang kau panjatkan kepada-Nya,

Seperti payung yang melindungi  tubuh dari panas maupun hujan,

Aku menyadari itu, tapi seringkali aku melupakannya.

 

Terima kasih, Mama

Untuk segalanya.

Mohon maaf, Mama

Untuk segalanya.

 

Engkau dan laki-laki yang selalu bersamamu saat ini, seharusnya Bahagia!

Semoga Allah mengampuni dosaku, Mama dan Ayah,

Semoga Allah menyayangi Mama dan Ayah,

Sebagaimana Mama dan Ayah menyayangiku,

Sejak aku hadir ke dunia, hingga saat ini aku merasakannya.

 

@gusfaniie | 21-12-2015 | jatiwaringin

Ayah

Ayah!

Seseorang yang dulu aku panggil, “Apa” (dalam bahasa minang yang berarti Ayah)

Saat pindah ke Ibukota, aku terkena racun, teman-teman sebayaku memanggil Ayah nya dengan sebutan “Papa”. Kupikir, tak jauh berbeda dengan panggilan ku kepada “Apa”. Dikemudian waktu, aku berusaha memanggilnya dengan sebutan “Papa”, dan beliau menjawab “Jangan panggil Papa, karena orang seperti kita, rasanya kurang tepat memanggil dengan sebutan Papa, lagipula aku bukan siapa-siapa”.

Awalnya ku pikir aneh, namun iya jua lah pikirku sejenak kemudian, kami hanya keluarga sederhana. Dan selajutnya aku belajar memanggil “Ayah”, seperti anak bayi belajar berjalan, kadang ku panggil Ayah, kadang ku panggil Papa, kadang kembali ke “Apa” :D.

Ayah?!

Seseorang yang aku tak pernah merasakan kelembutan dari nya, terhitung sejak aku mampu berjalan diatas kaki ku sendiri, mungkin?!

Seseorang yang tak pernah mampu mengungkapkan rasa dengan bicara, tak juga dengan cinta

Jika kalian sering pergi tamasya bersama Ayah, dengan aku tidak begitu

Jika kalian sering diajak bermain meski hanya sesaat sebelum Ayah berangkat bekerja, dengan aku bukan begitu

Jika kalian sering bermanja-manjaan dengan Ayah, dengan aku mungkin bukan tidak begitu

Bukan, tidak begitu?! Continue reading