Memahami Makna Yang Kita Baca (Bag. 2)

Melewati 1 hari tanpa menulis atau memposting tulisan saya di blog. Sebagai gantinya, saya akan tuliskan arti dan sedikit kandungan yang ada dalam beberapa surat pendek yang sering kita baca dalam sholat kita. Surat-surat ini terdapat di juz paling terakhir dalam Al-Qur’an. Juz 30.

Al-Falaq: Waktu Subuh

20150619_151241

Surat ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Fiil. Nama “al Falaq” diambil dari kata al Falaq yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya waktu subuh. Diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi dan An Nasa-i dari ‘Uqbah bin ‘Aamir bahwa Rasulullah saw bersembahyang dengan membaca surat al Falaq dan surat an Naas dalam perjalanan.

Pokok-pokok isinya: Perintah agar kita berlindung kepada Allah s.w.t dari segala macam kejahatan.

Berikut arti ayat per ayat dari surat al Falaq:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

ALLAH PELINDUNG DARI SEGALA KEJAHATAN

  1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh,
  2. dari kejahatan makhluk-Nya,
  3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
  4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul,

Buhul: Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakaukan sihirnya membuat buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan mengehembus-hembuskan napasnya ke buhul tersebut.

  1. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

sekali lagi, surat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memohon perlindungan kepada Allah s.w.t dari segala kejahatan.¹

Dalam dzikir pagi dan petang, surat al-Falaq adalah salah satu surat yang wajib dibaca, ternyata itulah sebabnya dzikir pagi dan petang ini adalah sebagai tameng kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Agar terhindar dari bahaya dan kejahatan, baik kejahatan makhluk maupun jin.

Teman, sudah berapa kali surat ini kita baca namun tak pernah kita ketahui artinya? (penulis menjawab: Hehehe..) Menuliskan ini, tak lain sebagai upaya dalam memahami makna dari apa yang kita baca setiap saat, pagi dan petang, siang dan malam. Semoga mampu menambah kekhusyuk-an kita dalam beribadah terutama saat sholat. Semoga mampu memacu diri untuk terus memohon perlindungan dari Allah dengan membaca surat ini.

[1] Tafsir Al-‘Usryr Al-Akhir

 

Advertisements

Kasih Sayang

Saya mau menulis tentang kasih sayang, tapi bukan kasih sayang antar manusia, saya mau menulis tentang kasih sayang Tuhan. Jadi saya minta maaf kalau ada yang terlanjur mikir saya mau nulis tentang kasih sayang yang lain. Kalian bisa skip tulisan ini.

Menurut hemat saya, kasih sayang Tuhan itu secara simpel dan awam bisa dibagi menjadi dua: pertama, yang diterima oleh semua orang, kedua, yang diterima spesifik oleh orang/golongan tertentu.

Jenis yang pertama adalah yang paling mudah dilihat–meski banyak yang tidak mau melihatnya. Kasih sayang Tuhan yang diberikan tanpa pengecualian. Besar, kecil, tua, muda, mau miskin, mau kaya, mau presiden atau pengemis, semua memperolehnya. Misalnya adalah oksigen. Semua orang bisa menghirup oksigen tanpa kecuali. Juga dalam bentuk air bersih, cuaca cerah, kehidupan yang aman, dan berbagai kasih sayang lainnya. Diberikan gratis–meskipun ada juga yang membuatnya jadi bisnis, atau merusaknya malah menjadi bencana.

Jenis yang kedua adalah yang paling sering disalahpahami–meski penjelasannya ada di mana-mana. Kasih sayang Tuhan yang diberikan secara spesifik. Bukankah ada orang yang kaya-raya di sekitar kita, duhai, keran rezekinya melimpah ruah sementara yang lain kadang netes kadang nggak kerannya. Juga ada orang yang ngetop, menjadi selebritis, semua serba mudah baginya, sementara yang lain, tidak ada yang peduli. Atau ada yang berkuasa, semua tunduk atas perintahnya, sebaliknya ada yang teraniaya di bawah. Ini kasih sayang yang spesifik, hanya dimiliki orang2 tertentu. Kenapa ada orang yang jelas-jelas munafik ternyata dia kaya? Kenapa ada orang yang jelas-jelas jahat, korup ternyata jadi penguasa? Kenapa ada orang yang jelas-jelas memberikan dampak buruk, melanggar perintah Tuhan bagi sekitarnya ternyata justeru memperoleh kasih sayang Tuhan? kenapa orang2 ini justeru tidak disambar petir? Nah, itulah kenapa saya sebut, inilah kasih sayang yang sering disalahpahami.

Ada perokok berat, petantang petenteng bilang, “lihat, saya puluhan tahun merokok, sehat2 saja tuh, malah teman2 saya yang tidak merokok sudah mati duluan semua.” Orang ini fatal sekali salah-pahamnya. Karena sungguh, itulah bentuk kasih sayang Tuhan yang spesifik diberikan kepadanya, diberikan kesehatan meski tiap menit yang bersangkutan merusak dirinya sendiri. Atau dalam kasus lain, ada konser gila-gilaan di sebuah lapangan kota, maksiat terjadi di mana2, mendung gelap yang mengungkung kota ternyata tidak jadi hujan. Padahal kalau hujan, bisa bubar itu konser. Kalau ada penonton konser yang PD sekali sesumbar, “Lihat, nggak jadi hujan, kan? Coba lihat kemarin pas pengajian di mesjid agung. Bubar semua gara-gara hujan.” Itu juga fatal salah-pahamnya. Dia keliru memahami kasih sayang Tuhan jenis ini.

Kenapa Tuhan tetap memberikan kasih sayang ke orang2 yg jahat? Ke israel misalnya, negara mereka kuat, berkuasa, berani sendirian (dengan sekutunya juga sih) menghadapi seluruh umat muslim, kenapa Tuhan tidak menghukum mereka? tidak membela warga palestina yang teraniaya? Bukankah mudah saja kalau Tuhan mau, kirim gempa 10 skala richter di Tel Aviv, habis semua. Kenapa tidak terjadi? Karena itulah misteri kasih sayang Tuhan.

Kenapa orang2 jahat di sekitar kita bisa kaya, berkuasa, dan justeru menjadikan kekayaan dan kekuasaan itu untuk zalim ke sekitarnya? Sebalilknya orang2 taat, alim, justeru tidak kaya, dan jadi sasaran penzaliman. Itu lagi-lagi misteri kasih sayang Tuhan. Jenis kasih sayang kedua ini adalah hak mutlak milik Tuhan. Tidak bisa diprotes-protes.

Maka, sebagai orang yang beriman, adalah tugas kita mengambil setiap hikmah yang berserakan. Mengambil pelajaran dari apapun yang tertulis di sekitar kita. Sehingga kita tidak salah paham atas jenis kasih sayang ini dengan prasangka sendiri, penilaian sendiri. Karena ingatlah selalu, apa-apa yang terlihat baik, belum tentu baik bagi kita, dan apa-apa yang terlihat buruk, belum tentu benar buruk bagi kita. Ingatlah selalu, bentuk kasih sayang yang hakiki itu mengambil wujud sejati, jika kita gagal memahaminya di atas dunia ini, kelak di hari penghabisan akan terjelaskan.

Apakah hidup kita saat ini susah? beban pikiran menghimpit? Galau? Banyak pekerjaan tidak selesai? Hutang menumpuk? Masalah muncul di mana2? Pertengkaran? Dikhianati? Disakiti? Jika iya, ayo, pejamkan mata sejenak, dengan segala persoalan tersebut, yakinlah sungguh kasih sayang Tuhan selalu dekat dengan kita. Jika kita tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang. Cobalah meiihatnya dengan mata lain, yang boleh jadi tidak pernah kita gunakan. Lihatlah dengan mata hati kita 

Selamat mencoba.

– Tere Liye

Note: Karena setuju dengan tulisan di atas, karena saya terus belajar memahami dari tulisan di atas, karena suka, saya salin ulang ke blog ini.

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.

—Tere Liye, novel ‘Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

Televisi

Hari sudah larut, aku masih saja termenung memandangi potret seorang lelaki. Tampan, bersahaja dan juga bergaya. Bukan siapa-siapa, padahal lelaki itu hanyalah seorang Penyanyi luar negeri. Matanya agak sipit, belum lagi saat ia tersenyum, hampir tak tampak bola matanya.

Kenapa aku begitu bersikeras memasang foto  terbesar Penyanyi itu? Karena aku sangat ingin berjumpa dengan Idolaku itu. Ia kini sedang naik daun, tak sedikit wanita yang berusaha keras untuk mendapatkan tiket berbayar apalagi GRATIS untuk bertemu langsung dengannya. Teman-teman ku contohnya, ia rela menghabiskan waktu berjam-jam didepan komputer, sambil berlomba-lomba me retweetinfo2 dan juga berbagai macam quis yang di adakan oleh beberapa perusahaan media.

Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku pun mempunyai tujuan yang sama dengan mereka?.  Benar, benar sekali. Lalu mengapa aku tak melakukan hal yang sama dengan teman-teman ku?. Ayah berjanji ingin membelikan tiket untukku, meski bukan yang VVIP, tak mengapa, aku akan sabar menunggu janji Ayah.

————————————————————————————————————————- Continue reading