Duhai…

Duhai engkau yang berjalan di atas kebenaran

Begitu banyak di luar sana yang sedang mencari-cari di manakah kebenaran itu berada

Begitu banyak di luar sana yang berusaha menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya

Bahkan mereka berjalan sampai begitu jauhnya,

demi mencari tahu darimana kah dirinya berasal,

lalu akan kemanakah dirinya setelah bumi ini benar-benar hancur.

 

Duhai engkau yang menopang amanah risalah

Di setiap diri-diri ini, tertetapkan bahwa diri adalah penerus dakwah

Di setiap jiwa-jiwa ini, tertugaskan untuk memberi petunjuk kepada kebenaran

Di setiap hati-hati ini, terwajibkan agar memberikan nasihat dalam kebaikan

Baik kepada mereka yang belum mengetahui,

pun bagi mereka yang sedang tersesat jalannya,

kemudian itulah nilai diri yang wajib dipertahankan.

 

Duhai jiwa-jiwa yang rela berlelah-lelah

Bukan karena imbalan uang

Bukan karena rayuan jabatan

Melainkan karena cintanya kepada pemilik alam semesta sekalian

Karena rindunya menyongsong kemenangan Islam

Karena inginnya bertemu dengan kekasih Rabb semesta alam

Bersabarlah

Bertahanlah

Berlapang-dada-lah

Bersyukurlah

Allah masih tancapkan hatimu pada tali-tali agama ini.

Semoga menjadi hujjah buatmu di akhirat nanti.

Advertisements

Jadikah Hidup Lebih Berwarna

Libur ternyata mempengaruhi mood untuk menulis (alasan) Haha… Tapi memang benar (pembenaran). Apalagi kalau di rumah keadaannya sedang ramai, banyak bocah pun… INI serius alasan. Berarti saya punya 3 hutang menulis sampai hari ini. Untuk itu, kali ini akan saya bayar dengan tulisan (ulang) tentang #NgajiHikam dari akun twitter Pesantren @sidogiri. Akun ini aktif memberikan kajian #NgajiHikam setiap harinya. Nah, karena 2 hari kemarin saya tidak menulis, minimal saya membaca lah ya. Maka, berikut hasil kultwit tentang #NgajiHikam.

Judulnya begini: Jadikan Hidup Lebih Berwarna

“Ketika alur hidup yang menyenangkan sudah tidak membawa ketenangan, ternyata kegalauan malah jadi jalan keluar yang positif.”

Hidup dengan kekayaan yang melimpah, atau hidup serba melarat penuh musibah, dalam perspektif manusia sebenarnya sama saja: relatif. Pola hidup kaya belum tentu menjamin ketenangan hati, sebab harta pasti akan jadi hantu bagi pemiliknya. Kekayaan kadang menjerumuskan. Begitu pula hidup miskin, bukan jadi pemicu kegalauan hati, sebab terlepas dari tanggungjawab harta justru jadi solusi hidup yang paling baik. Tapi tidak bagi Muslim yang mampu menalar hakikat takdir dengan benar. Bagi mereka, segala macam bentuk kehidupan adalah baik. Hidup miskin ataupun kaya, sama-sama punya posisi positif & nilai hikmah yang mendalam di setiap episode. Allah pasti menakdirkan yang terbaik.

Pertanyaanya, mengapa Allah tidak menakdirkan semua Muslim jadi kaya raya saja; agar mereka hidup tentram; agar mereka hanya fokus ibadah? Sebagaimana penjelasan tadi, Anda tidak bisa memvonis hidup kaya sebagai jalan baik, sedang hidup miskin sebagai jalan buruk. Salah kaprah. Sebab jika seumur hidup Anda ditakdirkan kaya, bisa jadi Anda malah melupakan Allah, lantaran sibuk memprosentase harta sendiri. Atau malah Anda akan menantang takdir, mengira bahwa kekayaan Anda itu adalah hasil jerih payah Anda sendiri. Bukan pemberian Allah. Bagi mereka yang tidak bisa bersabar, sepanjang umur hidup dalam kemiskinan juga tidak terlalu memotivasi, sebab akan memicu pesimisme.

Beruntung sekali Allah mengatur hidup ini sesuai dengan siklus kita sendiri: di satu waktu Anda susah, di waktu lain Anda senang. Akal manusia awam mungkin saja tak bisa menalar kebaikan di setiap takdir Allah. Yang jelas, setiap peristiwa pasti ada hikmah baiknya. Musibah, bagi muslim yang cerdas, bisa berarti peringatan: sudah waktunya ia kembali mendekatkan diri pada Allah & memohon ampunan-Nya. Bagi mereka, musibah bisa berarti pukulan keras: ialah saat mereka mulai melupakan Allah. Mengisyaratkan bahwa takdir tidak bisa diterobos. Maka ketika Allah menimpakan musibah, Anda jangan langsung pesimis. Anda harus optimis, seberat apapun problem yang Anda hadapi.

Sebaliknya, senikmat apapun hidup Anda sekarang, jangan buat mata hati Anda kalap lalu buta. Dunia akan menyeret ketenangan hidup Anda. Pasrahkan nasib Anda hanya kepada Allah; harus husnudz-dzan. Biarkan Allah yang menentukan takdir untuk kebaikan masa depan Anda kelak.

Nah, demikian ngaji hikam di sore hari, Ahad kemarin, 21 Juni 2015.

Simple, tapi ngena’ sih kalau menurut saya. Ternyata benar, kaya dan miskin itu bukan ukuran kita bahagia atau tidak. Tapi cara kita menyikapinya-lah yang membuat kita lebih berharga di mata Allah. Kaya dan miskin, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Karena bagi Muslim yang pemahamannya benar, keduanya adalah cobaan/ujian sekaligus solusi dalam kehidupan.