Duhai…

Duhai engkau yang berjalan di atas kebenaran

Begitu banyak di luar sana yang sedang mencari-cari di manakah kebenaran itu berada

Begitu banyak di luar sana yang berusaha menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya

Bahkan mereka berjalan sampai begitu jauhnya,

demi mencari tahu darimana kah dirinya berasal,

lalu akan kemanakah dirinya setelah bumi ini benar-benar hancur.

 

Duhai engkau yang menopang amanah risalah

Di setiap diri-diri ini, tertetapkan bahwa diri adalah penerus dakwah

Di setiap jiwa-jiwa ini, tertugaskan untuk memberi petunjuk kepada kebenaran

Di setiap hati-hati ini, terwajibkan agar memberikan nasihat dalam kebaikan

Baik kepada mereka yang belum mengetahui,

pun bagi mereka yang sedang tersesat jalannya,

kemudian itulah nilai diri yang wajib dipertahankan.

 

Duhai jiwa-jiwa yang rela berlelah-lelah

Bukan karena imbalan uang

Bukan karena rayuan jabatan

Melainkan karena cintanya kepada pemilik alam semesta sekalian

Karena rindunya menyongsong kemenangan Islam

Karena inginnya bertemu dengan kekasih Rabb semesta alam

Bersabarlah

Bertahanlah

Berlapang-dada-lah

Bersyukurlah

Allah masih tancapkan hatimu pada tali-tali agama ini.

Semoga menjadi hujjah buatmu di akhirat nanti.

Advertisements

Pemimpin Tak Takut Media

Dahulu, penyair adalah orang yang paling berpengaruh untuk mengangkat dan sekaligus menghancurkan citra pemimpin. Maka siapapun yang ingin memiliki kekuasaan pada masa itu, haruslah menjaga hubungan dengan para penyair. Jika diibaratkan, jaman sekarang penyair itu layaknya media. Mereka bisa saja menaikkan citra para pemimpin dengan syair-syair mereka, namun sebaliknya, mereka pun bisa dengan mudah menjatuhkan citra pemimpin tersebut, maka penyair cukup ditakuti oleh pemimpin saat itu. Biasanya setelah ada pemimpin yang menjabat, para penyair ini berdiri di depan istana seperti mengantri sembako, atas puisi/syair ‘kebaikan’ yang mereka buatkan untuk sang pemimpin.

Suatu ketika, saat Umar bin Abdul Aziz baru menjadi pemimpin, para penyair itu tidak berani melakukan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Namun, ada 1 penyair yang meminta masuk untuk menemui Umar bin Abdul Aziz. Ia berkata kepada penjaga istana “Saya musafir, saya butuh makan  & ongkos untuk pulang”. Setelah dimintain persetujuannya, maka Umar bin Abdul Aziz pun memperbolehkan penyair itu masuk. “Kau penyair yang membuat syair/puisi yang begini dan begitu?” Tanya Umar. “Iya”, jawab penyair. Lalu Umar bin Abdul Aziz berkata “Aku tidak takut dan tidak peduli dengan syair-syair mu, sekarang apa maksud kedatanganmu?”. Penyair itu menjawab, “Aku sedang safar, dan aku butuh ongkos untuk kembali pulang”. Kata Umar, “Untuk syair-syairmu, aku tak punya apa-apa, tapi untuk safarmu, aku akan berikan dan aku ambil dari gajiku”. (Ini artinya, Umar bin Abdul Aziz tidak mau pakai uang negara untuk membiayai penyair yang mengaku sedang safar). Setelah penyair itu keluar dan ditunggu oleh kawan-kawan penyair lainnya, lalu mereka bertanya, “bagaiamana?”. Lalu penyair itu berkata, “Sudahlah, pemimpin ini adalah pemimpin yang memberi karena kita miskin, bukan karena syair-syair kita”.

Semenjak itu, tradisi penyair-penyair yang mengantri di depan istana dan menunggu jatah dari pemimpin itu terhapuskan.

Beginilah Umar bin Abdul Aziz, ia yang memang tidak punya track record jelek dan memang dikenal baik oleh masyakarat, dia tidak akan pernah takut dengan syair-syair yang dibuat oleh para penyair tentang dirinya. Karena memang tak ada hal buruk yang dapat mereka buatkan syair untuk Umar bin Abdul Aziz.

Masihkah ada pemimpin yang tak takut “media” seperti Umar bin Abdul Aziz ?

Kebaikannya dikenal oleh masyarakat/rakyatnya, bukan karena berita yang dibuat-buat. Kebaikan yang dibuat bukan juga sebagai bahan untuk membangga-banggakan dirinya.