Gojek dan Jomblo

Setelah beberapa hari lalu heboh dengan salah satu aplikasi android yg menyediakan jasa ojeg berbasis online, nampaknya semakin banyak pengguna android yg tertarik untuk menggunakan aplikasi tersebut. Ditambah dengan promo murah yang ditawarkan oleh Gojek selama bulan Ramadhan ini, cukup membuat Gojek semakin diserbu oleh masyarakat, terutama pengguna jasa ojeg reguler *halah reguler* dan tentunya oleh para jomblo. Apah?! Jomblo??

Eits, kamu jomblo?! Santai dulu aja, lagi puasa kan?! Hahaha 😀

Mong-ngomong soal jomblo nih.. Ada fenomena lucu yang saya temukan berkaitan dengan Gojek dan Jomblo.

Singkat cerita, kedua teman wanita saya di kantor akhirnya menginstall aplikasi Gojek di HP android mereka. Cerita pertama datang dari salah seorang teman saya yang lebih tua dari saya *dikit doank sih*.

“Tadi kan gw berangkat ke kantor naik Gojek, trus gratisan gitu, karena Gojek lagi promo. Gw pikir gak ada Gojek di deket rumah gw, ternyata ada. Trus pas udah gw order, kan keliatan tuh driver gojeknya udah sampai mananya, pas udah mau deket banget sama rumah, gw sama adik gw yang orderin gojek tadi, panik. Gak tau kenapa gw deg-deg-an, padahal mah biasa aja harusnya yak. Hahaha”

Cerita lainnya yang paling bikin saya gak bisa nahan ketawa, cerita pengalaman naik Gojek dari teman wanita saya yang jauh lebih muda dari saya. Awalnya, dia menggunakan jasa gojek di siang hari, dari kantor menuju kampus (daerah Tendean), kesannya adalah “rada ngeri sih, aku takut bayarnya sesuai tarif yang berlaku, ternyata beneran lagi promo, jadi aku bayarnya 10 ribu deh”.

Selang beberapa hari, saya dan 3 orang teman kantor lainnya makan di sebuah restoran. Nama mereka adalah Mega, Dian dan Demit.Akhirnya, teman saya yang muda tadi memesan Gojek lagi.

“Kak, aku naik Gojek aja apa yah?”, tanya Dian meyakinkan diri.

“Yaudah, nih pesen pake punya gw aja, gw pesenin langsung aja ya, udah mau pulang kan?”, jawab Mega.

Beberapa menit kemudian.

“Coba cek ah, Gojeknya udah sampe mana”, Mega inisiatif.

“Ih, kakak… kasih tau kalau udah deket ya.. ih kakak.. kok aku deg-deg-an sih ini..” cerocos Dian.

“Yaa Dian… dijemput Gojek aja udah Deg-deg-an gitu, gimana kalau dijemput sama suami nanti yak!”, saya nyeletuk.

Mega, Demit dan Saya tertawa bersama :))

Telepon masuk dari sang Gojek

“Nih, Dian… angkat! Gojeknya nelpon.” kata Mega sambil sodorin HPnya.

*setelah Dian selesai menjawab telepon dari Gojek*

“Ih, kak.. aku deg-deg-an… gimana donk… tadi tukang gojeknya ngomongnya masa pake aku-kamu gitu”, Dian makin panik dan deg-deg-an.

“Waaaa… Dian.. lumayan tuh, siapa tau Gojeknya jodohnya Dian.. hahaha”, saya jawab sekenanya.

Mega, Demit, Saya dan Dian menuju luar restoran untuk pulang dan mengantarkan Dian ke Gojek.

JRENG!!!

“Dian, itu gojeknya kok kayak bapak-bapak gitu yak?! Itu tadi ngomongnya aku-kamu sama Dian? Hahhaa.. yang sabar aja ya Dian…” komentar saya sambil nahan ketawa cekikikan bersama Mega dan Demit.

*kemudian kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing

Keesokan harinya, Dian curhat.
“Ternyata tukang Gojeknya bawel, ngomong mulu, aku jadi bete…” cerita Dian.

Meski begitu, tetap saja Dian selalu deg-deg-an tiap dijemput oleh tukang Gojek.

Trus, gimana ya dengan teman-teman yang lain yang juga menggunakan jasa Gojek? Deg-deg-an juga gak? :))

Buah dari Iman adalah Ukhuwah

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Berbagi kisah yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman semua. Jika sudah pernah membacanya, rasanya tak ada salah untuk membacanya lagi, karena ini adalah kisah di mana buah-buah keimanan kita diperlihatkan.

Umar Bin Khathtab pernah berkata: Aku tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini, kecuali karena tiga hal:
1. Keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya.
2. Repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail.
3. Dan indahnya bertemu dengan sahabat-sahabat seiman.

Mungkin kisah berikut ini mampu mengawal perasaan kita. Betapa ukhuwah itu merupakan penanda iman kita.
Semenjak Rasulullah SAW wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: ‘Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah SAW saja. Rasulullah SAW telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi’.

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah SAW terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah. Dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah SAW hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: ‘Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini? Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW.

Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah SAW. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah SAW, pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah SAW tersebut. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, ‘Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.’

Ketika itu, Umar bin Khathtab yang telah menjadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja. Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah SAW, Umar bin Khathtab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah SAW diantara mereka. Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah SAW wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Bayangkan kita seolah sedang hidup bersama di tengah-tengah mereka. Hamba-hamba Allah yang selalu terhubung dengan langit dan merasakan “indahnya ukhuwah dalam kebenaran dan kemuliaan.” Maka jika masih ada batas dalam perjalanan ukhuwah kita, bisa dipastikan kita telah gagal menggenggam makna ukhuwah yang sebenarnya.

Ada sebuah nasihat dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah:

Ukhuwah itu hanya sekedar buah dari keimanan kita kepada Allah.

Jadi jika ukhuwahnya bermasalah mari kita evaluasi keimanan kita kepada-Nya. Efek dari hubungan baik kita dengan yang ada di langit secara langsung berefek pada baiknya keterhubungan kita dengan bumi.

Dalam sebuah kutipan ada yang mengingatkan kepada kita:

Sebesar cintamu pada Allah, sebesar itu pula cinta orang lain kepadamu. Sebesar ketakutanmu akan murka Allah, sebesar itu pula keseganan orang lain terhadapmu. Sebesar kesibukanmu pada Allah, sebesar itu pulaorang lain sibuk untukmu. (Kutipan Al-Mughirah)

Begitu juga dalam Ayat Al-Qur’an:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.“ (QS. Al-Hujurat: 10)

Hati yang beriman adalah hati yang indah, disebabkan dalam hati mereka selalu tersambung dengan Allah dan selalu meneladani Rasulullah SAW.

Hati yang indah adalah hati yang selalu mengulurkan rasa cinta kepada sesama.

Hati mereka selalu tunduk pada Allah dan Rasulullah SAW, sehingga mudah tunduk pada ukhuwah, meski dengan berbagai perbedaan yang ada.

Dan rendahkanlah dirimu bila bersama orang mukmin. Kita diminta berendah hati bila kita mau meneladani Rasulullah SAW.

Karena ketika kita merendah kita tak akan mudah terjatuh. Dan bila sampai terjatuh tak begitu terasa sakit.

Maka -mungkin secara ekstrim bisa dikatakan-:

Tak perlu menjaga ukhuwah, karena ukhuwah hanya akibat (buah) dari iman.

Wallahu a’lam bishawab…

Semoga ukhuwah kita yang terjalin diakibatkan oleh iman yang ada di dalam hati-hati kita,
Aamin….

Salam Ukhuwah Fillah

Diambil dari buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” Karya Ust. Salim A Fillah